
"Kangmas apa yang sedang kau pikirkan lagi?" Nyai Gendis menyapa Wiratama yang sedang memandang lautan, mereka berdua duduk di pasir laut tepian pantai Parangtritis.
Wiratama masih terdiam, terlihat pandangan matanya masih menatap ombak-ombak yang sedang berkejaran dari arah laut. Nyai Gendispun tidak melanjutkan dengan pertanyaan yang lain. Suasana seperti inilah yang sangat di rindukan Nyai Gendis, ia kemudian duduk merapat dan memeluk lengan Wiratama.
"Kangmas, apakah engkau keberatan aku mendampingimu disini?", kali ini Wiratama memalingkan pandangannya ke arah wajah Nyai Gendis "tidak Nyai, malah aku mengira kau yang bosan tinggal disini, aku tahu kau seorang pendekar wanita yang senang berkelana, apakah kau merasa tersiksa tinggal di tempat tersembunyi di tepian pantai Parangtritis ini?", Nyai Gendis tersenyum manis "tidak Kangmas, dimanapun aku berada selama kau ada di sisiku, aku akan merasa bahagia".
"Apakah kau lupa Kangmas? aku pernah mengatakan, walaupun langit di atasku rubuh sekalipun, aku akan tetap mencintaimu". Wiratama tersenyum dan memandang wajah Nyai Gendis.
__ADS_1
"Aku tahu apa yang kau pikirkan Kangmas!, kau masih merasakan kesedihan yang teramat sangat karena kehilangan istrimu dan kehilangan seluruh kebahagiaanmu beserta keluarga". hanya saja kau perlu tahu Kangmas, saat aku melihat kesedihan di wajahmu, hatikupun ikut merasakan penderitaanmu". Wiratama merasa trenyuh dengan kata-kata Nyai Gendis, tangannya memeluk pinggang Nyai Gendis dari samping dan mencium rambutnya, "terimakasih Nyai!."
Tidak jauh dari mereka berada, Nini Sangga geni memperhatikan mereka berdua dari arah yang tidak terlihat "akh...alangkah indah terasa jika mereka berdua saling mencintai." Kenapa cinta datang dan pergi sesuka hati tanpa tahu apa yang dirasakan oleh hati yang di singgahinya, Nini Sangga geni teringat kisah cintanya yang selalu merana, membuat matanya basah saat-saat mengenang kisah cintanya yang terdahulu. "Semoga saja kisah cinta mereka tidak seperti diriku" batin Nini Sangga geni.
Saat berpikir mengenai perasaan cintanya, Wiratama dalam keadaan dilema, dia menyadari sekarang ini hatinya sudah mulai mendua antara Putri Retno ningsih atau Nyai Gendis.
Andai dia memilih Nyai Gendis, Wiratama memastikan, kemungkinan Nyai Gendis akan dimintai pertanggung jawabannya mengenai usaha pembunuhan yang di lakukannya saat dulu terhadap Panglima Mandala Putra.
__ADS_1
Semakin lama Wiratama memikirkan tentang cinta, semakin dia sendiri merasa pening, di lubuk hatinya yang dalam,dia belum bisa melupakan Saraswati, bersama Saraswati lah dia merasakan kebahagiaan yang sebenar-benarnya.
"Nyai, lihatlah mentari akan mulai tenggelam, marilah kita kembali!", "Biar saja Kangmas, Mentari memang selamanya akan muncul dan tenggelam, tokh cintaku kepadamu tidak akan seperti Mentari yang memerlukan istirahat saat malam tiba, Nyai Gendis semakin merapatkan tubuhnya kepada Wiratama.
Akhirnya Wiratamapun membiarkan Nyai Gendis dalam pelukannya sampai mentari terlihat tenggelam dalam lautan.
Di kediaman Panglima Mandala Putra, terlihat Ki Sampang dan Ki Wisesa sedang menghadap Panglima Mandala Putra, "Ki Wisesa, bagaimana situasi saat ini di markas pasukan wilayah barat?" terdengar Panglima Mandala sedang menanyakan situasi, "menurut pengawasan telik sandi kita, Arya Permana belum kembali Gusti!", Panglima Mandala terdiam sesaat, "menurutku, sepertinya dia tidak akan kembali Ki, dia seorang pengecut yang tidak akan berani bertanggung jawab terhadap apa yang telah terjadi kepada pasukannya, lebih baik kita menunggu tindakan apa yang akan di ambil oleh pusat, yang penting gerakan kita tidak terendus oleh mereka."
__ADS_1
"Ki Sampang, apakah ada kabar dari Wiratama?" "Mohon maaf Gusti, kami belum mendapatkan kabar yang terbaru, setelah pulang dari tempat kita, ia menghilang begitu saja". Panglima Mandala Putra kemudian berdiri memandangi ke dua pengawalnya, "suatu saat dia pasti kembali, mungkin dia masih berusaha untuk mencari Arya Permana kembali, sementara ini tolong kalian lanjutkan tugas masing-masing, aku akan beristirahat dahulu!", serentak keduanyapun pamit undur diri.