Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Situasi Mencekam


__ADS_3

"Blaaadhr...Blaadrrh!... dua dentuman keras yang menimbulkan getaran sekitar Pulau Nusakambangan terdengar, membuat kelompok pendekar yang berkumpul terkejut.


Pangeran Adiraja yang sebelumnya sedang berbicara kepada mereka dengan antusias menjadi terdiam, ada rasa ke khawatiran yang muncul, karena ia merasakan dentuman sekeras itu bukan kejadian karena alam.


Selang beberapa saat, semua yang sedang bergerombol tekejut dan secara spontan mundur menjauh, tidak ada bunyi desiran angin ataupun debu, kini terlihat di depan mereka sepasang manusia berdiri menghadapi Pangeran Adiraja. Kehadiran mereka yang tiba-tiba seperti datang dari alam ghaib.


"Kangmas, lihat! mereka melihat kita seperti melihat setan tua!...Hik...Hik...Hik!" suaranya mirip lengkingan yang tinggi membuat gendang telinga yang mendengarkan serasa tertusuk.


"Hua...Ha...Ha..Ha! memang kita adalah sepasang Setan 'Nimas, wajar saja kalau mereka ketakutan melihat kita!" suara pria tua ini berbeda, suaranya berat dan serak mengetarkan dada bagi yang mendengarkan.


Diantara para pendekar yang bergerombol, Gempar bumi adalah yang paling berusia tua dan paling lama menempati Pulau Nusakambangan, saat dulu kala, ia pernah mendengar kisah legenda sepasang Iblis laut selatan yang sangat kejam dan mendapat hukuman sangat berat di pulau Nusakambangan, konon sepasang Iblis laut hanya sanggup di kalahkan oleh Panembahan Senopati yang sangat terkenal kesaktiannya.


Dengan perasaan yang berdebar, Gempar Bumi mengamati wajah keduanya, Pria tua bertubuh kurus dan tinggi, rambutnya tersanggul di lilit kain yang ada noda darah, serta wanita tua yang hampir mirip sosok tubuhnya dengan pasangannya, kurus, tinggi dengan rambut panjang yang memutih, terselip bunga melati kering di atas kedua telinganya.

__ADS_1


"Seruni! sepertinya kita terlalu lama tinggal di dasar laut, tidak ada seorangpun di antara mereka yang aku kenal!" kakek tua itu berbicara sambil membelai rambut pasangannya.


Tidak menunggu waktu yang lama, Gempar Bumi memberanikan diri maju mendekati mereka "Aiih...Mohon Maafkan kami yang tidak menyambut kehadiran kalian Sepasang Iblis Laut dari Selatan! mata kami buta tidak melihat luasnya samudera di depan mata!" dengan sangat merendahkan dirinya, Gempar Bumi menjura dalam-dalam memberikan penghormatan.


Semua tokoh sakti dari golongan hitam yang beusia sepuh yang berada di situ semuanya ikut menjura memberikan penghormatan, gelar yang di sebutkan Gempar Bumi membuat ciut nyali mereka, karena mereka lebih dari sekedar tahu, puluhan tahun yang lalu pasangan ini lah yang telah menebar teror menakutkan di tanah jawa, sepak terjang merekalah yang membuat Panembahan Senopati terpaksa turun tangan langsung untuk menghadapinya, entah berapa ratus prajurit Mataram dan para Pendekar yang tewas karenanya. Karena kesaktian Panembahan Senopati lah akhirnya mereka dapat di tundukan dan di jebloskan ke Pulau Nusakambangan.


"Hsssh...siapa kau yang memanggil kami dengan gelar yang telah berkarat di air laut?".. hembusan nafas dari kakek tua melabrak tubuh Gempar Bumi yang berdiri di dekatnya.


Sambil melihat rekan-rekannya yang lain, Gempar Bumi kemudian melanjutkan keterangannya "mereka juga sama seperti diriku,.menjadi tahanan dari kerajaan Mataram!"


Sepasang Iblis Laut mengedarkan pandangannya ke sekeliling, "Kangmas sepertinya dugaan kita benar, aku tidak merasakan lagi tuah Akar Mimang di sekeliling kita, kita akan bebas berkelana kembali ke daratan luas Kangmas!..Hik...Hik...Hik!"


"Benar Nimas, akupun merasakannya, Akar Mimang itu telah membelenggu kita puluhan tahun, aku tidak sabar merasakan udara bebas di daratan luas!"

__ADS_1


Akar mimang adalah pusaka sakti yang mempunyai tuah untuk membuat orang yang berada di dalam pulau tersebut tidak menemukan jalan keluar, pusaka itu di pasang oleh Susuhunan Panembahan Senopati di sekitar Pulau Nusakambangan dengan tujuan para tahanan tersebut tidak bisa meloloskan diri keluar dari pulau.


Nyai Seruni kemudian berpaling menatap Pangeran Adiraja yang berada di depan, "Hei...Kau! kemarilah!" tangan tua itu hanya sekedar melambai memanggil Pangeran Adiraja, tetapi gerakan sedikit tersebut membuat Pangeran Adiraja serasa terhisap ke depan, "Drappph...Draaappph, langkah Adiraja terseok seok semakin mendekat, "Aaarkh....Selaksa Gunung yang ia pancangkan di kakinya tidak ada guna sama sekali, tubuhnya tetap tertarik mendekat Nyai Seruni.


"Hhrrkhhh...tubuh Pangeran Adiraja terangkat sejengkal dari permukaan tanah, "Hmm...Mulutmu sangat berbisa!...sama seperti darahmu yang mengandung bisa Ular Bumi!"...teguran dari Nyai Seruni membuatnya sesak bernafas.


"Mulai saat ini Nusakambangan adalah daerah kekuasaanku! apakah diantara kalian ada yang keberatan?" pandangan Nyai Seruni beredar menatap semua yang hadir.


Dengan serentak akhirnya semua menjawab "Kami akan mengabdi kepada kalian Iblis Laut dari selatan, kami akan mematuhi semua perintahmu!"


"Hua...Ha...Ha...sudah lama aku tidak mendengar suara janji kepatuhan!.. mulai hari ini kita akan mencoba membangun Nusakambangan sebagai daratan terapung yang di takuti semua kalangan!" suara lantang dari Ki Badra terdengar keras menggetarkan dada tiap pendengarnya.


Tubuh Pangeran Adiraja terasa lemas, maksud hati ingin menguasai dan menjadi pemimpin di daratan terapung, musnah sudah seiring dengan kehadiran tokoh hitam Iblis Laut dari selatan.

__ADS_1


__ADS_2