
Cahaya Matahari yang menerangi di sekitar Goa Ratu mulai di gantikan oleh cahaya api obor yang tertata berjajar rapih, walapun tidak seterang saat siang hari, suasana sekitarnya tidak terlalu gelap.
Perlak perlik cahaya di pemukimanpun mulai terlihat. Saat hari mulai gelap. Dewi Pramudita mulai mengunjungi beberapa rumah pemukiman sedangkan Rengganis mengawasi dari atas pohon.
Tidak seperti biasanya suasana pemukiman kini mencekam, Kalong-kalong hitam terbang berputar-putar di sekitar rumah-rumah yang di tinggali para perompak.
Dewi Pramudita merasa aneh, setiap rumah yang dia masuki tidak ada penghuninya, akhirnya ia pun kembali ke luar dan berdiri di jalan setapak yang memisahkan antara rumah yang berseberangan. Sekelebat bayangan melintas tidak jauh dengannya, karena penasaran di kejarnya bayangan itu dengan sebat, jarak mereka semakin lama semakin pendek dan berakhir di sebuah tempat yang di apit oleh bukit.
"Plap...plap....terdengar suara api yang di nyalakan, suasana yang sebelumnya begitu gelap, kemudian menjadi terang benderang di karenakan nyala obor-obor yang begitu banyak. Nyala obor membentuk lingkaran mengelilingi Dewi Pramudita dengan jarak yang cukup lebar.
"Hik...Hiik..Hik..Siluman betina! ku pikir sulit untuk menjebakmu!" Terdengar suara Nyai Seruni yang sedang berdiri di depan para perompak sedangkan Ki Badra berdiri di sebelahnya.
Kemudian muncul Adiraja di belakang Dewi Pramudita "Hei..Nisanak, apa maksudmu menyusup di tempat kami dan membuat kekacauan? apa kau pikir pembunuhan yang kau lakukan terhadap 4 orang di antara kami tidak di ketahui?"
"Arrkh...Guru!..Guru!.. Dewi Pramudita Berpaling ke samping kanan, disana terlihat Rengganis yang di seret oleh 2 orang dengan kaki terluka terkena anak panah.
"Hik..Hik..Hik, setelah dirinya menarik nafas, Dewi Pramudita kemudian balik tertawa terkekeh, "Tidak selamanya Kemenangan di lihat dari jumlah yang ada! silahkan kalian mencobanya!"
__ADS_1
"Hiaaath...Debh..Debh...Adiraja meloncat ke depan Dewi Pramudita sambil menghentakan kakinya di tanah, Selaksa Gunung menggetarkan permukaan tanah sesaat, melihat hentakan kakinya tidak mempengaruhi Dewi Pramudita, pukulannya pun dengan deras mengarah ke depan dengan beruntun.."Wuush...Wussh..! angin pukulan mendesing mengibarkan rambut Dewi Pramudita ke samping.
"Haiikh...hanya dengan satu tangan tangkisan yang menyilang membuyarkan pukulan Adiraja dengan mudah.
"Hiaaath...Makan seranganku!, jari-jari tangan Dewi Pramudita mengembang membuat tusukan ke arah mata, Adiraja mengelak....tetapi tusukan jari yang menyerangnya merubah gerakannya menjadi kibasan ke arah wajah..."Plaaakh!..suara tamparan keras membuat Adiraja terdorong ke samping. Rasa sakit yang di deritanya tidak seberapa di banding rasa malu yang di di dapat Adiraja.
"Kuranggg...Ajaarrr! Hiaaath...Jdherrr...Plasssh...Plassh...pukulan dan tendangan Adiraja mengenai udara kosong. tiba-tiba dari arah belakang, meluncur tendangan Dewi Pramudita mengenai punggungnya..."Dessh...,...!
"Hikh...Hikh..Aku bosan dengan caramu bertarung Kisanak! kau hanya mampu memakai ilmu-ilmu Picisan.!"
Beberapa perompak melihat dengan penasaran, akhirnya tanpa di perintah, Syaf pertama lingkaran maju bersama mengeroyok..."Hiaaath...Hiaath...Hiaaath!"
