Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Ektra Chapter. ( Impian Kekasih )


__ADS_3

Ketika Surya baru saja terlihat, Wiratama berjalan di depan halaman rumah, sedangkan istrinya bergelayut manja di lengan. "Nimas, akan ku tunjukan keindahan Alas Roban dari sesuatu yang belum pernah kau lihat!"


"Tidak ada di dunia ini yang lebih indah di bandingkan dengan memandangmu Kangmas!"


Wiratama tersenyum, kemudian meraih kepala istrinya untuk mengecup keningnya..."mmh!"


"Dulu aku tidak pernah membayangkan bisa dapat kembali bersamamu Kangmas!, sungguh...bermimpipun aku tidak berani!"


Wiratama memeluk pinggang Putri Retno Ningsih, "Hiaaath...Sllaaph! keduanya melesat ke atas dan berdiri di ujung puncak pohon pinus yang paling tinggi.


"Aaakh...Kangmas! apa yang kau lakukan?" Mata Putri Retno Ningsih terpejam karena takut ketika melihat ke bawah


"Bukalah matamu Nimas, hilangkan segala ragu di hatimu jika memang sampai akhir hayat kau ingin selalu bersamaku!"


"Iya Kangmas, keraguanlah yang telah memisahkanku denganmu! aku mohon maaf, tidak pernah akan ada lagi keraguan di hatiku kepadamu!"


Kepala Putri Retno Ningsih di sandarkan ke dada Wiratama, kemudian keduanya memandang ke bawah sambil menghirup udara pagi yang sangat menyegarkan.

__ADS_1


"Hiaaath..Sraaath...


Wiratama membawa berlari istrinya, kakinya menapaki pucuk-pucuk pepohonan, rambut keduanya berkibar menebas embun-embun pagi yang masih berupa kabut yang belum hilang.


Ilmu meringankan tubuh Wiratama memanglah telah sampai puncak, membuat dirinya dapat melayang-layang sambil memeluk belahan hatinya, tubuh mereka terlihat berputar di udara, pelukan erat membuat mereka hangat dan tidak merasakan dinginnya Alas roban.


"Kangmas, aku mohon janganlah pernah meninggalkanku walau sesaat!"


"Tidak Nimas, aku akan selalu membawamu, jika aku jauh darimu...Hatiku akan terbelah dan terluka, karena kau adalah belahan hatiku!"


Putri Retno Ningsih terus tersenyum bahagia, ia tak pernah ingin memalingkan wajah dari pemilik rambut perak yang sekarang sedang memeluknya.


"Nimas!...Nimas!...Bangunlah, Matahari telah terbit dari tadi, ...Putri Retno tergeragap, ternyata apa yang di rasakannya tadi adalah sebuah mimpi.


Di samping pembaringannya duduk Wiratama yang sedang memandangnya dengan tersenyum, "ada apa Nimas? sepertinya kau sangat menikmati sekali tidur lelapmu! sebelum kau terbangun, ku lihat senyuman indah di wajahmu!"


Putri Retno berguling ke samping, kemudian tangannya melingkar ke pinggang Wiratama yang akan bangun berdiri, "tetaplah di sini Kangmas!"

__ADS_1


Wiratama akhirnya membatalkan untuk keluar dari kamar, ia merebahkan kembali tubuhnya di pembaringan yang langsung di peluk oleh istrinya. Merekapun melanjutkan mimpi indah bersama.


Ketika bangun kembali, Wiratama menyempurnakan kebahagian istrinya dengan memenuhi mimpi yang tadi pagi ia hentikan.


Wiratama membawa Retno Ningsih terbang melewati atas pepohonan, berpelukan erat dan sambil mengecup mesra, perpisahan di waktu lampau telah memberikan pelajaran kepada mereka untuk menghargai kebersamaan setiap helaan nafas.


Semoga kita pun sama seperti Wiratama dan Retno Ningsih, menyadari betapa pentingnya kebersamaan bersama mereka yang sangat kita sayangi sebelum mereka jauh dan meninggalkan kita.


"Kangmas, sinar matahari terasa redup ketika menimpa rambutmu!" jemari Retno Ningsih membelai rambut perak Wiratama yang terkena hempasan angin.


"Cahaya matamu...menyiratkan cinta dan kesetiaan!"


"Terimakasih Nimas!" Wirarama balas membelai rambut Retno Ningsih.


"Terimakasih untuk apa? harusnya aku yang mengatakan seperti itu, harusnya aku yang berterimakasih, engkau masih memberikan kesempatan kepadaku untuk berada di sisimu!"


Pelukan mereka berduapun akhirnya bertambah erat.

__ADS_1


__ADS_2