
"Hamba pernah menjadi pimpinan pasukan keamanan di daerah Kertasuro Gusti! dan pernah menjalani pertempuran melawan perampok-perampok dari Bukit Tidar" saat berkata demikian, Arya Permana sedikit membusungkan dada, karena sidang itu di saksikan para bangsawan yang mempunyai kedudukan di kerajaan.
__ADS_1
Tanpa khawatir dengan para pejabat yang lain, Panglima Utama Mandala Putra terbahak-bahak tertawa, "Ha...ha...ha, menjadi pimpinan pasukan keamanan? apa aku tidak salah dengar? sebagai Panglima Muda wilayah barat, kau hanya mempunyai pengalaman sebagai pimpinan keamanan pasukan yang kecil, dan pengalaman tempurmu hanya menghadapi para perampok? pantas saja kau tak becus untuk memimpin pasukan tempur yang besar", Ini adalah kerajaan Mataram, kerajaan yang besar, kemudian Panglima Mandala Putra melihat ke sekelilingnya, "aku mengingatkan diri sendiri dan semua yang ada disini, "tidak ada Harimau-harimau yang mau berdiri di belakang Kerbau", setelah berkata demikian Panglima Mandala Putra duduk kembali.
__ADS_1
Seseorang yang mungkin mempunyai kedudukan secara politis, berdiri di tengah-tengah balirung itu, "Setelah aku mendengarkan penuturan dari Panglima Muda Arya Permana, kita semuanya harus bisa menilai secara legowo, Pangeran Arya Permana telah melaksanakan tugas kerajaan, walaupun hasilnya belum baik, dan seperti yang kita lihat, dia pun dalam keadaan terluka, tidak seharusnya di salahkan secara keseluruhan, lebih baik kita beri kesempatan dia untuk sembuh terlebih dahulu, kemudian kita beri kesempatan untuk menyelesaikan tugas-tugasnya kembali sebagai Panglima Muda wilayah barat" dan kau Panglima Mandala Putra, cobalah bersikap bijak, jangan terlalu menyalahkannya, harusnya kau berpikir dan berusaha, bagaimana cara nya kau basmi pasukan-pasukan pengacau itu!"
__ADS_1
"Hmmm peradilan macam apa ini?" Panglima utama Mandala Putra berdiri dengan penuh amarah, dan tanpa pamit ia turun dan pergi meninggalkan pertemuan tersebut. Begitulah memang sikap Mandala Putra, sikap seorang prajurit sejati, lugas dan tegas serta tanpa kompromi jika menyangkut masalah kerajaan, kesetiaan nya kepada kerajaan tidak di ragukan siapapun. Arya Permana tersenyum di dalam hati, akhirnya ia lolos dari hukuman.
__ADS_1
Di Gunung Kidul, Wirayudha sedang duduk termanggu di depan pusara ibunya, di sampingnya Nini Sangga Geni berdiri dengan gelisah, "Nini tak perlu kau sampaikan rasa bersalahmu padaku, kematian ibuku bukan salah siapapun, ini adalah suratan takdir dari Sang Kuasa, tindakan ibuku aku anggap benar, karena jika saja aku dewasa, besar kemungkinan aku pun akan melakukan hal yang sama, Kami berdua tidak mempunyai siapapun selain dirimu yang menyayangi kami sepenuh hati, dimana salahnya jika ibu dan aku membelamu dari gangguan siapapun?" Wirayudha berpaling menatap Nini Sangga, sedangkan Nini Sangga Geni, setelah mendengarkan perkataan Wirayudha, hatinya semakin teriris, ia tak mengira, Wirayudha yang ia anggap masih kanak-kanak, bisa mengeluarkan kata-kata sebijak itu, Nini Sangga tak dapat menahan kesedihannya, air matanya semakin deras menetes membasahi pipinya. "Sudahlah Nini, mari kita kembali ke rumah, aku hanya ingin, kau mendampingiku selalu dalam pencarian ayahku.
__ADS_1