Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Hari Yang Melelahkan


__ADS_3

Wirayudha mendekati Dewi Pramudita yang berada dalam posisi tertelungkup dan masih berusaha berdiri, "Nyai Dewi, semua yang kau miliki telah hancur, aku minta pertanggung jawaban akibat perbuatanmu!"


Dewi Pramudita memandang sekelilingnya dengan tatapan luapan amarah, "Phuuih!..aku tidak akan melupakan kejadian hari ini anak muda! semua yang terjadi akan ku balas berlipat ganda!"


Ki Sampang yang turut serta mengelilingi Dewi Pramudita mendengus kesal "Huh...apa kau pikir kami akan melepaskanmu begitu saja?"..."Hiaaath....Desh...Desh...tendangannya menggeledek mengarah tubuh Dewi Pramudita, dengan cepat Dewi Pramudita mengibaskan tangannya ke depan memotong gerakan tendangan Ki Sampang..."Dheg...Dhegh...membuat Ki Sampang berjumpalitan ke belakang. Dengan cepat Dewi Pramudita menepuk tangannya ke permukaan tanah sebanyak tiga kali, "Bhuk...bhuk...bhuk...Plasssh....tubuhnya berubah menjadi asap hitam dan lenyap.


Semua yang mengelilingi Dewi Pramudita terpana, mereka tidak mengira begitu mudahnya Dewi Pramudita bisa meloloskan diri. Kekesalan terlihat di wajah mereka, apalagi Nini Sangga geni yang baru saja bergabung. Wirayudha berusaha menghibur agar bisa menghilangkan kekesalan yang lainnya "Sudahlah...lain waktu kita dapat menemukannya kembali, kita harus mencari titik kelemahan Nyai Dewi terlebih dahulu!"

__ADS_1


"Nyai Dewi!..Nyai Dewi!...apakah dia memang Nyaimu Wira?" mulut Nini Sangga geni bersungut-sungut melampiaskankan kekesalannya, melihat semua itu semua yang hadir hanya bisa tersenyum kecil menatap Wirayudha yang kena semprot Nini Sangga geni.


Tubuh Aswangga masih bergelantungan, terdengar suara dari mulutnya "Hkkkh....hkkkh...lehernya masih terlilit seutas tali di atas pohon dalam kondisi hidup segan, matipun tak mau. Membuat yang lain berpaling ke arahnya semua, "Nini apa yang harus kita lakukan kepadanya?" Wirayudha menanyakan tindakan apa yang harus di lakukan terhadap Aswangga.


"Siapkan kayu-kayu kering di bawah tubuhnya, bakar sampai habis, usahakan jangan sampai ada darah yang menetes ke tanah!" teriak Nini Sangga geni kepada yang lain. Beberapa orang dari Pasukan Bayangan kemudian mengumpulkan batang kayu-kayu kering kemudian membakar tubuh Aswangga yang masih menggantung. Kemudian Ki Sampang, Jalasena, Nini Sangga geni dan Wirayudha berjalan untuk kembali ke kediaman Panglima Mandala Putra.


Ketika peristiwa di kediaman Dewi Pramudita berlangsung, di kediaman Panglima Mandala Putra pun sesuatu yang tidak di sangka terjadi. Wiratama yang masih dalam kondisi belum pulih, hilang tanpa ada yang mengetahui. Di dalam kamar perawatan Wiratama, semua barang-barang yang berada di dalam kamar semuanya berantakan dan banyak ceceran darah, hal ini membuat amarah Panglima Mandala Putra mencapai puncak, di tambah dengan keadaan putrinya yang menangis membuatnya semakin tertekan.

__ADS_1


"Tidak ada gunanya aku menghukummu Wisesa! sekarang kau pimpin semua pasukan untuk memeriksa seluruh yang berkaitan dengan kejadian ini, jejak sekecil apapun kau laporkan kepadaku!" Panglima Mandala Putra kemudian pergi meninggalkan Ki Wisesa yang masih duduk di bawah.


Panglima Mandala Putra menemui putrinya di ruangan pendopo pribadi, "Apakah sudah ada kabar mengenai Kangmas Wiratama, romo?" Putri Retno Ningsih memandangi wajah kusut ayahnya, "bersabarlah anakku! aku belum menemukan titik terang apa yang telah terjadi kepada Wiratama".


"Bagaimana dengan Diajeng Gendis, romo? apakah dia pun belum di temukan?".... "jejak Nyai Gendispun romo belum menemukannya! mungkin dia mengetahui kejadian ini dan berusaha mengejar penculik itu seorang diri".


Putri Retno Ningsih terdiam, hatinya berkecamuk tidak menentu, baru saja dia rasakan sedikit kebahagian dengan kesadaran Wiratama, hari ini kebahagian itu terrenggut kembali. Perasaan bersalah semakin membebani hatinya, dia menyadari sepenuhnya, semua kejadian yang terjadi kepada Wiratama, berasal dari proses penyembuhan dirinya oleh Wiratama.

__ADS_1


Ki Wisesa mengumpulkan seluruh prajurit, mengadakan penyelidikan secara menyeluruh, mulai penjaga yang berada di tiap-tiap pos sampai dengan prajurit yang berjaga di dalam wilayah kediaman. peristiwa ini menjadi pukulan yang telak baginya dan pimpinan-pimpinan pos penjaga, dengan beruntun wilayah penjagaan mereka dengan mudah di terobos oleh musuh.


Ki Wisesa mengingat-ingat kejadian yang telah berlalu, saat Ki Sampang menemukan beberapa prajurit dari gerbang penjaga yang menjadi mata-mata di kediaman Panglima Mandala Putra, saat itu semuanya tertangkap oleh kepiawaian Ki Sampang. "Apakah semuanya terulang kembali?" gumamannya dalam hati. Semakin dia pikirkan, semakin membuat dirinya merasa buntu untuk berpikir.


__ADS_2