
Di pesisir Pantai Cilacap, telah bersiaga ratusan para Prajurit Mataram, Kapal-kapal sudah bersiap di dermaga, Ki Wisesa dan Raden Sangaji telah kembali membawa serta prajurit yang tangguh.
Mereka tidak langsung menyerang, dengan sengaja mengulur waktu dan berusaha memblokade setiap jalur masuk atau keluar Pulau Nusakambangan.
Ada beberapa Kapal yang bersiaga di tengah laut, guna mencegah para perompak itu beraksi, Ki Wisesa pun turut serta dengan salah satu Kapal yang melakukan pengamanan, sementara itu Raden Sangaji beserta Ki Sampang berada di Kapal.yang lain.
Kapal yang membawa para perompak dengan di bawah pimpinan Rakyan mulai melakukan pelayaran dan melakukan manuver-manuver memancing Kapal yang sedang berpatroli memperhatikan mereka.
Di anjungan terlihat sebuah meja dan kursi yang menghadap ke arah laut, Rakyan duduk di sana tanpa di temani oleh siapapun, dia meminum tuak di bawah angin laut yang kencang sambil memperhatikan para anggotanya.
Terdengar suara salah satu anggotanya yang berdiri di atas tiang layar, "Tuan Rakyan! ada Kapal yang mulai mendekat ke kita dari arah lambung kanan, apa yang harus kita lakukan?"
"Cikar Kiri!.. arahkan ke selatan menentang ombak!" Rakyan berdiri sambil mengawasi.
Semakin lama Kapal itu mulai mendekat dari lambung kanan tetapi tetap mengambil jarak dari mereka.
Kedua Kapal mulai melakukan posisi berputar, gelombang kencang mulai menerpa lambung Kapal keduanya, membuat para awak yang berada di dalam kapal merasakan ketegangan.
Rakyan bersandar di kursinya sambil tetap meminum tuak dari kendi yang berada di atas mejanya. Adiraja merasakan ketegangan yang teramat sangat, karena ia mengetahui Kapal yang berada dekat mereka adalah Kapal milik Pasukan Mataram.
"Tuan Rakyan! Ap...., belum sempat Adiraja melanjutkan kalimatnya, bentakan dari Rakyan terdengar keras "Diam kau! aku tidak suka orang yang banyak bicara sepertimu!...Adiraja langsung diam dengan rasa kesal di dadanya.
Ki Wisesa yang berada d posisi Kapal yang sedang mengawasi, melihat Kapal yang berada di depannya, ia merasa yakin bahwa kapal itu milik para perompak.
"Prajurit! tembakkan panah sandi ke atas, kita tunggu jawaban mereka, apakah mereka dari sekutu kita atau bukan!"
"Siaap Ki!"... salah satu Prajurit membentangkan busurnya dan menembakan anak panah sandi ke arah atas...Sraaaath.....!"
__ADS_1
"Tidak ada jawaban dari mereka Ki!"....
Ki Wisesa bersiap dengan berdiri di Anjungan, posisi tertinggi di atas Kapal. "Hmm...mereka bukan sekutu kita, aku bisa memastikan mereka adalah para perompak yang akan beraksi! bidik dengan panah api tiang layar mereka!"
"Sraaath....Sraaaath....Sraaath..! ratusan anak panah melesat deras ke arah Kapal yang di pimpin Rakyan.
Di atas Kapalnya terlihat Rakyan berdiri masih dengan salah satu tangannya memegang Kendi Tuak, "Hiaaaat....dengan satu tangan yang di pukulkan ke atas muncul serangkum angin kencang melesat menyambut anak panah yang sedang meluncur menyerang.
'Praaaash...praaash...anak-anak panah yang sedang meluncur deras menjadi rontok dan jatuh ke permukaan air laut. Beberapa kali anak panah di lepaskan, beberapa kali pula berakhir di tengan jalan dan jatuh ke permukaan laut.
"Tiba saatnya kita yang menyerang!' Rakyan berdiri di tepi kapal, di lemparkannya kendi tuak kemudian kedua tangannya mengangkat ke atas, butiran-butiran air laut mulai terangkat ke atas, melebihi ketinggian permukaan Kapal mereka, "Hiaaaath.....Braaaash....Braaash...!...ratusan atau mungkin ribuan butiran air laut yang sebelumnya melayang, setelah Rakyan melakukan gerakan mendorongkan kedua tangannya melesat laksana anak panah yang terlepas dari busur, menghantam lambung kapal yang membawa para prajurit Mataram menjadi berlubang dan pecah.
