
Ki Respati berjalan keluar dengan perasaan dongkol dan kesal, ia berteriak memanggil putri semata wayangnya yang selalu ikut kemanapun dia pergi, "Candrasih!...Candrasih!"
Tidak lama berselang berkelebat sosok perempuan mendekati Ki Respati, "Ada apa Romo memanggilku dengan berteriak-teriak seperti itu?" seorang perempuan cantik dengan penampilan seorang pendekar, rambutnya panjang terikat dengan hanya seutas tali di belakangnya, pakaiannya sederhana terbuat dari kulit harimau, kulitnya cokelat menampakan sering tersengat matahari.
"Candrasih, sepertinya telah tiba waktu kita untuk menyambangi pendekar-pendekar yang telah merapat di pulau ini, mulailah kau taklukan mereka satu persatu, romo yakin kau mampu melakukannya, tetapi jika kau kesulitan, romo akan datang untuk membantumu!"
"He..He..He..Romo! sebelum kau perintahkan kepadaku, aku sudah mulai bergerak dari hari-hari yang lalu, lihatlah!....Suuuuiittth!"..terdengar Candrasih mengeluarkan suitan panjang yang sangat memekakan telinga, saar suitan itu selesai tidak lama kemudian, berkelebat beberapa sosok laki-laki dan perempuan dengan perawakan sangar dan sadis berlompatan mengelilingi mereka berdua, Candarasih dan Ayahnya. kemudian Candrasih berteriak memerintahkan mereka "Perkenalkan diri kalian kepada penguasa Nusakambangan ini!" tangannya menunjuk kepada Ki Respati.
"Aku Warangka Bumi!...terlihat kakinya menginjak tanah sebanyak tiga kali, terasa bumi terkena lindu atau gempa, menunjukan sosok ini menguasai tingkat tenaga dalam yang tinggi.
"Wush....wush....di depan Ki Respati, pria yang memakai pakaian hitam melemparkan pedangnya dengan kecepatan kilat, pedang tersebut terlempar ke atas seperti mempunyai mata yang tajam, bergerak, berkelebat memapas dedaunan yang berada di sekeliling, dalam waktu yang singkat, pedang itu telah merontokan dedaunan yang sebelumnya rimbun dan lebat, pria itu menjentikan jarinya memanggil pedang, Brusssh! bilah pedang yang sebelumnya berputar, kini amblas masuk ke dalam tanah tanpa tersisa. "Aku pedang kilat segoro kidul!"
Berturut-turut kemudian mereka yang berada di depan Ki Respati mengenalkan diri sambil memperlihatkan keahliannya masing- masing. "Kami akan ikut semua perintahmu Ki!"
"Baiklah, aku terima kalian sebagai pengikutku, ikutilah putriku Candrasih untuk melakukan pengamanan di wilayah kita!"
__ADS_1
Tanpa bertanya kembali mereka berangkat untuk mengelilingi Pulau Nusakambangan.
Di tempat lain, masih dalam Pulau Nusakambangan, Wiratama bersama Empat Begal dari Jambusari masih menyusuri tepian hutan Bakau yang luas, Brajanata berjalan paling depan menjadi petunjuk jalan.
"Brajanata, jangan bergerak!" seruan Wiratama nyaring terdengar membuat Brajanata menghentikan langkah dan diam di tempat. "Lihat Brajanata apa yang kau injak?" kembali Wiratama bertanya...
"Bilah bambu hitam Raden!" tubuh Brajanata mulai bergetar, karena dia mulai merasakan desakan yang kuat dari dalam tanah.
"Hiaath....Swuuuth....Srraapph! Wiratama meloncat menyambar tubuh Brajanata dengan cepat, kemudian keduanya berguling menjauh.
Bersamaan dengan kedua tubuh mereka meloncat, permukaan tanah yang berada di bawah bilah bambu menjadi amblasssh....Bruuugh!... dari dalam lubang menyambar beberapa puluh bambu yang ujungnya runcing menyambar ke atas...Wussh...wush...Braakh. ..saling bertambrakan di udara.
"Hkkkh...terimakasih Raden!"...suara Brajanata terdengar bergetar. "Berhati-hatilah Brajanata, banyak perangkap yang terpasang di sini!"
Tidak lama berselang, terdengar suara yang menggelegar "Setelah apa yang kalian lakukan kepada Sentanu, kalian tidak akan ku biarkan hidup!"...Blarrh...Blaarh....! gelombang cahaya hitam menderu menyerang Wiratama dan Brajanata.
__ADS_1
Sementara itu Somantara beserta kedua adik seperguruannya meloncat menghidar, menjauhi arena pertempuran.
Di antara kepulan debu yang semakin lama menghilang, kini terlihat laki-laki tua yang berdiri dengan wajah yang mengancam.
"Brajanata, bergabunglah dengan saudara-saudaramu, biarkan aku yang menghadapi orang tua ini!" Kemudian Wiratama bersiap melakukan pertarungan.
"Orang tua! setelah apa yang kau lakukan, aku tidak pantas menanyakan apapun darimu, terimalah seranganku! Hiaaaath....Braaakh...Braaakh...!"
Wiratama melakukan serangan dengan pukulan dan tendangan yang di aliri dengan Selaksa Gunung, Kakek tua itu tidak menghindari serangan Wiratama, ia hanya memundurkan kaki kanannya ke belakang, dan menepis semua serangan Wiratama dengan kedua tangannya.
Tetapi ia pun tidak mengira seberapa kuat tenaga dalam Wiratama, tangkisannya membuat tubuh tua itu terdorong lima langkah ke belakang. "Heeekh....Keparat! ternyata kau berisi juga anak muda!" tubuhnya bersiap menyerang balik, "Bayuuu Saketii!!"....
Wiratama yang melihat tanda lawannya mempergunakan Ajian Bayu Saketi, membuatnya mengeluarkan Ajian yang sama, "Bayuu Saketiii!!....
"Blaaarh....Blaaarh....Blarrrh...!!!"
__ADS_1
Tiga kali adu pukulan terjadi secara beruntun, membuat keduanya terjengkang ke belakang...Bruuuggh....Bruuugh..!...
Dengan cepat Wiratama berdiri dan mengatur nafasnya kembali. Ada keinginan Wiratama untuk mengeluarkan Aji Lodayanya, tetapi ia masih bersabar untuk menunggu apa yang akan di lakukan kakek tua itu.