Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Pengembaraan IV


__ADS_3

Saat Mentari sudah menampakan wujudnya, Brajanata dan kawan-kawan bersamaan menatap Wiratama yang berjalan ke arah tempat istirahat mereka.


Mereka merasa heran dengan penampilan Wiratama, karena saat ini apa yang mereka lihat sungguh berbeda dengan penglihatan mereka semalam.


Pria yang berdiri saat ini terlihat sangat berwibawa walaupun masih tersisa kekejaman dalam tatapannya. Kegagahan Wiratama membuat mereka semakin merasa tunduk dan segan, apalagi jika di tambah dengan ingatan mereka dengan pertempuran semalam.


"Apakah kalian bisa beristirahat dengan nyenyak semalam? Wiratama menyapa dengan santai.


"Kami bisa beristirahat Pendekar! kali ini Somantara yang menjawab.


"Kita rekan seperjalanan, jangan panggil aku dengan sebutan pendekar! namaku Wiratama!"


"Mari kita berangkat, aku minta kalian yang menjadi penunjuk jalan!"


Merekapun berjalan bersama, Brajanata mendampingi Wiratama, sedangkan ke tiga adik seperguruannya berjalan di depan mereka.


Dalam perjalanan tidak banyak yang mereka bicarakan, hanya sekedar bertukar nama dan sedikit penjelasan-penjelasan yang berhubungan dengan Pulau Nusakambangan.


Berawal dari rasa keingin tahuan Brajanata dan saudara-saudaranya tentang kemampuan ilmu meringankan tubuh Wiratama, akhirnya mereka tertinggal jauh oleh kecepatan gerak Wiratama. Setelah seharian berlari baru mereka dapat menyusul, sedangkan Wiratama sudah sedang duduk santai di tepian pantai.

__ADS_1


"Brajanata! dari sini apakah kita menaiki perahu sedang itu?" ujar Wiratama sambil melihat arah laut.


"Betul Raden, kita akan melawati laut ini menuju Sodong, agar kita bebas mempergunakan perahu, bagaimana kalau kita membelinya Raden?"


Saat ini Brajanata memanggil dengan sebutan Raden kepada Wiratama, bukan hanya karena memang Wiratama melarang sebutan pendekar, tetapi kewibawaan dan pembawaan dari Wiratama membuat ke empat bersaudara itu merasa segan kepadanya.


"Baiklah Brajanata, kau carilah perahu yang cocok untuk kita!" beberapa koin emas pun di berikannya kepada Brajanata.


Setelah semua perlengkapan di siapkan, perahu merekapun melaju ke arah Nusakambangan. ternyata Somantara adalah seorang tekong yang handal...


Perahu itu menembus gelombang kecil, dayung yang di kayuh oleh Empat begal dari Jambusari tidak terlalu cepat.


Somantara dengan penuh keheranan menjawab "baik Raden!" ke empat bersaudara itu memperhatikan apa yang akan di lakukan oleh Wiratama.


Wiratama merunduk kedua tangannya di putar ke samping kanan dan kiri, setelah itu terdengar suara teriakan " Graaaakh...... wush...wush...ke dua tangan Wiratama melakukan gerakan kibasan ke arah samping.


Terasa oleh mereka perahu seperti terdorong oleh tenaga yang besar, semakin cepat melaju ke depan.


Di saat perahu mulai melaju di tengah laut, terlihat beberapa perahu pun sedang melaju dengan arah yang sama, salah satu perahu yang besar mulai terlihat, dan sebentar kemudian jaraknya semakin dekat dengan perahu yang di awaki oleh Wiratama.

__ADS_1


Awak perahu mereka lebih banyak, beberapa dari mereka menggunakan cadar hitam, tatapan mereka mengawasi Empat begal yang sedang mendayung di buritan.


Salah satu dari mereka yang berdiri di anjungan berteriak "Brajanata! sejak kapan kalian menjadi nelayan...ha...ha...ha?"


Wiratama yang sama-sama berdiri di anjungan, berhenti mengibaskan tangannya, sehingga laju perahu melambat.


Di antara empat begal dari Jambusari, yang mempunyai watak pemarah adalah Somantara, saat mendengar suara ejekan dari perahu sebelah, dia berdiri balas menyindir "He...he..he Kakang Sentanu! kau juga mulai kapan menjadi Jongos di pantai ini? apakah di Parigi sudah kehabisan kepiting?"


Di antara mereka ternyata sudah saling mengenal, Sentanu adalah penguasa rompak yang berasal dari Teluk Parigi di dekat pantai Pangandaran.


Sebenarnya kemampuan olah kanuragan Empat begal dari Jambusari masih di bawah Sentanu, tetapi Somantara merasa percaya diri karena Wiratama bersama mereka.


Mendengar intonasi suara dari Somantara yang terdengar merendahkan dirinya, kini balik Sentanu yang mulai gusar dan marah.


"Kalian begal dari daratan mau pamer kekuatan di laut? jangan bermimpi kau!" Sentanu menjentikan jarinya memberikan tanda kepada anak buahnya untuk melakukan tindakan. Empat orang dari mereka terjun ke dalam laut dan melakukan penyelaman mendekat ke arah perahu Wiratama.


Sentanu berkacak pinggang sambil tertawa terbahak-bahak "anak-anak! sebentar lagi kita akan melihat bagaimana perahu mereka akan karam! apakah Brajanata dan saudara-saudaranya bisa bertahan di atas laut?" ...


Brajanata dan saudara-saudaranya terlihat cemas, mereka tahu betapa piawainya Sentanu dan kelompoknya itu dalam pertempuran di lautan.

__ADS_1


Penyelam-penyelam mulai mengurung dua sisi perahu, mereka bersiap akan berusaha menenggelamkan dengan cara membocorkan dinding- dinding perahu.


__ADS_2