
"Pandanwangi, satu tahapan telah kau lewati, kau sekarang adalah penerusku untuk mendampingi rakyat kita yang sudah merindukan Junjungannya kembali, kau pelajarilah cara kehidupan mereka di Kitab "Sarpa Sahasra" ( ular seribu), Ayomi mereka dan sayangi mereka"... "Baik Nyi Guru, aku akan melaksanakan titahmu.
"Wusssh.....terjangan angin membuat Nini Sangga geni siuman dari pingsannya, Nini Sangga geni terlentang, matanya menatap langit-langit yang gelap, ia baru saja bermimpi di datangi gurunya dari puncak Ciremai, kemudian ia berusaha duduk dengan bantuan kedua lengannya. "Aaakh...Nini Sangga geni menjerit, bahunya terasa sangat sakit, barulah kemudian sadar bahwa kini dia tidak mempunyai tangan kiri karena dengan sengaja ia potong untuk memenuhi persyaratan mendapatkan ilmu dari Kitab Sarpa Sahasra.
Dengan susah payah, Nini Sangga geni akhirnya duduk, pandangannya melihat sekeliling yang masih samar, tetapi matanya masih dapat melihat ratusan ular-ular, baik yang berbisa maupun tidak, sedang mengelilinginya.
__ADS_1
Pagi telah tiba, Nini Sangga geni berdiri sambil memegang bahunya yang masih terasa sakit, berjalan meninggalkan Padepokan Eyang Padasukma. Nini Sangga geni berjalan hanya mengitari lereng tersebut, ia tidak bermaksud pergi jauh dari tempat itu, hanya mencari goa yang bisa untuk dirinya beristirahat menyembuhkan luka lengannya.
Tidak berapa lama, ia pun menemukan sebuah goa yang cukup untuk di tinggali, dan mulai membersihkannya. Dengan suatu tekad, akan secepatnya mempelajari cara mengendalikan ular-ular yang akan di pergunakannya membalas dendam.
Di belakang tempat berlatih para pendekar pengawal Arya Permana, Danang Seta terbujur di lantai papan kayu, di sampingnya terlihat Ki Sampang yang sedang duduk bersila, menaburkan serbuk obat yang bisa mengurangi sakit akibat luka bakar, "apa yang terjadi padamu Danang Seta?" luka ini bukan akibat terbakar api biasa, api yang membakarmu mengandung serpihan belerang, lukamu tidak akan mudah di sembuhkan!"
__ADS_1
"Padasukma mati terbunuh setelah melepaskan pukulan lahar merapinya", Ki Sampang tersenyum sinis. "Aku yakin kau membunuhnya tidak sendiri!, " ternyata julukanmu tidak sesuai dengan kemampuanmu!, aku jamin jika kau menghadapinya sendirian, kau akan mati mengenaskan Danang Seta! lekaslah kau sembuh, aku ingin mencoba menghadapimu kembali, kali ini aku ingin merasakan darahmu yang segar saat aku cabik-cabik!"...Ki Sampang meninggalkan Ki Danang Seta sendirian.
Tanpa disadari Ki Danang Seta, Ki Sampang telah menukar bubuk racun ular yang berada di bajunya dengan bubuk obat, sekali waktu hal ini akan berakibat fatal saat ia melakukan pertempuran.
Danang Seta memandang langit-langit ruangan, merenungi kejadian demi kejadian yang ia lewati, "benarkah tindakanku ini? aku terperosok dengan siasat Arya Permana", aku yakin suatu saat nanti kematian Padasukma kemarin akan menimbulkan masalah besar yang akan melibatkanku". "Argkh....Ki Danang Seta mengerang kembali.
__ADS_1
Ki Sampang berjalan keluar dari tempat pelatihan milik Arya Permana, yang di tujunya adalah tempat rahasia yang biasanya dia pakai untuk laporan mengenai situasi yang sedang berkembang, setelah dia berjalan cukup jauh dan.memastikan tidak ada yang mengikuti, Ki Sampang berlari cepat menggunakan Aji Menjangan kabutnya, tubuh yang tadi terlihat lemah, kini berkelebat sehingga hanya bayangan hitam yang terlihat, setelah sampai di suatu tempat di pedataran padang rumput, Ki Sampang berhenti dan mendekati salah satu penggembala kambing yang sedang menuntun hewan peliharaannya, dia menyapa dengan sandi tertentu untuk menemukan telik sandi yang merupakan satu kelompoknya, "siapakah di antara kalian yang bisa menunjukan dimana sarang Harimau berada?" gembala itupun menjawab "Sarang Harimau berada di Hutan yang berjarak seratus tombak dari berdiri kita "Kisanak!" Ki Sampang melanjutkan perkataannya "aku ingin mengantarkan makanan untuk Harimau disana!"... telik sandi yang menyamar menjadi gembala tersebut terdiam tak bisa langsung menjawab, "Hiaaath...desh..desh...dua totokan bersarang di lehernya membuat ia terjatuh, tetapi sebelum menyentuh tanah, tubuh itu di sambar oleh Ki Sampang dan membawanya lari kembali ke arah lain.