Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Danang Seta


__ADS_3

Terlihat Arya Permana berdiri menatap seorang yang duduk di depannya "Danang Seta, apa maksudmu menolak tugas-tugas yang aku berikan?" , laki-laki tua yang beraut wajah teduh itu dengan berani menatap dengan menentang "maaf Pangeran, aku bersedia berada di sini hanya dengan satu tujuan, mencari pembunuh Adikku Ki Jamparing, tidak untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lain! aku tidak mau di perintah siapapun walaupun kau penguasa sekalipun!",

__ADS_1


"Setan Alas, kau pikir dirimu siapa? berani menolak perintah-perintahku!"...kemudian Arya Permana menepuk tangannya tiga kali, munculah dua orang pengawalnya menghampiri. "berikan pelajaran untuknya!" dua orang pengawal tersebut langsung meloncat bermaksud menangkap laki-laki tua yang sedang duduk bersila di hadapan Arya Permana, dua pasang tangan mencengkeram dari arah kanan dan kiri, "Hiaaath......desh...desh...dengan mudah kedua cengkraman itu di tepis oleh kedua tangannya yang terlihat tidak bertenaga, tetapi akibat tepisannya, kedua pengawal tersebut seperti terdorong angin yang berkekuatan tinggi, "Arkhhhh....tak terlihat bagaimana dia bergerak, tubuhnya sudah berada di antara kedua pengawal yang sedang bersiap menyerang dirinya kembali. "haikkkh....crap...crap...."Aaarkkkkh....hanya dengan telunjuknya, kedua kening pengawal itu di tusuk dan berlubang, darah mengalir merembes wajahnya, keduanya ambruk, roboh dengan kening berlubang dan wajah bersimbah darah. Ki Danang Seta tersenyum sinis "hanya ini kemampuan pengawal-pengawalmu Pangeran?" melihat kemampuan Ki Danang Seta, Siasat Arya Permana langsung berjalan, "tenang Ki, kau tak perlu bertindak emosi seperti itu, aku tadi hanya untuk menguji kemampuanmu!, kemudian Arya Permana merangkul Ki Danang seta, "aku berjanji akan membantumu membalaskan dendam terhadap pembunuh adik seperguruanmu, kenapa aku belum bertindak? karena yang kita hadapi adalah kekuatan besar! yang membunuh adikmu bukan hanya sakti mandraguna, tetapi dia juga seorang Panglima utama kami di mataram ini!"... apakah kau yakin, dengan kemampuanmu bisa langsung berhadapan dengannya?" Ki Danang kemudian di ajak duduk kembali di sampingnya. "Pangeran, apakah benar yang membunuh adikku Panglima Mandala Putra ?" apa yang menjadi alasan beliau sehingga membunuh adikku?mata Ki Danang Seta mengawasi semua gerak gerik dan raut wajah Arya Permana, karena dia sadari Pangeran yang berada di depannya adalah seorang yang culas.

__ADS_1


"Hmmm....Ki Danang, walaupun aku jelaskan kau tak akan mengerti, ini adalah bagian politik kekuasaan, asal kau tahu, bukan hanya kau yang merasakan dendam dan sakit hati! dendamku padanya melebihi dirimu, Anggoro Pati adalah Kakakku yang paling keluarga kami sayangi, karena siasat liciknya Kakang Anggoro Pati tewas dengan mengenaskan".

__ADS_1


"Ki Danang, lihat kemari!" saat itu mereka berdua masuk ke dalam aula yang luas, dindingnya terkait berbagai macam senjata, ada sekitar tiga puluh orang Pendekar yang sedang berlatih, pandangan Ki Danang tidak fokus terhadap orang-orang yang sedang berlatih, pandangannya tertuju kepada seseorang yang sedang duduk di lantai sambil menyandar di dinding. pria berpakaian hitam dengan ikat kepala kulit ular, perawakannya biasa, tetapi ada yang aneh terletak pada bola matanya, seluruhnya putih tanpa ada tanda hitam sedikitpun, "Pangeran! apakah yang sedang duduk disana pun adalah pengawalmu?" Ki Danang bertanya kepada Arya Permana, tetapi matanya tetap memandang sosok yang sedang duduk tersebut. "Hmm...dia bukan pengawalku, pekerjaannya hanya sebagai tukang bersih-bersih di Aula latihan ini, kepandaiannya juga hanya biasa-biasa saja "Ki Sampang, kesinilah kau sebentar! panggilan dari Arya Permana membuat dia bangun dari duduknya dan mendekat, "ada perintah apa Gusti memanggilku?" terdengar suaranya yang berat dan serak. Mata Ki Sampang menatap lekat-lekat ke arah Ki Danang. "Tubagus Wiraguna, kenapa dia ada disini?" Ki Danang menunjukan wajah terkejut dan bertanya dalam hatinya, ia mengenali sosok Tubagus Wiraguna tokoh sakti dari tanah Banten pewaris ilmu Macan Lodaya yang terkenal kejam di seantero tataran sunda. "Ki Sampang! sore ini aku akan berkeliling di Kotaraja, segera sediakan dua ekor kuda yang bagus untuk kami berdua!", "Baik Gusti!" Ki sampangpun berlalu untuk mempersiapkan apa yang di perintahkan Arya Permana. Saat dia berlalu pergi, di telinga Ki Danang Seta berdengung suara tanpa wujud tetapi terdengar dengan jelas "Racun ular dari barat jika kau membuka identitasku disini, besok pagi-pagi tubuhmu akan kulumat habis!". Racun Ular dari Barat adalah julukan Ki Danang Seta saat ia masih berkecimpung di dunia persilatan daerah pasundan. Ki Danang Seta terdiam dan melirik ke arah Arya Permana untuk memastikan yang mendengar ancaman itu hanya dia seorang. Arya Permana terlihat sibuk berbicara dengan pengawal-pengawalnya yang lain.

__ADS_1


__ADS_2