
Arya Permana terlihat memandangi Pasukan yang sudah di persiapkannya, Tiga hari ke depan pasukannya akan berangkat menuju daerah Kertosono untuk memadamkan api pemberontakan, "Raden, menurutku sangat membahayakan jika raden membawa pasukan seperti ini!" Arya Permana menoleh kepada Rangkayu, "Apa yang kau pikirkan Rangkayu?", Arya Permana sedang berbincang dengan Rangkayu mengenai persiapan pemberangkatan Pasukan.
"Raden, selain memang raden harus memikirkan tentang lawan yang akan kita hadapi di Kertosono, tetapi radenpun harus memikirkan bahaya-bahaya yang akan kita hadapi di perjalanan, sebaiknya kita memecah pasukan menjadi dua atau tiga, di berangkatkan tidak bersamaan, untuk menghindari sabotase oleh pasukan lain".
"Lanjutkan analisamu Rangkayu!", Rangkayupun kemudian melanjutkan sarannya, "untuk pasukan yang terdepan kita isi dengan pasukan yang tidak seberapa kekuatannya, yang berfungsi untuk mengetahui kekuatan lawan, rombongan pasukan ke dua, kita isi dengan Pasukan pemanah untuk mengantisipasi serangan lawan yang di lakukan kepada Pasukan pertama, sekaligus bisa memberikan waktu untuk rombongan pasukan ke tiga yang akan segera menyusul, rombongan pasukan ke tiga adalah kita pasukan berkuda dan para pendekar yang akan mendampingi". "Pasukan yang ke tiga harus kita pecah menjadi dua bagian yang mengambil jalan yang berbeda, untuk mengunci pihak lawan yang berada di tengah, baik yang melakukan penyerangan ke pasukan kita yang pertama atau yang bisa menerobos pasukan pemanah kita". Setelah terdiam sejenak Arya Permana mengambil keputusan "Usulmu aku terima Rangkayu!".
__ADS_1
Arya Permana tersenyum kecil mendengarkan penjelasan Rangkayu, ia tidak meragukan kemampuan Rangkayu dalam menyusun strategi, karena Rangkayu pernah menjadi pemimpin pemberontakan dari daerah Kediri, pasukannya saat itu sedikit tetapi bisa merepotkan pihak kerajaan yang berjumlah banyak karena kemampuan mengatur strategi dalam pasukannya sangat jitu. "Kau sendiri akan ikut rombongan mana Rangkayu?", "Aku akan mengikuti rombongan ke dua raden! Ki Wanara yang mempunyai kemampuan berkuda yang hebat bisa mengikuti rombongan pasukan kami, tetapi dia nanti hanya mempunyai tugas sebagai penghubung di tiga rombongan pasukan, pergerakannya mencakup mata tombak, batang dan ekor. bagaimana menurutmu raden?" Arya Permana mengangguk setuju dengan saran dari Rangkayu.
Sementara itu di markas Panglima utama Mandala putra, Pasukan Bayangan pun sedang menyusun strategi penyerangan yang akan di lakukan, penyerangan itu adalah penyerangan yang sangat membahayakan dan beresiko, karena berhadapan dengan pasukan yang membawa misi kerajaan, sedikit meleset, mereka akan di cap sebagai pemberontak dan akan di serbu oleh pasukan-pasukan kerajaan di manapun nanti mereka berada.
Setelah semuanya di berikan arahan, Panglima Mandala Putra memanggil Ki Wisesa dan Ki Sampang, "Wisesa, cobalah kau hubungi Wiratama!, ia telah berjanji padaku untuk membantu kita menyelesaikan misi ini!", "Baik Gusti!", Ki Wisesa segera keluar untuk sesegera mungkin menghubungi Wiratama melalui pengawal-pengawal Ekspedisi yang telah di sepakati mereka berdua antara Wiratama dengan Ki Wisesa.
__ADS_1
"Ki Sampang, berhati-hatilah menjalankan misi ini!, karena laporan telik sandi kita melaporkan bahwa di antara para pendekar yang berada di pihak Arya Permana, ada beberapa yang mempunyai kemampuan dalam strategi pertempuran, dan yang mempunyai kanuragan yang tinggi.
Tanpa mereka ketahui ada sepasang mata yang mengawasi dan sepasang telinga yang sedang ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
Putri Retno Ningsih, mendengarkan pembicaraan saat ayahnya mulai berbicara dengan Ki Wisesa , di dalam pikirannya pun kini di penuhi dengan ke khawatiran karena menyangkut Wiratama dan bertekad akan memohon agar Wiratama tidak di libatkan dalam misi rahasia ini.
__ADS_1