
Tubuh putri Retno Ningsih terbaring di peranduan, wajahnya pucat seperti kapas, matanya yang sayu memandangi langit-langit kamar.
"Romo!", dengan suara yang lemah ia memanggil ayahnya. "Apakah sudah ada kabar tentang Kangmas Wiratama?" Panglima Mandala Putra dengan perasaan sedih mengusap rambut putrinya, "belum anakku, aku harap dia akan baik-baik saja".
"Akh...Kangmas, kenapa kita harus seperti ini? selalu terpisah dengan keadaan yang menyakitkan". Linangan air mata Putri Retno Ningsih mengalir dari pelupuk matanya ke samping. "Anakku, romo berjanji akan terus berusaha mencarinya!"
"Romo, aku tidak pernah bisa membahagiakannya, saat Kangmas Wiratama berada di sisiku, ia selalu mendapatkan penderitaan...hu...hu..hu" tangis Putri Retno Ningsih akhirnya pecah tiada tertahan lagi. "Kasihan hidupnya selalu merasakan penderitaan", Panglima Mandala Putra menunduk pasrah, "romo tahu anakku! Kangmas mu adalah lelaki terbaik yang romo kenal, semoga Tuhan selalu bersamanya, kita akan selalu berdo'a."
Semenyara itu di Kawasan gantung Parangtritis terjadi kegemparan dengan datangnya Tujuh ekor Harimau yang membawa Wiratama yang sedang terluka, akhirnya semua sibuk berusaha menolong Wiratama.
Wiratama terbaring, ia kini sudah sadar dan sanggup di ajak bicara, Ki Bondan Wiratama dan Nyai Gendis selama tiga hari ini merawatnya dengan telaten.
"Ngger..apa yang terjadi padamu? lukamu bukan luka biasa, sepertinya kau bertempur dengan seorang ahli kebathinan?", Ki Bondan Wiratama mengajukan pertanyaan dengan penasaran. "Benar romo, aku bertempur dengan lelembut sakti yang bernama Dewi Pramudita, kemudian Wiratama bercerita semua yang telah dia alami mulai dari kediaman Panglima Mandala Putra sampai kemudian ia di larikan Dewi Pramudita dan bertempur lagi serta mendapatkan luka yang cukup parah.
__ADS_1
Wiratama bercerita sambil mengamati wajah ayahnya, ada kegelisahan yang terlihat di raut wajah Ki Bondan ketika mendengarkan kisahnya. "Mohon maaf romo, apakah romo mengetahui tentang Dewi Pramudita?"
Ki Bondan terdiam sejenak, di tatapnya wajah Wiratama, "Ngger...sebenarnya ini adalah kisah tentang keluarga kita, Dewi Pramudita dan Purbaya adalah nenek moyang kita, keduanya telah melakukan suatu kesalahan yang fatal, karena sebagai saudara yang seharusnya mempunyai perasaan kasih dan sayang, mereka menodai dengan menyertakan nafsu syahwat yang seharusnya tidak terjadi".
"Akhirnya Dewi Pramudita mendapat kutukan sebagai penghuni lelembut Gunung Kemukus dan Purbaya mendapat hukuman rajam. Tetapi Purbaya dapat selamat dari hukuman itu, dan akhirnya mempunyai istri Dewi Sukaesih, tetapi ternyata selain harus menghadapi hukuman rajam, ada kutukan yang di emban setiap lelaki yang terlahir dari keturunannya", sampai disini Ki Bondan berhenti dan tertunduk.
"Kutukan apakah yang di emban oleh garis keturunan laki-laki dari keluarga kita 'romo?" Wiratama merasa penasaran, karena Ki Bondan tidak melanjutkan ceritanya.
"Apakah itu juga yang mengakibatkan istriku meninggal "romo?", tanya Wiratama, "Benar Wira, termasuk kematian ibumu yang mati karena kekejaman para begal di Alas Roban saat engkau berumur Enam tahun. Sepertimu, aku juga merasakan dendam dan akhirnya sebagian begal Alas Roban aku bunuh, dan sebagian aku maafkan setelah mereka berikrar mengangkat romomu ini menjadi pemimpin mereka".
"Tapi aku tidak mempunyai tanda lahir seperti itu "romo!", "Kau mempunyainya Ngger! tapi Kakang Padasukma dapat menghilangkannya dengan ritual khusus saat engkau masih kanak-kanak, dengan harapan saat tanda lahir itu hilang, kutukan yang menyertainya dapat di hilangkan juga. Tetapi ternyata kutukan itu tetap bersemayam di tubuhmu. Karena itulah Kakang Padasukma tidak menyetujui saat engkau akan membalaskan dendam kematian istrimu, karena memang sudah jalan hidupmu harus melaluinya.
Wiratama akhirnya melamun, tatapan matanya menunjukan kesedihan dan penyesalan yang mendalam, kini ia merasa bersalah terhadap kematian dari istrinya, andai saja dia tahu tentang kutukan itu, mungkin ia akan bertekad tidak akan mempunyai pendamping seumur hidup.
__ADS_1
Ki Bondan Wiratama yang duduk di sisi pembaringanpun hanya duduk terdiam, perasaannya sama dengan Wiratama, merasakan kesedihan dan penyesalan yang dalam.
"Romo, kesedihan dan penyesalan kita tidak bermanfaat untuk orang lain, aku akan mencoba menerimanya dengan ke ikhlasan". Ki Bondan Wiratama mengangguk dengan menjawab pendek "benar anakku!". Wiratama melanjutkan perkataannya, "apakah romo tahu, bagaimana cara untuk melenyapkan sosok lelembut Dewi Pramudita?"
"Romo tahu Ngger!" tapi cara itu sangat berat untuk di lakukan!", "Katakan saja romo!, mudah-mudahan saja aku bisa melakukannya, kekejaman Dewi Pramudita harus di hentikan".
Ki Bondan Wiratama kemudian mengambil tombak pendek milik Wiratama, "kau harus menusuk jantungnya dengan tombak ini, tetapi mata tombak ini harus kau olesi dengan darah seorang perempuan yang menjadi istrimu!"
"Apakah tidak ada cara lain romo? Jika seperti itu, aku pun nanti akan membunuh seorang perempuan yang hanya akan menjadi istriku dengan waktu Sewindu tahun?"
"Selain cara itu, aku tidak mengetahuinya lagi Ngger!" Ki Bondan Wiratama mengelengkan kepalanya dengan wajah lesu.
Ki Bondan dan Wiratama tidak menyadari, sedari pembicaraan awal, Nyai Gendis telah mendengarkan pembicaraan mereka.
__ADS_1