
"Ah, kau Kisanak!, terimakasih atas pertolonganmu saat itu, mohon maafmu aku baru pulih setelah menghadapi cidera yang berat" Nyai Gendis menjura sambil mensedekapkan kedua tangannya di depan dada saat mengucapkan terimakasih.
Kemudian laki-laki itu melangkah lebih dekat "aku menunggu dan mencarimu di sekitaran Gunung Sumbing, aku menjalankan tugas dari Panglima Mandala Putra, selain menolong untuk membebaskanmu dari pengeroyokan, aku di perintahkan menawanmu, apakah kau siap untuk ikut denganku Nyai?" Nyai Gendis melirik ke arah Wiratama, berharap meminta bantuan bagaimana dia harus bersikap.
"Kisanak, setelah kau menolong dia, kenapa harus menawannya?" Wiratama mencoba menengahi. "Aku tidak mempunyai kewenangan untuk menjawab pertanyaanmu anak muda! aku hanya menjalankan tugas tanpa harus menanyakan maksud dari junjunganku". "Baiklah Ki, aku bisa memahami posisimu sekarang, tapi aku bisa memberikan sedikit keterangan mengenai peristiwa percobaan pembunuhan kepada Gusti Panglima Mandala Putra, aku di jebak oleh Arya Permana, ini adalah muslihat yang dibuatnya". Nyai Gendis mencoba memberikan keterangan.
Ki Wisesa dengan wajah tak berubah, balik mengucapkan penolakan keterangan yang di berikan oleh Nyai Gendis "apapun jawabanmu kau hanya bisa menyampaikan secara langsung kepada Gusti Mandala Putra, kau harus mempertanggung jawabkan semua tindakanmu!" selesai dia berujar, jari tangan Ki Wisesa berusaha menotok jalan darah di sekitar leher Nyai Gendis, serangannya sangat cepat sehingga Nyai Gendis tak sempat menghindarinya, tetapi sebelum jari itu mendarat di leher Nyai Gendis, sebuah telapak tangan menyapok pergelangan tangan Ki Wisesa, "Plakh.....serangan Ki Wisesapun gagal.
__ADS_1
"Hmm...anak muda!" kau menggagalkan seranganku, berpikirlah bijak sebelum bertindak, kau menghalang-halangi tugasku!", Wiratama menjura di depan Ki Wisesa, "kata - katamu benar Ki!" , tetapi aku mohon kebijakanmu dalam menyelesaikan masalah ini!" berikan kami waktu untuk berpikir, aku yang akan menjamin, dan yang akan mengantarkannya sendiri menghadap Gusti Panglima". "Tidak bisa Kisanak, aku tetap akan menjalankan tugas!" tubuh Ki Wisesa berkelebat ke arah Wiratama, kedua tangan nya memukul ke arah depan, angin serangan pukulan itu sampai berbunyi, "Ciiith....swuth.....Wiratama tidak mau bertindak sembarangan menahan serangan, yang di lakukannya mengelak dan merubah posisi berdirinya, setelah pukulannya bisa di elakan, tendangan-tendangan beruntun mengarah tubuh Wiratama,
"Wush...wush....angin serangan tendangan kaki itu memaksa Wiratama mundur sekitar satu tombak untuk menghindarinya, Ki Wisesa berdiri kokoh mempersiapkan serangan susulan. "Hiaaaath....wush....wush....tendangan dan pukulanpun kembali mencoba melumpuhkan, kali ini Wiratama mencoba mengukur ketinggian tenaga dalam lawan, ia tidak menghidari pukulan maupun tendangan tersebut, tangannya di aliri tenaga dalam sepenuhnya dan menggunakan Selaksa Gunung untuk menangkis serangan lawan, "wush....wush....dhuarh....dhuarh....terjadi benturan pukulan dan tenaga dalam, Ki Wisesa dan Wiratama sama-sama terjajar kebelakang sekitar dua tombak, Wiratama kembali menyiapkan dirinya "Kau hebat Ki!" : "Kau pun hebat anak muda, bisa menahan serangan-seranganku" Ki Wisesa pun balik memuji Wiratama.
Tanpa sungkan-sungkan lagi, kini Ki Wisesa menyerang Wiratama dengan jurus-jurus yang berbahaya, kedua jari-jari tangan nya kini membentuk patukan, dari sayap-sayap lengannya keluar semacam asap berwarna putih dan bau amis, Wiratama sadar patukan-patukan itu mengandung racun ular ganas, secepatnya ia pun menelan serbuk putih pemberian Ki Danang untuk menetralisir pengaruh bisa ular tersebut, kemudian lengannya bergerak mengibas , asap-asap putih tersebut terdorong oleh angin kibasan lengan Wiratama, kemudian Wiratama pun melakukan serangan-serangan, jari-jarinyapun membentuk paruh elang memapas serangan-serangan patukan ular dari Ki Wisesa. kecepatan gerakan keduanya semakin meningkat sehingga terlihat seperti bayang-bayang yang saling menyerang.
Berpuluh jurus telah di lewati oleh keduanya, setelah benturan tenaga dalam terjadi kembali, keduanya berjumpalitan ke belakang.
__ADS_1
Ki Wisesa mengatur nafasnya yang memburu, peluhpun mengalir ke dahi serta wajahnya.
Sementara itu Wiratama bersiap mengatur posisi lengan dan kakinya kembali untuk mempersiapkan serangan berikutnya,
"Graaaaumh.....terdengar suara auman yang menggetarkan isi dada, suara itu tanpa langsung menyerang kuda-kuda Ki Wisesa, membuat kuda - kuda kaki nya goyah, melihat kesempatan itu Wiratama melompat, kedua tangan nya memukul ke arah Ki Wisesa, sedangkan Ki Wisesapun tak kalah gesit ia sama-sama melompat ke depan, terjadilah benturan-benturan pukulan di udara, "Hiaaath....dhuarh....dhuarh.... braakh....."aaargh.....teriakan kesakitan pun terdengar dari mulut Ki Wisesa, ia terjajar ke belakang dan jatuh berlutut. Sementara Wiratamapun terjajar ke belakang tetapi tidak sampai roboh, hanya saja caping yang menutupi kepalanya hancur, serta ikat kepalanyapun terlepas.
Mata Ki Wisesa melotot dan mulutnya tercengang.....saat melihat wajah Wiratama.
__ADS_1
Dalam keadaan berlutut ia bergumam lirih, "Arrrgh....ampuni aku Gusti Senopati...aku hanya menjalankan tugas!" Wiratama berjalan mendekat dan berusaha membangunkan Ki Wisesa, "tidak mengapa Kakang Wisesa, aku semakin salut padamu, kau tetap setia kepada tugas-tugasmu, jangan menghormatiku seperti itu lagi, kau lupa kakang, aku bukan seorang Senopati lagi!" kemudian Wiratama memeluk Ki Wisesa yang tertunduk.