Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Badai Datang....


__ADS_3

Belum juga para pendekar pengawal itu sampai, terdengar pekikan yang keras, dan kemudian terjadi ledakan di samping Aula, "Hiaaath....blarh...blarh....terlihat Wiratama di antara kepulan-kepulan debu dari dinding-dinding yang roboh terkena hantaman Badai Gunung Ciremai,


"Kakang, cepat pergi dari sini!", Wiratama mengeluarkan Tombak pendeknya, Tombak itu di putar dan menerjang ke arah pengeroyok Ki Sampang dan Ki Danang, "Shuuuth....shuthhh....aaarkh...aaarkh....setiap luncuran dan tebasan tombak Wiratama menjatuhkan korban, membuat celah untuk bisa meloloskan diri, Rangkayu mencoba menghadang dengan tebasan pedangnya, "Hiaaath...trang...traaang...Pedang Rangkayu terpental jatuh, tangannya bergetar, "Arrrghhhh... gila! tenaga dalamnya kuat sekali", kemudian ia mundur, Wiratama melompat dan menyerang Rangkayu, saat posisi masih di atas, tendangannya menyerang secara berantai, "Haaaath....Degh...dgh.....Desh.....brakh...brak, tendangan itu di tahan dengan kedua tangan, tetapi tendangan Wiratama yang berisi Selaksa gunung membuat Rangkayu terlempar menabrak benda-benda yang berada di belakangnya.


Setelah celah meloloskan diri terbuka lebar, mereka bertiga melompat melewati dinding yang tinggi dan berlari keluar.


Beberapa pendekar dari pengawal Arya Permana melakukan pengejaran, mereka mengikuti tiga bayangan yang sedang berlari keluar. Wiratama dan Ki Sampang menggunakan Menjangan kabut sehingga jarak mereka berdua jauh di depan Ki Danang Seta.

__ADS_1


Di persimpangan jalan ternyata Ki Danang Seta memgambil arah lain, tidak mengikuti arah lari wiratama dan Ki Sampang.


"Hentikan larimu Wiratama!, Danang Seta ternyata tidak mengikuti arah lari kita!". "Tidak perlu Kakang, kita lanjutkan saja, suatu saat kita pasti akan menemukannya kembali".


Setelah cukup lama berlari dan jauh dari para pengejarnya, keduanya berhenti dan mengatur nafasnya. "Kurang ajar Danang Seta!... sepertinya dia sudah bosan hidup!" Ki Sampang terlihat menggerutu di depan Wiratama.


"Danang Seta, kau tak akan bisa lepas dariku!" Wiratama menggeram perlahan, "apa maksudmu Wira?" dengan nada heran Ki Sampang bertanya, "dia terlibat dalam pembunuhan guruku Kakang!"

__ADS_1


Ki Sampang dan Wiratama melangkah melanjutkan perjalanannya, keduanya melanjutkan pembicaraan yang tadi terputus, dengan hati-hati Ki Sampang memberanikan diri bertanya, "Wira, apakah yang dimaksudkan Senopati Wiratama oleh Panglima Mandala Putra itu adalah dirimu?" Wiratama berpaling ke arah Ki sampang, "Itu adalah kisah lamaku Kakang!"


"Aku mendengarkan kisahmu dari mulut Panglima Mandala Putra secara langsung 'Wira! saat aku melaporkan tentang situasi penyusupan Telik sandi ke dalam pasukan kami", saat itu akupun sekaligus melaporkan tentang peristiwa penyerangan ke Padepokan lereng Merapi yang menewaskan Pangeran Padasukma". Wiratama hanya terdiam mendengarkan cerita Ki Sampang, karena kisah selanjutnya ia telah mengetahui dengan jelas dari Panglima Mandala Putra sendiri, karena saat itu ia masih berada di sana.


"Wira, ternyata kau bukan Pendekar biasa, tak salah sekiranya Ksatria Padjajaran yang tersembunyi menurunkan segenap ilmunya kepadamu, jalan hidupmu lebih punya liku daripada yang ku alami".


Wiratama tersenyum, "sekali waktu kaupun harus bercerita kepadaku Kakang, tentang perjalanan hidupmu!" pastinya tidak akan kalah berliku di bandingkan dengan perjalanan hidupku".

__ADS_1


"Ha...ha..ha, "Wira, kau salah satu orang yang bisa membuatku kagum, mudah-mudahan kita tidak akan pernah di tempatkan di posisi yang bersebrangan".


"Kakang, sepertinya sudah saatnya perjalanan kita berbeda arah, aku yakin nanti kita akan berjumpa kembali". "Baiklah Wira, aku akan kembali ke induk pasukanku, karena tak mungkin aku kembali, penyamaranku sudah terbongkar", jika kau ada waktu mampirlah!, aku tak akan jauh dari Panglima Mandala Putra".


__ADS_2