Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Petualangan Berat


__ADS_3

Ki Pralaya melihat Tujuh Harimau dari Tidar tidak berkutik di depan Wiratama, "Kisanak kami tidak mempunyai urusan denganmu, wanita yang berada di sampingmu buronan kerajaan, pikirkanlah! jika kau membantunya , kau pun akan terus di buru pihak kerajaan" Ki Pralaya mencoba mengancam Wiratama agar tidak turut serta ikut campur dalam usahanya membunuh Nyai Gendis.

__ADS_1


"Kau tak perlu banyak bicara Ki, lanjutkan pertarungan ini! dan jangan berpikir melarikan diri, aku akan membasmi kaki tangan Arya Permana sampai akar-akarnya!" Nyai Gendis sementara ini hanya menonton, karena ia pun ingin melihat sampai dimana kehebatan laki-laki yang bisa membuatnya jatuh hati ini.

__ADS_1


Tujuh Harimau dari Tidar dan Ki Pralaya menyerang Wiratama, "Hiaaaath....."Harimau menggulung bumi"....tujuh pasang tangan dengan jari-jari yang tajam menyerang Wiratama, mereka membagi penyerangan, tiga pasang cengkraman menyerang bagian atas tubuh Wiratama, empat pasang mencoba mencengkeram bagian tubuh yang bawah. Wiratama meloncat tinggi ke atas untuk menghindari serangan dari bawah, kemudian ia menukik turun, menangkis cengkeraman - cengkeraman tiga pasang lengan yang mengarah ke depan, "Desh....desh....kragh....benturan terjadi dari lengan-lengan yang beradu, karena tenaga dalam tiga pasang lengan itu jauh di bawah Wiratama, membuatnya terpental balik dan sepasang lengan yang menerima tangkisan pertama mengalami cidera yang parah.

__ADS_1


Wiratama mengalihkan pandangan ke arah Tujuh Harimau dari Tidar, "kenapa kalian berhenti menyerangku?" tujuh pasang mata saling memandang dan memberi tanda di antara mereka, mereka sepakat menyerang Wiratama dengan salah satu ajian andalannya "Hiaaaath...Wuush...wush...wush.....dari ketujuh pasang tangan mereka keluar gelombang sinar hitam yang menyerang tujuh titik kelemahan, Wiratama pun mengangkat kedua tangannya menarik ke belakang dan kemudian di dorongkan ke depan, Badai gunung Ciremai gelombang yang sangat panas memapas tujuh sinar hitam yang melesat, "dhuaaaarh......suara benturan pun terdengarr sangat keras, Wiratama tetap tegak berdiri, hanya kedua kakinya saja yang melesak sekitar tiga depa ke bawah tanah. Tujuh Harimau dari Tidar terlempar ke belakang dengan keras, beberapa menabrak pohon-pohon sekitar, dan sebagian beguling-guling, mereka terkapar dan tewas dengan tubuh yang gosong dan hitam seperti terkena petir. Nyai Gendis dan Ki Pralaya tercengang melihat akibat ajian Badai gunung ciremai dari Wiratama. Ki Pralaya menarik nafas dalam-dalam dan mencoba menenangkan hatinya yang berdegup kencang, "Kisanak, apa yang kau lakukan hari ini akan berakibat besar bagimu!" tunggu pembalasan kami, kemudian ia berbalik dan meloncat untuk mencoba melarikan diri. Berkelebat tubuh Wiratama menghadang di depan Ki Pralaya, "Setelah apa yang kau lakukan, kau mencoba lari dariku?" Ki Pralaya berhenti dengan perasaan takut, "apa yang akan kau lakukan kepada salah satu pengawal Panglima Muda?" ia mencoba untuk menggertak. "Ha...ha...ha, Pralaya kau masih congkak... tak bisa melihat gunung di hadapanmu?" Nyai Gendis tertawa sambil menghampiri mereka berdua, "Kangmas, Pralaya ini pengawal dari Arya Permana yang bertugas mengumpulkan gadis-gadis cantik untuk selir dari Arya Permana, sebagian ia paksa dengan ancaman-ancaman agar mau menjadi selir, dan ia pun tak segan-segan untuk membunuh mereka yang menolak". Ki Pralaya menatap Nyai Gendis dengan Tatapan amarah "tutup mulutmu wanita hina!" Nyai Gendis melompat dengan pedang kembarnya, "Hiaaath.....crash....crash.....menebas kedua tangan Ki Pralaya, Ki Pralaya mengerang menahan sakit yang tak terkira, darah bercucuran dari kedua lengannya yang buntung, tidak lama kemudian roboh tidak sadarkan diri. Wiratama kemudian mendekati Nyai Gendis, "Nyai, kita harus secepatnya meninggalkan daerah ini, untuk menghindari bahaya-bahaya yang akan datang.

__ADS_1


Tetapi sebelum mereka melangkah, terdengar suara dari arah belakang, "Nyai Gendis, aku telah memintamu menungguku di Gunung Sumbing, apakah kau melupakan bantuanku padamu?" Wiratama dan Nyai Gendis berpaling ke belakang dan melihat sesosok laki-laki dengan pakaian hitam menghampiri mereka.

__ADS_1


__ADS_2