Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Manusia Bertopeng


__ADS_3

Semenjak mendapatkan pengawalan Aswangga, kepercayaan diri Arya Permana semakin tinggi, seringkali dia berkeliling sampai di pelosok-pelosok yang jauh.


Dia mulai membangun image yg baik di mata para prajurit, operasi-operasi pengamanan kecilpun sering kali dia turut serta. Seperti saat ini, dia berangkat membawa pasukan hanya sekitar seratus orang untuk menumpas gerombolan pengacau yang berada di Hutan Tempuran. Terlihat Arya Permana bersama lima orang pengawalnya berada di depan pasukan, salah satu dari pengawal itu sudah di pastikan adalah Aswangga, berada mengendarai kuda di samping kiri Arya Permana, empat ekor kuda yang di kendarai empat pengawal dari pendekar berada dua tombak di belakangnya.


"Aswangga, kau nanti jangan turun tangan langsung menumpas mereka, ikuti perintahku!"..."Baik raden!, tapi bolehkah aku memberikan saran raden!" Aswangga mendekatkan kudanya ke kuda yang di kendarai Arya Permana, "Apa saranmu pak tua?", "Untuk menghemat tenaga dan menjaga keselamatan prajuritmu, lebih baik aku saja yang turun tangan langsung untuk menghabisi mereka!",.."Ha...ha...ha, Arya Permana tertawa terbahak - bahak.


Tetapi setelah itu dia berkata pelan kepada Aswangga, "Pak tua, kanuraganmu memang hebat, tetapi untuk masalah strategi, aku lebih tahu darimu!", "kau coba pahami Aswangga!, jika kita dapat menumpas para pengacau itu tanpa jatuh korban, kita mungkin saja mendapat sanjungan, tetapi penilaian itu nanti tidak seberapa, karena orang-orang yang menilai akan memandang rendah dengan keberhasilan kita, karena terlihat tanpa halangan yang berarti.

__ADS_1


"Maksudmu bagaimana raden!" Aswangga merasa penasaran dengan perkataan Arya Permana. Arya Permana melanjutkan, "berbeda dengan saat kita mendapatkan keberhasilan di sertai dengan jatuhnya korban, orang-orang akan menilai kita lebih hebat, karena melihat keberhasilan yang kita peroleh di raih dengan susah payah dan tingkat kesulitan yang tinggi. "Tapi itu akan mengorbankan prajurit-prajurit kita raden!" Aswangga mencoba menyelanya.


"Prajurit-prajurit kalangan bawah di korbankan, itu sudah biasa dalam pertempuran ' pak tua!", "Kau pikir semua pertempuran hanya bertujuan meraih kemenangan?" tidak Aswangga!" ada kepentingan kami sebagai pimpinan di situ!" hanya saja kami sebagai pimpinan akan mengemas dengan bahasa yang lebih halus. Untuk menghibur keluarga mereka yang tewas "suatu kebanggaan jika seorang prajurit gugur dalam pertempuran "demi tanah air dan bangsanya", setelah itu kita hanya tinggal memberikan sumbangsih kepada keluarganya, selesai", mudah bukan Aswangga?"


Aswangga berpikir keras, tetapi tetap saja dia tidak dapat memahami apa yang di katakan Junjungannya.


Setelah mencapai tepi hutan, pasukan mereka berhenti dan bersiap, Arya Permana membagi pasukannya, tetapi dalam formasi bersyhaf bukan berbanjar, dalam strategi pertempuran, formasi bersyhaf hanya berlaku untuk pertempuran jarak jauh dan di berlakukan hanya untuk pasukan pemanah.

__ADS_1


Suuuuuiiith...terdengar suara siulan yang melengking panjang dari dalam hutan, "Sraaafh......sraaafh.....sraaafhh...desingan suara panah meluncur mulai membantai pasukan Arya Pemana yang melewati barisan pohon-pohon... "Aaargk....aaarkh...mereka bertumbangan sebelum menghadapi musuh yang sesungguhnya. "Rangkayu, kau pimpin pasukan yang ada di depan!" Rangkayu bersama tiga pengawal yang lainnya melesat dari kudanya masing-masing, "Hiaaath....tubuh mereka berkelebat di atas pepohonan, craaash....crassh...Arkg..argk....bugh...bugh, beberapa pemanah yang berada di atas pepohonan jatuh ke tanah dengan bermandikan darah, melihat pemanah-pemanah itu tumbang, Arya Permana memerintahkan pasukan berpedang menyerbu ke dalam hutan, dia sendiri bersama Aswangga menggebah kudanya di belakang pasukan berpedang.


Pasukan yang di bawah Pimpinan Arya Permana mulai merangsek lebih dalam lagi, mereka lebih berani dan semangat, karena Rangkayu bersama tiga pendekar yang lain telah memdobrak pertahanan dari pada lawan.


Di kedalaman hutan terlihat tanah lapang yang tidak begitu luas, di situlah kemudian para pengacau mulai di serang habis-habisan, sedangkan Rangkayu dan tiga rekannya terlihat sedang menghadapi dua orang pimpinan para pengacau, tetapi terlihat oleh Arya Permana, Rangkayu bisa mengatasinya karena terlihat dalam posisi mendesak lawan.


"Lihat Aswangga, kita dengan cepat bisa menyelesaikan pertempuran ini!" terlihat senyuman kemenangan di wajah Arya Permana.

__ADS_1


Tetapi situasi itu tidak berlangsung lama, tiba-tiba, "Hiaaaath....wush...wush, terlihat seseorang yang memakai topeng melompat dari ketinggian pepohonan sambil menyabitkan senjata rahasia berbentuk mata panah, "aaarkh....argk...prajurit-prajurit Arya Permana mulai bertumbangan. Tidak menunggu lama, senyuman Arya Permana hilang saat melihat para prajuritnya banyak yang tewas terkena serangan manusia bertopeng itu, di tangannya terlihat senjata Kudjang yang terus menusuk dan membabat, serangannya baru berhenti tatkala beradu dengan pedang Rangkayu, "Hiaaath...trang...trang..., tubuh Rangkayu terdorong sekitar tiga tombak saat adu benturan senjata. beberapa prajurit yang ikut membantu Rangkayu pun terpental dengan kening yang mengucurkan darah dan berlubang.


Kondisi tersebut sangat tidak menguntungkan, karena bisa membuat lawan kembali bersemangat dalam pertempuran, " Aswangga, hadapi orang itu!", "Baik raden!, Aswangga berdiri di atas kudanya, kemudian ia melompat dan menerjang manusia bertopeng "Hiaaath...desh...desh...terjadi benturan pukulan, Aswangga dan manusia bertopeng itu kini saling berhadapan.


__ADS_2