
Setelah sekian lama Wirtama konsentrasi melatih olah kanuragan, akhirnya Ki Gede Baruna mengizinkan Wiratama untuk turun ke dasar lembah.
Tubuh Wiratama melompat dari celah goa yang berada di dinding lembah, kakinya meloncat dari batu satu ke batu yang lain menuju dasar lembah, semakin lama ke bawah udara semakin dingin, pohon-pohon yang lebat membuat dasar lembah semakin sedikit mendapatkan cahaya Matahari.
Akhirnya sampailah Wiratama ke dasar lembah, batu-batuan kerikil di sana berbeda dengan batu-batu kerikil yang biasa di temui, warna batu itu hitam dan mempunyai permukaan yang tajam, membuat Wiratama melangkahkan kakinya dengan hati-hati.
Sambil berjinjit dia pun melangkahkan kakinya mengitari lembah, suasana lembah itu mirip sebuah hutan yang mempunyai pohon-pohon lebat yang berdaun lebar.
Banyak suara binatang yang terdengar, baik itu suara burung, serangga maupun binatang lainnya.
Wiratama terpancing dengan suara keributan di atas pohon yang berdahan rendah, suara cicit burung dan suara pekikan kecil dari binatang yang belum terlihat.
Setelah semakin dekat, akhirnya Wiratama melihat suatu pemandangan yang unik, di depannya terlihat sebuah pertarungan yang di lakukan Burung Srigunting dan Belalang Sembah. pemandangan itu membuat Wiratama tertarik untuk melihatnya.
Burung Srigunting dari atas menukik tajam bermaksud untuk menyambar tubuh Belalang Sembah yang sedang bersiaga di atas daun lebar. "Swwwuth...kakinya menyambar di susul paruhnya pun mematuk.
Belalang Sembah dengan tenangnya hanya menggeserkan kedua kaki belakang bersamaan ke samping, terlihat seperti melompat kecil. gerakan itu membuat dirinya selamat baik dari sambaran kaki Sriguting maupun patukan dari paruhnya.
Sriguntingpun terlihat marah melihat kedua serangannya meleset, kemudian kembali terbang ke atas mencoba melakukan serangan ulang.
Tubuhnya membuat gerakan putaran di atas, dan menukik ke bawah kembali, tetapi ternyata gerakan tersebut adalah gerakan tipuan, di saat berada di pertengahan ia melakukan perhentian dan mengepakan sayapnya ke samping, sehingga arah sambarannya berubah bukan ke arah tubuh Belalang Sembah., tetapi membuat sambaran ke arah sisi daun lebar yang menjadi pijakan Belalang Sembah.
Membuat tubuh Belalang Sembah terpental ke udara.
__ADS_1
"Burung Srigunting membuat gerak menyambar dari bawah dengan salah satu sayapnya, berusaha menebas ke arah tubuh Belalang Sembah yang masih melayang.
"Haaash....matilah kau belalang!... suara Wiratama terdengar. Wiratama merasa bersimpati kepada Belalang yang bertubuh lebih kecil.
"Swwikhh...tanpa terduga, kaki belalang sembah yang di belakang,.melakukan tolakan ke kaki depannya sendiri, membuat ia melejit ke atas kembali, ketika kepala Srigunting lewat di depannya, dengan cepat..."Craaaphh...Craaaph...Kaki depannya di tusukan ke arah kedua mata Srigunting.
"Ciiith...Citth....Srigunting yang malang, maksud hati ingin memangsa Belalang, karena ia begitu cepat dan bertenaga saat menukik, di saat kedua matanya tertancap kaki Belalang sembah, ia tidak bisa mengendalikan diri, akhirnya jatuh ke atas permukaan batu yang tajam..."Bruugh!...Ciiiith...tubuhnya tergeletak berdarah dan tewas, Sedangkan Belalang Sembah mendarat di atas daun yang lain dengan selamat.
"Ha...Ha..Ha...Hebat...Hebat kau Belalang Sembah!, gerakanmu memberikanku inspirasi untuk membuat jurus yang baru!" terlihat Wiratama begitu sangat senang.
