Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kembang Wijaya Kusuma V


__ADS_3

"Wiratama, jangan kau gentar menghadapi angkara murka di dunia ini, teguhkan tekadmu! selagi kau masih berpegang kepada kebenaran, yakinlah semuanya akan berakhir dengan baik!"


"Resi, aku mohon petunjukmu! apa yang harus ku lakukan?"


"Aku akan membantumu Wira, sementara waktu tinggallah bersamaku, kita akan berusaha memaksimalkan semua ilmu kedigjayaan yang kau miliki, hanya itu yang bisa kita lakukan sebagai manusia, dan masalah hasil perjuangan, kita serahkan kepada Yang Kuasa!"


"Terimakasih Resi, aku akan mengikuti petunjukmu!"


"Wira, untuk menyempurnakan Tirta Wening yang berada di dalam tubuhmu, mulai sekarang bersemedilah di atas Batu Mustika Kencana yang berada di dalam, lepaskan seluruh pakaian dan senjatamu!"


Malam harinya, Wiratama mulai bersemedi di atas Batu Mustika Kencana, ia duduk bersila, mengatur nafas, pikiran dan hati di selaraskan menjadi satu.


Di saat Wiratama duduk bersila, Resi Bambang Ekalaya memutari tubuh Wiratama sambil merapalkan do'a dan kata-kata sakral suci yang keluar dari mulutnya.


Kabut tipis memasuki ruangan yang telah di khususkan untuk Wiratama yang sedang bersemedi, Kabut-kabut tipis mulai memasuki tubuh Wiratama melalui lubang pori-pori dalam tubuhnya, semakin malam kabut-kabut yang masuk semakin banyak bergumpal, berebut menyatu dengan Wiratama.


Wiratama merasakan sensasi yang belum pernah di rasakannya. Tulang-tulangnya bergemeretak seakan-akan sedang bertambah besar, bunyi derak terdengar dari beberapa sambungan sendi tulangnya.


Rasa sakit yang luar biasa tidak membuat Wiratama mengeluh dan bersuara, semakin lama keluarlah butiran keringat dari seluruh tubuhnya, membasahi Batu Mustika Kencana yang sedang di dudukinya.


Butiran keringat kemudian menjadi butiran-butiran merah darah yang keluar dari seluruh lubang tubuh Wiratama.

__ADS_1


Bukan hanya tubuhnya yang kini seperti mandi darah, rambutnya yang panjangpun basah oleh butiran-butiran darah yang keluar dari kulit kepalanya.


Tepat pada saat fajar mulai terlihat, tubuh Wiratama jatuh terlentang di atas Batu Mustika Kencana.


Resi Bambang Ekalaya kemudian berhenti memutari Batu, membiarkan tubuh Wiratama tetap terlentang, dan ia pun duduk di serambi pondoknya.


Pada hari yang kedua dan ketiga, semuanya tetap di lakukan, sampai dengan hari yang ke empat, terdengar teriakan jerit kesakitan dari mulut Wiratama...."Aaaaakhhh!.....


Batu Mustika Kencana yang besar dan berat, dengan mudah kemudian di dorong dan di geser oleh Resi Bambang Ekalaya. sampai tubuh Wiratama sejajar dengan pohon yang berada di atasnya.


Tepat tengah malam, sekuntum bunga berkelopak hitam mekar dari pohon yang berada di atas tubuh Wiratama, kemudian jatuh melayang tepat berada di kening Wiratama.


Cahaya keemasan mulai memedar ke sekeliling ruangan, tubuh Wiratama melayang di atas Batu Mustika Kencana. perlahan-lahan kemudian turun kembali.


Pada hari selanjutnya Wiratama siuman dari ketidak sadarannya, kemudian turun dari Batu Mustika Kencana dan berpakaian kembali.


Wiratama terbangun tepat pada hari ke Tujuh semedinya, Resi Bambang Ekalaya telah mempersiapakan beberapa makanan di meja depan pondoknya guna menyambut berakhirnya Wiratama bersemedi.


"Wira, tidak banyak orang yang bisa menyatu dengan Wijaya Kusuma, kecuali para Raja di tanah Jawa, kau adalah pengecualian karena jalan takdirmu akan menghadapi rintangan yang berat!"


"Menetaplah Tiga hari lagi di sini untuk mempersiapkan semuanya Wira!"

__ADS_1


"Baik Resi, aku akan menunggu petunjukmu selanjutnya!"


** Goa Ratu **


Di dalam Goa Ratu, tempat pertemuan para pimpinan perompak , terlihat Ki Badra dan Nyai Seruni sedang menghadapi beberapa orang yang berpenampilan aneh dan menyeramkan.


"Kakang Moksa, Kakang Songgo Langit dan Dimas Rakyan, selamat datang di Kerajaan kecil kita!" terlihat Ki Badra memeluk mereka bertiga dengan wajah berseri-seri.


"Hua...Ha...Ha...Badra, Terimakasih kau telah melepaskan kami dari belenggu keparat yang menyiksa selama puluhan tahun di pulau ini, kebebasan ini akan aku bayar dengan setimpal Badra!"


Moksa Jumena, tokoh hitam dari Alas Bondowoso, yang telah di pasung oleh Panembahan Senopati di Goa Batu Nusakambangan selama 10 tahun kini telah di bebaskan oleh Ki Badra.


Dia bersama Songgo Langit pernah ikut membantu pemberontakan di Kertosono dan menewaskan ratusan Prajurit Mataram.


"Adi Songgo Langit, apakah kekuatanmu masih seperti dulu?" Ki Moksa Jumena melirik Songgo Langit yang duduk di sampingnya.


"Aku tidak tahu Kakang, selama ini tangan dan kakiku di pasung dengan Kayu Setigi, makan dan minumku hanya dari embun dan binatang yang terbang dan yang mendekat sekitar tubuhku, entah apakah kekuatanku masih seperti dulu, aku belum mencobanya!"


Nyai Seruni kemudian menyahut " Aku masih mempercayaimu Kakang Songgo Langit, tetapi saat ini kalian beristirahatlah, belum waktunya menampakan kekuatan dan kesaktian kalian...


Songgo Langit tidak menghiraukan ucapan Nyai Seruni, dia berdiri kemudian keluar dari Goa Ratu, akhirnya yang lainpun mengikuti langkah Songgo Langit keluar.

__ADS_1


Setelah sampai di pelataran luas, Songgo Langit mengambil sikap berlutut dan menyanggahkan kedua tangannya ke atas...


"Hiaaaath!.......Di saat kedua tangan Songgo Langit di angkat ke atas, permukaan tanah seperti terkena Lindu atau Gempa, "Braaakh....Braaakh....!!! Pohon-pohon Beringin yang berada di depan Goa Ratu terangkat dan tercabut bersama akar-akarnya dan melesat jauh ke arah hutan....terdengar suara keras saat kembali jatuh ke tanah...Bhuuuum....Bhuuummmh...!!!!


__ADS_2