
Cuaca di Parangtritis yang semula mendung sekarang menjadi cerah, secerah hati Ki Bondan yang bahagia setelah berjumpa dengan cucunya Wirayudha, Setiap pagi Ki Bondan berjalan dengan Wirayudha menyusuri pantai Parangtritis, sedangkan Eyang Padasukma selalu bersama Nini Sangga geni. Mereka bersepakat untuk sementara waktu bergabung di pemukiman.
__ADS_1
Setelah pulih dari cidera, Wiratama kembali berkelana di sekitar Mataram, hatinya masih berharap bisa menemukan Istri dan anaknya, karena itu dia selalu mencari sekecil apapun kabar mengenai keluarganya.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, seorang wanita yang cantik memesan makanan dan minuman tak jauh dari Wiratama, Wiratama hanya memandang sekilas, karena saat itu tak lazim seorang wanita cantik untuk makan keluar di emperan jalanan, tetapi setelah melihat cara berpakaian wanita itu, Wiratama maklum kemungkinan ia dari golongan para pendekar yang berkelana, kembali Wiratama hanyut dalam lamunannya.Tiba-tiba Wiratama terkejut dengan sapaan di sampingnya, "apakah kau tak ingin mengetahui namaku?, Namaku Gendis" kau sepertinya bukan laki-laki normal, tidak terpesona dengan kecantikanku" Siapa namamu Kisanak?" Nyai Gendis memang wanita yang senang dengan pujian laki-laki , ia bangga dan merasa melambung jika melihat laki-laki yang menatapnya dengan terpesona, dan merasa penasaran jika melihat laki-laki yang tak acuh padanya, seperti yang di lakukan oleh Wiratama tadi. "Namaku Bayu Wira nyai, terimakasih kau sudah memperkenalkan diri, Senyuman tersungging di bibir Wiratama. Nyai Gendis melihat senyuman itu sekilas, tetapi tatapannya tak bisa lepas dari wajah Wiratama, "Hmm, wajah yang tak biasa, matanya tajam tapi membuat keteduhan, "akh...kenapa aku yang jadi terpesona?" "hik...hik...hik Nyai gendis tertawa dalam hati. Kemudian dia menyodorkan makanan kecil ke arah Wiratama, "cobalah makananku, ku lihat kau dari tadi hanya minum saja!" kemudian Wiratama mengambil sedikit makanan yang di sodorkan Nyai gendis, "terimakasih nyai", "Hmm...Bayu...Bayu Wira, namamu bagus! Ksatria Angin...kau selalu berada di mana-mana, tak punya pijakan tempat dan tak punya tempat untuk berteduh" Nyai Gendis berbicara sambil menatap ke depan dan kepalanya terangguk-angguk, "Ha...ha...ha kau sepertinya pandai meramal nyai, ramalanmu sebagian memang benar" Wiratama tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Nyai Gendis, entah mengapa saat Wiratama tertawa, nyai gendis merasa hatinya berbunga-bunga, dia merasa senang bisa membuat pria yang duduk di sampingnya itu riang. selama hidup dia belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Wiratama kemudian berdiri dan membayar minumannya, kemudian ia menatap nyai gendis, "Nyai, terimakasih kau sudah menemaniku minum teh pagi ini, semoga hari-harimu selalu menyenangkan", kemudian ia pergi melanjutkan perjalanannya, Nyai Gendis hanya terpana melihat kepergian Wiratama, seolah olah ada sesuatu yang hilang dari dirinya, kemudian dia bangkit berdiri dan berusaha mengejar Wiratama, tetapi sosok Wiratama telah berlalu dan hilang dari pandangannya.
__ADS_1