Sebentar kemudian Wiratama asik meniru semua gerakan yang di lakukan Burung Srigunting maupun gerakan Belalang Sembah.
Tubuhnya melompat ke atas dengan kedua tangan di rentangkan, menukik ke bawah, sedangkan serangan paruh Srigunting oleh Wiratama di gantikan dengan tusukan tombak, kemudian ia pun mendarat di tanah dan melakukan gerakan Belalang Sembah yang tadi di lihatnya.
Pandangan Wiratama kemudian beralih ke sebuah bilah pedang yang tertancap di batang pohon besar.
Wiratama mendekat dan mencabut pedang itu dari batang pohon..."Sraaaph.......
Tetapi setelah pedang itu lepas dari batang pohon, terjadi peristiwa yang aneh, kembali di alami oleh Wiratama.
Pedang itu lepas dari genggaman Wiratama, kemudian melayang ke atas, pedang tersebut berputar-putar, sepertinya bersiap untuk menyerang.
"Sraaaarh.....Bilah pedang menyambar tubuh Wiratama yang sebelumnya sudah bersiaga, pedang berputar dan membuat serangan-serangan dahsyat, sampai-sampai Wiratama mengeluarkan Tombaknya.
__ADS_1
Tusukan, sambaran, gerakan tipu muslihat yang di lakukan pedang tersebut, seakan -akan sedang di pakai oleh seorang yang ahli berpedang.
Keringat dan darah telah membasahi tubuh Wiratama, beberapa irisan luka pun menghiasi tubuhnya.
Dengan terpaksa kemudian Wiratama mengeluarkan jurus "Pukulan Roh Lodaya...
Tombaknya berputar menderu membentuk lingkaran-lingkaran cahaya, setelah beberapa lama, mata tombak Wiratama dapat menusuk tepat di batang pedang yang sedang berusaha memenggal kepalanya...Traaaang!....membuat pedang terpental dan kembali menancap di batang pohon.
Pohon tempat pedang itu menancap kemudian mengeluarkan suara derak yang sangat keras, kemudian terbelah menjadi dua bagian. Dari atas pohon melompat sosok Kakek tua ke permukaan tanah yang berbatu.
Matanya memandang Wiratama dari atas sampai bawah kaki, "Hmm...Pukulan Pemukul Roh!... walaupun kau pergunakan dengan tombak, aku masih bisa mengenali inti gerakanmu, siapa kau ?"
Kakek tua bertubuh pendek, wajahnya kotor hitam menyeramkan. Setelah Wiratama mengamati dengan teliti, ternyata tubuh itu berdiri hanya separuh badan, kedua kakinya buntung sampai dengan pahanya.
Dengan sopan Wiratama membungkukan badan dan memperkenalkan dirinya, "Aku Wiratama Ki!... hanya seorang pengelana yang tanpa sengaja terjatuh ke dalam lembah ini!"
"Ha..Ha..Ha..., bahasamu halus anak muda, tetapi kau tak dapat membohongiku, pastinya kau seorang penjahat kelas kakap yang di buang ke lembah ini, kau tak perlu malu mengutarakannya kepadaku Wiratama! kita sama-sama penjahat yang sengaja di buang ke lembah ini!"...
Wiratama tidak membantah sedikitpun, sedikitnya ia pun mengetahui jika lembah Nirbaya adalah lembah yang di pergunakan untuk mengeksekusi orang-orang yang telah melakukan kekejaman di luar batas peri kemanusiaan.
"Hei...Anak muda! kemampuanmu cukup mumphuni, bagaimana jika aku tambah dengan semua ilmu kanuragan yang ku miliki? apakah kau bersedia?"
"Aku Warok Singo Menggolo! ludahku saja melebihi bisa ular yang paling beracun, nafasku bisa membuat dirimu membeku,...aku menyukai parasmu! aku ingin menjadikanmu seorang murid! bagaimana?"
__ADS_1
Wiratama masih belum bergeming... ia masih ragu untuk mengambil keputusan. Menerima atau menolak tawaran Warok Singo Menggolo yang saat ini berada di depannya.