Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Pertemuan 2


__ADS_3

Nini Sangga geni dan Wirayudha di suguhi banyak makanan, "Nisanak aku tahu, kau dan cucumu pasti sedang merasakan lapar dan dahaga, kami masih punya banyak persediaan makanan", Nini Sangga dan Wirayudha menyantap makanan yang berada di depan mereka.


terjadilah perbincangan di antara mereka, dan saling memperkenalkan diri, sedangkan Wirayudha oleh Nini Sangga geni di perkenalkan ke Ki Seno Keling sebagai cucunya. Saat kegelapan malam telah tiba Ki Seno Keling berpamitan untuk keluar rumah, dan mengizinkan Nini Sangga geni serta Wirayudha untuk bermalam. tinggalah mereka berdua di dalam rumah.

__ADS_1


"Nini, apakah kau merasa janggal dengan suasana di sekitar sini?" Wirayudha mengajukan pertanyaan kepada Nini Sangga, "Aku merasa janggal Wira, ada sesuatu yang tidak normal, disini adalah daerah tepian pantai, tetapi makanan yang mereka suguhkan bersumber bukan dari hasil laut, berarti mereka kesehariannya mempunyai hubungan dengan pihak luar secara baik", menurutmu bagaimana Wira?" , Wirayudha kemudian keluar dari pintu dan melihat dari teras, kemudian ia berpaling pada Nini Sangga, "Nini, aku malah lebih banyak menemukan kejanggalan. "Jalan yang kita lalui adalah jalan satu-satunya menuju ke pemukiman, jalan itu mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi untuk di lewati, dengan begitu kita bisa mengukur kemampuan olah kanuragan dari pemukimnya, rata-rata olah kanuragan mereka tingkat tinggi, pemukiman di sini pun bukan pemukiman sementara, tetapi benar-benar menetap permanen, lihat Nini tali-tali yang terbuat dari rotan masih berwarna kusam, jadi pemukiman ini masih tergolong baru berdiri". "Hikh...hikkh...hikh...kau benar Wira, ternyata kau betul-betul pintar dan penuh kewaspadaan, baiknya kita beristirahat saja dulu, agar kondisi tubuh kita segar, dan siap menghadapi segala sesuatu yang tidak kita inginkan". mudah-mudahan kita harapkan mereka benar-benar orang yang baik dan tulus menolong kita". akhirnya mereka berduapun tertidur.


Ketika pagi hari telah tiba, matahari.yang nampakpun baru sepertiganya, Nini Sangga dan Wirayudha di kagetkan dengan beberapa bayangan manusia yang berloncatan dari pohon bakau yang satu ke pohon bakau lainnya, loncatan mereka teratur kadang - kadang membentuk formasi lingkaran, setengah lingkaran ataupun segitiga, formasi yang mereka lakukan pun sangat beragam, terakhir saat mereka berteriak bersamaan, terlihat oleh Nini Sangga, bayangan - bayangan itu membentuk formasi bunga teratai, sekelompok membentuk serangan ke bawah, dan kelompok lain menyerang dari atas, "Hiaaaath... tash...tash...tash....wusssh, daun-daun bakau beterbangan terkena serangan pedang serentak, jika yang melihat tergolong mempunyai ilmu kanuragan tingkat tinggi, pastinya ia akan merasa lebih kagum, karena jika di teliti, daun-daun yang rontok itu mempunyai irisan yang sama, dengan begitu kita bisa menilai, bahwa orang-orang itu adalah pasukan yang benar-benar terlatih dan mempunyai tingkat tenaga dalam tinggi seluruhnya. Nini Sangga dan Wirayudha sampai terkagum-kagum menyaksikannya, mereka pun menilai jika seandainya mereka yang berada di tengah dan pada posisi yang di serang , mereka yakin tidak akan mampu menghadapinya, tiba-tiba semua gerakan itu terhenti ketika ada tanda suitan yang nyaring dan kencang, di lanjutkan terdengar suara yang memggema dari Ki Seno Keling yang berdiri di tengah-tengah bambu-bambu yang tersusun rapih membentuk panggung luas di tengah perumahan-perumahan yang memang membentuk area sebuah lingkaran.

__ADS_1


"Hmmm aku bersikap dan bertindak demikian hanya terhadap pencuri-pencuri", salah satu nya adalah kau!" jari - jari Ki Seno membentuk cakar burung Alap-alap, menyerang ke anggota tubuh orang tersebut, "Wuuuth....Wuuush....Wuuuth, dua sambaran dapat di elakan, kemudian orang itu menepis serangan yang ketiga dengan kepalan tangan kanan, "Heeeikkh......dhuaaaarh.....suara benturan itu sangat keras, membuat rumah - rumah yang menggantung di antara Bakau - bakau itu bergoyang.


"Ternyata Alap-alap dari Selatan bukan omong kosong!" orang tersebut meneriakan julukan panggilan Ki Seno di dunia persilatan, Ki Seno Keling pun tertawa "Ha..ha...ha..., "Pangerang lereng Merapi" ternyata juga keluar dari pertapaannya!" Selaksa Gunung memang sangat dahsyaat!", "Salam hormatku Eyang Padasukma, kemudian Ki Seno keling menjura di depan eyang Padasukma. Nini Sangga Geni yang melihat kejadian dari awal, segera melompat dan berdiri di antara Eyang Padasukma dan Ki Seno Keling.

__ADS_1


__ADS_2