
Aswangga mengangkat kedua tangannya ke atas, bermaksud mengambil Kudjang yang sedang di genggam manusia bertopeng dari jarak jauh, terlihat Kudjang yang sedang tergenggam itu bergetar, terjadi tarik menarik dengan kekuatan tenaga dalam.
"Hiaaath....tangan itu tetap mencengkeram gagang Kudjang dengan erat, dengan lincah manusia bertopeng menarik tangan kanan yang menggenggam kudjang itu ke belakang, tubuh Aswangga seperti tertarik ke depan mendekat, tanpa di perkirakan sebelumnya oleh Aswangga, lawan berkelit dan kemudian melakukan tendangan balik mengenai dagunya.."Hiaaath....deshhh....."Argh,.. Braaakh, Aswangga terjengkang ke belakang sejauh dua tombak dengan tubuh terlentang.
Aswangga melompat berdiri tegak kembali dengan sumpah serapah..."Kurang Ajar.. Anjing Pemberontak, rasakan ini!", "Hiaaaath....desh...desh...., pukulan bertubi-tubi terarah ke tubuh manusia bertopeng, tetapi pukulan itu bisa di tangkisnya dengan tepat.
Saat melihat Aswangga menyerang, manusia bertopeng melihat celah di bagian perut, sambil terus menangkis, saat ada waktu yang tepat Kudjangnya menusuk perut itu..."Hiaaat....brettth...., baju Aswangga robek besar, tetapi daging perut Aswangga sendiri tidak tergores sedikitpun.
Melihat Kudjangnya tidak dapat melukai Aswangga, manusia bertopeng meningkatkan kecepatan serangannya, "Hiiaaath....wush...wush...bretth...breeeth, Aswangga tidak dapat mengimbangi kecepatan dari serangan manusia bertopeng, akibatnya pakaiannya tersobek di beberapa bagian.
Manusia bertopeng memasang kembali kuda-kudanya dengan kokoh, terdengar suara ejekan dari Aswangga, "Hmm...kau kira senjatamu sudah tajam bisa menembus "Cadas karang" ku?"
__ADS_1
Terdengar suara geraman dari depan, "Haiiikh.....perlahan'lahan Kudjang itu kemudian di selimuti oleh sinar hijau, kakinya menjejak tanah dan meluncur menerjang dengan cepat, "Hiaaaath....wusshhh....crasssh!!!... "Arrrrgkhhhh.... hanya teriakan kecil yang terdengar dari mulut Aswangga, karena kemudian kepalanya jatuh terpenggal, tubuhnya jatuh rubuh ke depan, sedangkan kepalanya terpental.
Manusia bertopeng tertawa terbahak-bahak..."Hua...ha...ha...ha, Arya Permana selanjutnya giliranmu!", Arya Permana dan yang lainnya merasa gentar melihat Aswangga tergeleletak di tanah dengan kepala terpenggal. kemudian manusia bertopeng melangkah mendekati Arya Permana yang masih di atas kuda.
"Berhenti, siapa kau kisanak?" dengan kehebatanmu aku bisa menjadikanmu orang yang paling terkenal di Mataram ini, dari pada kau menjadi seorang pemberontak, lebih baik kau menjadi pengikutku!"
"Hmm...kau tak mengenaliku Arya Permana?"... lihat!"...manusia bertopeng itu melepas topengnya, terlihat wajah yang menyeramkan karena bekas luka bakar, tetapi wajah itu masih di kenalinya,
"Ah...kau Danang Seta pengikut setiaku! lama sekali aku telah mencari keberadaanmu!", "tutup mulut busukmu Arya Permana!, aku tidak mempercayai setiap kata yang keluar dari mulutmu!", kata-kata Ki Danang Seta terdengar penuh emosi.
Sebelum Ki Danang Seta melanjutkan langkahnya, terdengar suara ribut dari arah belakang, semua pasukan dari pemberontak maupun dari pihak Arya Permana terlihat menjauh dari arena pertempuran.
