Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kabut Hitam VI


__ADS_3

Dewi Pramudita berlari melewati gelapnya malam, ia baru berhenti di sebuah bangunan tua yang mirip dengan Candi. kemudian tubuh Wiratama di baringkannya di batu besar yang datar.


Kemudian ia duduk di samping tubuh Wiratama, "Kakang Purbaya, apa yang telah membuatmu melupakan diriku?" suara bisikan terdengar dari mulutnya, "apakah engkau mendendam kepadaku pada kehidupanmu saat ini?" kemudian terdengar suara isak tangis Dewi Pramudita.


Dengan tidak terduga, sosok Wiratama bangun dan duduk di atas batu itu. "aah...kau berpura-pura tidak berdaya!, Dewi Pramudita mundur ke belakang dan menatap Wiratama.


"Benar Nisanak! aku sengaja mengikuti keinginanmu melarikan diri, untuk mengetahui apa alasanmu yang sesungguhnya membuat keonaran di Kotaraja!" uhk...uhk....Wiratama terbatuk, dari celah bibirnya, ada sedikit darah yang keluar.


"Kakang Purbaya, aku mempunyai alasan yang kuat, seperti yang pasti kau ketahui, jika aku tidak menyerap cahaya kehidupan dari yang lain, aku tidak mempunyai kemampuan, ilmu-ilmu yang sebelumnya aku miliki tidak akan bisa aku pergunakan kembali. dan selanjutnya aku pasti akan mati".


"Nisanak, kau terlalu merasa yakin sepenuhnya jika aku adalah Purbaya, berapa kali lagi harus aku katakan, aku bukan Purbaya". "Mungkin saja aku mempunyai kemiripan dalam wajah, katakan apakah ada ciri lain di dalam tubuhku yang kau tahu, jika aku memang Purbaya yang kau maksud!"


Mata Dewi Pramudita menatap lekat-lekat ke arah Wiratama, kali ini Dewi Pramudita merasa bimbang dengan keyakinannya, "benar katamu Kakang, aku masih hapal ada tanda lahir di bagian punggungmu yang membentuk sebuah tombak kecil, perlihatkan punggungmu kepadaku!"


Wiratama tersentak dengan pengakuan dari Dewi Pramudita, di tubuhnya memang tidak ada tanda lahir seperti itu, tetapi dia hapal betul tanda lahir itu di miliki oleh ayahnya yaitu Ki Bondan Wiratama.

__ADS_1


Wiratama akhirnya membuka bajunya dan kemudian memunggungi Dewi Pramudita "cobalah kau lihat Nisanak! apakah tanda lahir itu ada di punggungku?"


Dewi Pramudita mendekat dan memperhatikan punggung Wiratama dengan bantuan cahaya rembulan, kemudian tangannya yang lentik meraba punggung Wiratama, "apakah ada tanda tersebut di punggungku Nisanak?" Wiratama berbalik dan memakai bajunya kembali.


Dewi Pramudita kemudian terdiam dengan wajah yang memperlihatkan kekecewaan. tarikan nafasnya terdengar perlahan, "tanda itu tidak ada padamu Kakang, tetapi aku masih merasa yakin, kau adalah Purbaya". Wiratama akhirnya melakukan hal yang sama, menghela nafas dan kemudian bertanya "berarti kau akan tetap menawanku Nisanak?"


"Aku tidak perduli di kehidupan yang sekarang kau bernama siapa! tetaplah bersamaku!" hentikan panggilanmu kepadaku dengan panggilan yang seolah-olah aku orang asing bagimu!, aku Dewi Pramudita, dan kau terbiasa memanggilku dengan Pramudita"


"Baiklah Pramudita, sekarang apa yang kau inginkan dariku?", "Tetaplah bersamaku Kakang!"


"Baiklah Kakang, jika memang itu yang kau inginkan, lebih baik aku membunuhmu!", wush....slaph...tubuh Dewi Pramudita lenyap dan menjadi segumpal asap tebal yang menyelubungi area sekitar, Harimau yang berada di dekat Wiratama mengaum...Graaaumh...tujuh ekor langsung meloncat mengelilingi asap tebal itu,


Kaki belakang mereka menekuk dan kemudian meloncat menyerang masuk ke dalam gumpalan asap. terdengar suara keras seperti suara benturan-benturan benda keras...dharh....dharh...dharh... suara auman dan suara teriakan wanita silih berganti.


Sementara itu Wiratama duduk bersila dan memejamkan matanya, menyatu dengan jiwa-jiwa Harimau yang sedang bertempur di dalam ruang ghaib milik Dewi Pramuditha.

__ADS_1


"Hiaath....jledarh....dhuaaarh....Aaaaaaarkh....begh...terlihat tubuh Dewi Pramudita terlempar dari dalam kabut asap tersebut, tubuhnya tergusur di lantai batu ruangan itu. gelungan rambutnya terlepas membuat rambutnya tergerai menambah sosoknya menjadi mengerikan.


Tidak lama setelah tubuh Dewi Pramudita terpental, terlihat tujuh ekor Harimau meloncat dari dalam asap yang kemudian perlahan mulai hilang.


"Arrrgh...hoeehkh....tubuh Wiratama goyah, keluar darah segar dari mulutnya. Salah satu Harimau mennyanggah tubuh Wiratama dari belakang yang membuatnya tidak terjatuh.


Keadaan Dewi Pramudita tidak lebih baik dari Wiratama, beberapa kali mulutnya menyemburkan darah hitam, sedangkan enam ekor Harimau yang lain mengelilingi tubuhnya.


Wiratama masih mampu berdiri, tangannya kini menggenggam tombak pendek yang ujungnya membara. "Hiaaath....plash...plash....ujung tombak itu menukik menghunjam tubuh Dewi Pramudita.


"Aaarkh...terdengar teriakan dari mulut Dewi Pramudita, tubuhnya beranjak mundur, terlihat tubuhnya berlubang, terkena ujung tombak.


"Kakang, jangan harap aku akan pergi begitu saja!" akan lebih banyak jatuh korban lagi karena kekejamanmu kepadaku!" Plassh....tubuhnya kemudian perlahan hilang dari pandangan.


Wiratama terhuyung dan jatuh, kemudian kedua tangannya berusaha menggapai naik ke atas punggung Harimau yang bertubuh paling besar, tubuhnya tertelungkup di atas punggung salah satu Harimaunya yang kemudian meloncat membawa Wiratama pergi.

__ADS_1


"Grauuumh.....graaaumh...Harimau-harimau yang lain kemudian meloncat mengikuti.


__ADS_2