
Lembah Nirbaya menjadi saksi akan kerja keras Wiratama, terlihat Wiratama dalam wujud setengah Harimau, gerakan-gerakannya melebihi kecepatan bayangan, sehingga terlihat oleh kasat mata dia menghilang dan muncul silih berganti.
"Wira, kau di takdirkan menjadi seorang Ksatria pilihan, di dalam darahmu mengalir dua aliran darah, Majapahit dan Padjajaran.
"Lanjutkan olah kanuraganmu! dengan jurus-jurus yang ku berikan! kombinasikan dengan Aji Macan Lodayamu!"
"Baik Kyai!"....Wiratama bersiap menyerang Ki Gede Baruna.
"Graaaaumhhh!...Angin bercampur batu mengelilingi tubuh Wiratama, Raungan dari Wiratama kini terdengar berbeda, bukan hanya menggetarkan Goa. Setelah ada raungan kelanjutan, angin yang bercampur kerikil lembah yang memutari tubuhnya melesat dengan cepat dan keras berpencar ke segalah arah, "Dhuuuarh...Dhuaaarh! menancap di dinding-dinding goa.
Ki Gede Baruna yang terkena dampak lesatan batu, tidak bergeming sedikitpun, setiap lesatan batu yang mengenai tubuhnya langsung pecah menjadi debu.
"Groooakh...Wuuush...Wuuush...Lengan berbulu loreng memburu tubuh Ki Gede Baruna, "Lodaya membelah bukit!....
Cakar tangan Wiratama laksana bilah pedang, "Craaaash.....Ki Gede Baruna mengelak, membuat lengan loreng itu amblas ke dalam dinding goa sedalam siku tangan.
"Braaaakh!.... saat lengan itu di cabut, dinding goa bergetar seperti mau runtuh.
"Pukulan Roh Lodaya!... tubuh Wiratama tiba-tiba berada di depan Ki Gede Baruna,...Kepalan tangannya menggenggam, menghantam, mengincar tubuh Ki Gede Baruna.
Kecepatan Wiratama saat ini mengimbangi kecepatan Ki Gede Baruna, sehingga pukulan Roh Lodaya tidak dapat di elakkan...pukulannya di sambut dengan pukulan yang tidak kalah dahsyat...."Blaaamh..."Blaaamh...
__ADS_1
Dinding Goa bergetar, mengakibatkan keretakan pada atapnya.
"Craaakh...Craaakh...Craaakh...jari-jari yang telah mencuat kuku tajam itu membuat gerakan besetan dari atas ke bawah, susul menyusul tanpa jeda.
Ki Gede Baruna sampai menjatuhkan diri dan berguling ke sisi, akibatnya membuat batu sebesar Kerbau di belakangnya terpotong-potong menjadi beberapa bagian
"Gunakan tombakmu!".... Ki Gede Baruna memberikan perintah.
Wiratama berdiri kokoh dengan kaki terpentang, tangannya meloloskan Tombak pendek dari punggung, "Graaaaumhhh..., !
Dari tubuhnya kini keluar Tujuh Bayangan yang menggenggam tombak, kemudian melesat ke depan bersamaan. "Lodaya Mencabik Mangsa....
Tombak-tombak dari tujuh bayangan melesat mendahului si empunya, "Trang...Trang...Traang!"....beturut-turut putaran tangan Ki Gede Baruna memotong gerakan tombak, membuat tubuhnya gontai ke belakang. Tujuh bayangan menyerbu dengan pukulan beruntun, sementara itu Tombak-tombak yang telah di belokan arahnya melayang di atap goa...bersiap untuk menghunjam tubuh Ki Gede Baruna di bawah.
Di saat tombak itu akan menancap, "Srrraph...Sraaaph...Tujuh Bayangan Wiratama menyambar gagang tombak masing-masing. dan langsung masuk ke dalam tubuh Wiratama yang sedang berlutut akibat benturan tenaga dalam yang terjadi tadi.
Tanpa menghiraukan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Wiratama berlari memeluk tubuh Ki Gede Baruna.
"Kyai!..Kyai!... Maafkan aku!"
"He...He..He..Tidak mengapa Wira! ini hanyalah cidera biasa! aku bangga kepadamu, hanya membutuhkan beberapa purnama, kekuatanmu hampir sempurna!"
__ADS_1
"Hei...Wira, kami belum menjajal kemampuanmu!" Tujuh Macan Lodaya yang biasanya melindungi dirinya muncul dengan tiba-tiba, dan langsung melakukan gerakan berputar mengelilingi Wiratama.
"Graaaumh...Tubuh Wiratama yang masih di dekat Ki Gede Baruna di terkam oleh salah satu Lodaya yang berukuran paling besar, di lemparkannya tubuh Wiratama ke atap goa beradu dengan batu-batu dinding goa.."Blaaaarh..
Detumam suara keras menghancurkan dinding goa membuat tubuh Wiratama jatuh berdebum ke tanah..."Bhuuum!"
Terlihat tanpa belas kasihan, enam dari Lodaya yang tersisa, bersamaan menerkam dan berniat mencabik-cabik Wiratama.
Tubuh Wiratama yang mengalirkan banyak darah terus berkelit dan mengelak membuat langkah-langkah Bayangan Dewa, "Slllaaaph...Slaaaph!.....Cakar-cakar Lodaya tidak dapat menyentuh sedikitpun Wiratama.
"Hiiiaaaath!.... setelah mengelak dari serangan Lodaya, Wiratama menjatuhkan diri ke bawah dan membuat tendangan putar. "Desh....Deshhh...Desh...Braaakh!...tepat mengenai kepala-kepala Lodaya yang mengeroyoknya.
"Graaaummmh!...Hrrrr.....Kekuatanmu telah naik bepuluh kali lipat Wira!"
"Wiratama yang bersimbah darah masih sempat tersenyum kepada Lodaya yang memutari dirinya, "Selama ini kalian telah menyembunyikan diri dariku, tidak pernah mengajakku berbicara sedikitpun!"
Terdengar suara Ki Gede Baruna menyahut, "Saudara-saudaramu telah meminum Tirta Wening Wira!... mereka sekarang bisa bercakap denganmu layaknya manusia!"
"Terimakasih Kyai! aku banyak berhutang budi kepadamu!" Wiratama berlutut kepada Ki Gede Baruna, "Haaish...aku tidak suka dengan sikapmu Wira! kau tidak perlu berlutut untuk berterimakasih kepadaku!" Pelukan hangat di berikan Ki Baruna kepada Wiratama.
Kemudian Wiratamapun memeluk satu persatu Lodaya yang masih mengelilinginya, lidah Lodaya menjulur dan mengobati luka-luka Wiratama akibat latih tanding.
__ADS_1
"Ggrhhh...Wira, kami akan membantumu mendapatkan Kembang Wijaya Kusuma! berusahalah lebih baik lagi untuk mempersiapkan segalanya!"....