__ADS_1
Mau tidak mau akhirnya Ki Danang Seta membalikkan badannya, "Haaah....Ki Danang Seta terperanjat kaget saat melihat pemandangan di hadapannya, terlihat di sekitar tubuh Aswangga, darah yang tercecer di tanah itu mengalir cepat ke arah tubuhnya menggumpal dan masuk kembali ke sekitar bekas luka tebasan akibat Kudjang miliknya.
Tubuh Aswangga yang tanpa kepala terlihat berdiri, kemudian kepala yang berada sekitar tiga tombak itu melayang dan hinggap di batang lehernya, "Kraakhhh"... terdengar suara berderak...membuat yang melihat begidik dan merasa ngeri. kemudian kepala itu di palingkan ke kiri dan ke kanan, "krekhh....krekkh".
Aswangga menghentakan kedua tangannya ke samping sambil berteriak "Kraaaagh.....Rawa rontek!!!..... mulutnya menyeringgai menatap Ki Danang Seta, "kau pikir mudah membunuhku!" "Hiaaath....deesh....desssh,..bruugh.. tubuhnya melompat dan memukul dada Ki Danang Seta. Karena ke tidaksiapan dan masih terpengaruh oleh ketakutan, pukulan Aswangga mendarat dengan telak di dadanya, membuat tubuhnya terpelanting jatuh.
"Uuugh....Ilmu iblis!"... setelah berkata seperti itu, dengan nekad Ki Danang Seta menerjang kembali, "Hiaaath....swussh...swussh....jlebh...jlebh......Kudjangnya berkelebat kembali menusuk tubuh Aswangga, tusukan itu tepat mengarah lambung dan jantungnya, "Ha...ha...ha, pilih yang kau suka Danang Seta!" setelah darah Aswangga menetes menyentuh tanah, luka-luka akibat tusukan itu rapat kembali tanpa bekas. "Hiaaath...desh...desh...akh...tendangan kaki Aswangga meluncur cepat ke arah pergelangan tangan Ki Danang Seta, membuat Kudjangnya terpental jauh. Aswangga kembali mendesak Ki Danang Seta dengan beberapa pukulan "Hiiaaaath....dessh...deshhh..aarghk, pukulannya mengenai Wajah Ki Danang membuat hidung dan mulutnya berdarah.
Arya Permana yang kembali bersemangat, kemudian berteriak kepada yang lainnya, "bunuh semua pemberontak yang tersisa!"... "Hiaath...trang...trang...., kembali terdengar benturan senjata dari kedua belah pihak, tetapi karena sudah jatuh secara mental, satu persatu para pemberontak itu akhirnya terbunuh. Setelah terlihat tidak tersisa, Terdengar teriakan Arya Permana kembali "Danang Seta, lihat semuanya sudah ******!... menyerahlah!!!"
Ki Danang Seta yang melihat situasi yang tidak menguntungkan untuknya, kemudian mulai mencoba untuk melarikan diri, karena dia sadar hanya kecepatan saja yang masih di milikinya untuk mengungguli Aswangga, "Hiaaath...Sraafh...sraafh...puluhan senjata rahasia di sabitkan ke beberapa prajurit yang menghadangnya, dengan ilmu meringankan tubuh, ia meloncat dan berlari meninggalkan arena pertempurannya dengan Aswangga.
__ADS_1
"Jangan di kejar!"...teriakan Arya Permana menggema memerintahkan para prajuritnya, akhirnya semuanya berhenti, Aswangga yang bersiap untuk mengejarpun kemudian berhenti.
Aswangga mendekati Arya Permana, dengan wajah yang kesal dia pun berkata "Raden, kenapa dia kita lepaskan?"... aku khawatir kemudian hari ia menjadi batu sandungan kita", "Tidak Aswangga, kita bisa mencari dia kemudian hari, dengan larinya dia mungkin saja malah membuat keuntungan di pihak kita. Bisa saja sekali waktu dia bergabung dengan pihak Mandala Putra, kita bisa membuat laporan bahwa Mandala Putra melindungi pemberontak.