"Heii...ilmu Siluman! siapa kau sebenarnya?" Adiraja sampai berteriak terkejut melihat kemampuan Dewi Pramudita...dan membuat yang lainnya beranjak mundur.
Dewi Pramudita berniat akan membuat tumbang kembali para pengeroyoknya, tubuhnya berkelebat dengan kecepatan tinggi bermaksud memberikan tendangan..."Hiaaat...Derrrhhh...tiba-tiba dari arah berlawanan Nyai Seruni memberikan hantaman pukulan dari depan. yang membuat tubuh keduanya mundur memasang kuda-kuda pertahanan kembali.
"Telah lama aku mengharapkan lawan tanding yang sesungguhnya! bersiaplah!" Kedua tangan Nyai Seruni melancarkan serangan pukulan, pukulannya tidak hanya mengandalkan kecepatan gerakan, deru angin panas dan gumpalan bara api membungkus kedua lengannya "Hiaaath...Blaarh...Blarh..!
__ADS_1
Keduanya terlibat pertarungan sengit, berpuluh-puluh jurus terlewati, benturan tenaga dalam yang berada pada pukulan dan tendangan terjadi beberapa kali.
Dalam olah gerak dan tenaga dalam keduanya seimbang, tetapi dalam hal tenaga kasar terlihat Nyai Seruni masih di bawah Dewi Pramudita.
"Huh...Rasakan ini! berkiblat bilah pedang yang bercahaya merah menyambar dengan posisi melintang memburu tubuh Dewi Pramudita. "Bush....Bussh! dua sambaran pedang dengan tepat mengenai bahu dan leher, tetapi Dewi Pramudita tetap tegak berdiri tenang.
Nyai Seruni baru menyadari, lawannya bisa merubah raga nya menjadi kosong sesaat setelah tebasan pedangnya seperti mengenai udara kosong. "Hei...ternyata kau makhluk jadi-jadian Nisanak!"
"Hiiaaath...Hiaaath..Sraash..Sraaash..pedang Nyai Seruni kembali menebas berulang-ulang, pedang tersebut sampai menimbulkan suara desingan hebat dan sinar merahnya pun ikut menyambar-nyambar sekujur tubuh Dewi Pramudita. tetapi hasilnya pun tetap seperti semula.
Dari pantulan cahaya api obor, terlihat Nyai Seruni mengatur nafasnya yang terengah-engah. akhirnya kembali Nyai Seruni menyiapkan diri, tubuhnya setengah membungkuk hampir menyentuh tanah, kedua tangannya di tarik ke belakang, ada tarikan nafas kuat dari hidungnya, kemudian dia meloncat dengan kecepatan dan kekuatan penuh " Hiiiaaath..."Gelombang Laut Selatan...Blaaarh! Blaaarh....dari kedua tangannya keluar gelombang angin panas yang besar dan kencang....
"Aaarh....Aaarkh..Brugh...Bruugh, dalam posisi berdiri Nyai Seruni melihat serangannya bukan melukai Dewi Pramudita, tetapi para anak buahnya yang tadi ikut mengelilingi gelanggang pertempuran, terpental dan mati terbakar. "Kuraaang Ajaaar.!... teriakan kesal terdengar dari Nyai Seruni.
"Ha...Ha...Ha.., keluarkan semua kemampuanmu Nenek tua! kau sudah bau tanah! tak layak berteriak-teriak keras.. Suara tawa ejekan Dewi Pramudita terdengar nyaring.
"Wuuush...Duuubh...! sesaat setelah Dewi Pramudita tertawa, tubuhnya terdorong beberapa tombak ke belakang akibat serangan sosok hitam yang berada di depannya.
__ADS_1
"Dari jauh Ki Badra berteriak "Lawan bayangan hitam Candramawaku!"...
Adiraja dan yang lainnya terperangah dengan adu kesaktian mereka, apalagi Adiraja akhirnya ia menyadari kebenaran cerita kakaknya Respati mengenai ilmu-ilmu Kanuragan milik Ki Badra.