Sorak sorai dari para perompak terdengar setelah melihat aksi dari pemimpinnya, ketegangan yang tadi sempat membelenggu mereka menjadi pecah di gantikan suara-suara yang bersemangat.
"Adiraja, Sandarkan kapal kita ke kapal mereka!" Rakyan berteriak memberikan perintah, setelah kedua kapal merapat, terjadilah pertempuran antara kedua pasukan.
"Hiaaat..Craaash...Craaash...., gerakan Rakyan sangat cepat, tebasan-tebasan pedangnya mengarah ke titik maut. mayat-mayat mulai bergelimpangan dari kedua belah pihak.
Dari pihak pasukan Mataram, Ki Wisesa pun membawa trisula yang menusuk dengan ganas ke arah para perompak, semakin lama kedua pimpinan pasukan itu kini mulai berhadapan.
"Sraaath....Traaang...Traaang!...Trisula Ki Wisesa dan pedang Rakyan saling berbenturan, sampai muncul percikan api di antara senjata mereka.
""Haash....tenaga dalamnya sangat kuat sekali", Ki Wisesa terdorong sampai membentur dinding kapal yang berada di buritan.
Tebasan-tebasan dari Rakyan tiada henti, terus memburu Ki Wisesa yang mulai terdesak.
Beberapa luka sayatan pedang mulai menghiasi sekujur tubuh Ki Wisesa.
__ADS_1
Rakyan menghentikan serangannya dan berkata kepada Ki Wisesa "Kisanak...apakah kau tidak berniat menghentikan pertarungan ini, kemampuanmu jauh berada di bawahku!"
Ki Wisesa hanya tersenyum dan balas menyahut.." Prajurit menghentikan serangan saat dirinya mati atau lawannya mati! pantang bagi kami sebagai prajurit Mataram menghindari pertempuran!"
Adiraja menyaksikan pertarungan keduanya, baru saat ini dia menyadari, ternyata Rakyan adalah ahli strategi pertempuran di laut sekaligus ahli bermain pedang.
"Hiaaaath....!..."Terdengar teriakan Rakyan yang menggelegar, bilah pedangnya menyambar-nyambar secepat kilat, "Craaash..Craaash..Jlebbbh...ujung pedang Rakyan berhenti tatkala masuk menusuk jantung, menghentikan gerakan perlawanan dari Ki Wisesa.
Darah mengalir dari batang pedang Rakyan, Ki Wisesapun berlutut dengan menyangga Trisula membuatnya tidak terjatuh ke lantai kapal...
Para pasukan kedua belah pihak menghentikan serangan, mereka menyaksikan akhir dari pertarungan kedua pemimpinnya.
"Sraaath...pedang tercabut dari dada Ki Wisesa, membuat darah mengalir lebih cepat.
Senyum Ki Wisesa masih mengembang di mulutnya sambil melelehkan darah segar. "Pengabdian terakhirku untuk bumi Mataram!"....
"Hiaaath....Sraaath...Craaash...Rakyan mengayunkan pedangnya, membuat leher Ki Wisesa terpenggal, darahnya mengalir menandakan gugurnya salah satu prajurit terbaik Mataram.
Melihat jiwa patriot yang di perlihatkan Ki Wisesa, Para Prajurit Mataram tidak ada yang mau menyerah, mereka bertarung sampai titik darah penghabisan.
Sebuah Kapal pengawas tenggelam beserta mayat-mayat yang berada di dalamnya, Rakyan kemudian memerintahkan Kapal yang di tumpanginya kembali berlayar menuju Nusakambangan.
Adiraja beserta pasukan yang berasal dari para perompak menarik nafas lega dengan penuh kemenangan, mereka tidak menghiraukan beberapa Kapal lain yang mulai mencoba mengejar.
"Tuan Rakyan, di belakang kita masih ada Kapal yang mengikuti! apa perintahmu selanjutnya?" Adiraja terlihat melaporkan situasi sambil membungkukan badannya penuh hormat.
"Tenang saja, kecepatan dan arah angin membantu kecepatan Kapal kita, tidak mungkin mereka bisa mengejar! pasang kembali layar utama!"..
__ADS_1
Beberapa anak buahnya menaikan layar besar, membuat kecepatan kapal semakin bertambah kuat.