
Nyai Gendis melanjutkan perjalanannya dengan hati tidak menentu, "akh...kenapa hatiku jadi seperti ini?" Kenapa wajah Bayu Wira tak bisa aku hilangkan?" berbagai pertanyaan mengenai hatinya sendiri membuat Nyai Gendis seperti hilang kesadaran, kadang dia tersenyum, tetapi sesaat kemudian wajahnya menunjukan kekesalan. "Bayu Wira, tunggulah aku akan mencarimu setelah tugas-tugasku selesai" Nyai Gendis memantapkan langkahnya.
__ADS_1
Ketika malam telah berlabuh, saat semua yang terjaga terkantuk-kantuk, Nyai Gendis sudah berada di atas benteng kediaman Panglima utama Mandala putra, matanya awas mengitari, melihat suasana sekelilingnya dengan tajam. Hari ini dia sudah mendapatkan informasi bahwa Mandala Putra baru pulang menunaikan tugas yang berat di wilayah pemberontak, pasti kondisi fisiknya sedang dalam kondisi yang paling lemah, Nyai Gendis tidak memperhitungkan kekuatan para penjaga, karena merasa yakin dengan kemampuan "Gendam Sukma" nya.
__ADS_1
Saat dini hari tiba, mulailah Nyai Gendis merapal ajian Gendam sukma, suasana semakin dingin mencekam, suara-suara binatang malampun tak terdengar sedikitpun, terlihat beberapa penjaga sudah lunglai tertidur tak dapat menahan kantuknya, Nyai Gendis meloncat dari atap benteng ke bawah, "hiaaath....taph...taph...kakinya dengan sempurna hinggap di depan pendopo yang paling besar dan megah, dengan tenang ia mengayunkan langkahnya ke dalam pendopo tersebut, para penjaga yang terlelappun dilewatinya.
__ADS_1
"Munduuuur!!!....sebuah teriakan keras membuat para prajurit itu menahan serangannya dan mundur teratur tetapi dalam posisi mengepung. "habisi iblis betina pemberontak itu!!! tujuh orang dengan senjata yang berlainan meloncat di tengah kepungan yang megelilingi Nyai Gendis. Nyai Gendis terperangah, menatap sosok yang sedang berteriak memerintahkan membunuhnya. Suara itu tidak asing dan akrab di telinganya, dengan tatapan tidak percaya, Nyai Gendis melihat Panglima muda Arya Permana berdiri di samping Panglima utama Mandala Putra. "Aaargh...aku terjebak, betapa dungunya diriku termakan oleh keculasan Pangeran busuk ini", amarah, dendam, dan sesal berkecamuk di hati nyai Gendis, kini ia berhadapan dengan para pendekar pengawal dari Arya Permana. Andai saja harus berhadapan satu persatu dengan mereka, kemungkinan nyai Gendis masih bisa menghadapinya, tetapi yang kini ia hadapi tujuh orang pendekar sekaligus yang kemampuannya hanya setingkat di bawahnya. Sebuah senjata berbentuk golok meluncur menyerang ke arah perutnya, di susul serangan sebuah Pecut api menyerang kedua kaki, kedua serangan itu bisa di elakan, tetapi saat nyai Gendis mundur sabetan pedang mengarah kepala, walaupun serangan itupun bisa di elakan, tak urung pengikat rambutnya terputus. rambutnya terurai serabutan.
__ADS_1
Arya Permana terlihat berbicara kepada Panglima utama Mandala Putra, "Gusti mohon maaf tanpa seizinmu, aku memerintahkan pengawal-pengawalku untuk menyerang, karena aku tak tega melihat para prajurit penjaga menjadi korban kebiadaban. "Terima kasih Permana, kau telah membantuku menghadapi pengacau ini". Mandala Putra masih mengawasi jalannya pertarungan.
__ADS_1