Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kabut di Istana Kecil


__ADS_3

Pangeran Adiraja berbaring di peranduan, di temani oleh sanak keluarganya, di sampingnya pula duduk tiga orang tabib yang sedang berusaha mengobati. "Maaf gusti luka ini memerlukan waktu yang lama agar bisa sembuh seperti sedia kala", selain tulang lutut yang lepas, beberapa otot saraf penggerak putus". Salah seorang Tabib menjelaskan hasil pemeriksaannya kepada Pangeran Adiraja. "Kami mohon Gusti jangan sampai berjalan dulu, biarlah Gusti Adiraja sementara beristirahat saja, agar luka ini cepat pulih". Pangeran Adiraja terlihat menahan sakit, tidak ada pilihan baginya kecuali menuruti nasehat dari para Tabib.


Kemudian ia berpaling ke salah satu pembantu setianya "Somantara, sampai kapan Arya Permana ke Gunung Kidul apakah ia tidak berpikir, membawa pasukan sampai dengan 100 orang itu beresiko besar, apalagi jika terjadi sesuatu dengan pasukan itu". Pangeran Adiraja mengeluh dalam hati, "Permana kau terlalu bodoh, jika pergerakan itu di ketahui Panglima Utama, apa nanti jawabanmu?" Pangeran Adiraja sangat menyesali tindakan putranya. Sedangkan Somantara yang sedang di ajak bicara, hanya diam saja, tak dapat memberikan jawaban ataupun saran untuk menyelesaikan masalah ini.

__ADS_1


Dengan menarik nafas yang berat, akhirnya pangeran Adiraja memberikan perintah kepada Somantara, "segeralah kau jemput Gusti Mudamu, berikan kabar bahwa di kediamannya terjadi pencurian besar-besaran, perintahkan segera kembali ke rumah secepat mungkin!".. " baik gusti", Somantara bergegas pergi untuk melaksanakan tugasnya.


Sementara itu di desa Glangglang atau Gelang-gelang, pasukan Topan gunung di bawah pimpinan Ki Seno Keling sudah tiba, dan sudah bergabung dengan Pasukan badai, Wiratama sendiri sedang memberikan pengarahan-pengarahan Kepada Ki Seno Keling dan Ki Pandawa. "Ki Seno, dua hari lagi kita adakan penyerangan kepada pasukan Arya Permana, aku ingin pasukan itu kita hadang di tengah Hutan Mentasih, sebelah selatan Gunung Kidul, daerah itu banyak perbukitan, Pasukan Topan Gunung kau bagi dua, berada di posisi kanan dan kiri bukit, sedangkan pasukan badai lakukan serangan dari belakang. kita habisi pasukan itu tanpa sisa". Ki pandawa mengangguk anggukan kepala, setelah itu dia mengajukan pertanyaan kepada Wiratama. "Raden, bolehkah kami tahu, tujuan kita menghancurkan pasukan Arya Permana tersebut?"... karena seperti yang hamba sampaikan kemarin, pasukan itu pasukan liar, bukan pasukan yang di gerakkan oleh Istana".

__ADS_1


"Ki Pandawa dan Ki Seno Keling saling berpandangan, "Raden, strategi itu bagus sekali, kami akan melaksanakan perintah itu dengan baik", Ki pandawa memuji strategi yang di paparkan oleh Wiratama.


"Ki Pandawa, perintahkan juga telik sandi kita yang menangani ekspedisi barang, untuk membawa hasil rampasan kita menuju Alas Roban dengan memakai jalur laut dari Parang tristis, agar barang itu aman sampai tujuan dan nanti bisa kita manfaatkan".

__ADS_1


Ki Pandawa dan Ki Seno Keling mempersiapkan pasukan, mereka mulai bergerak untuk menempatkan posisi pasukan di perbukitan Hutan Mentasih


__ADS_2