
Raut wajah Panglima Mandala Putra terlihat mengelam dan membesi saat menerima laporan dari Ki Sampang, Tiga puluh Pasukan Bayangan duduk bersila di hadapan Panglima Mandala Putra.
"Ki Sampang dan kau Jalasena, segera bersihkan telik sandi kita dari penyusup-penyusup!", "Ki Sampang tunjukan kepada yang lain sudah seberapa berbahayanya penyusup itu ke markas kita!", "Baik Gusti!" Ki Sampang berlalu dari ruangan tersebut dan keluar ruangan.
"Yang lain ikuti aku dan kita saksikan bersama-sama apa yang akan di tunjukan oleh Ki Sampang!" Panglima Mandala Putra bersama Pasukan Bayangan keluar menuju sebuah ruangan yang di sekat dan menyambung dengan ruangan lain yang lebih lebar dan berada lebih bawah dari ruangan mereka, semuanya berdiri berjajar memperhatikan ruangan tersebut.
Tidak lama kemudian Ki Sampang masuk dengan di ikuti Sepuluh Pasukan Utama yang bertugas menjaga pintu gerbang kediaman Panglima Mandala Putra.
__ADS_1
"Aku adalah Merpati Putih, akan ku ajukan beberapa pertanyaan!, jika ada jeda waktu saat kalian menjawab pertanyaanku, kepala kalian yang akan menjadi taruhannya!".
"Siapa yang mengendalikan cahaya Matahari?" terdengar suara jawaban dari salah satu Prajurit Utama tersebut "Menjangan Hitam yang bertugas",
"Siapa yang membawa daging Rusa ke balik gunung?" terdengar jawaban tiga orang yang berada di depan, "Aku Harimau Putih!, "aku Harimau Hitam!, "aku Harimau Merah!"
Ki Sampang melanjutkan pertanyaan berupa sandi-sandi yang bisa menghubungkan dengan telik sandi musuh yang sedang menyusup dan semua pertanyaan sandi itu bisa di jawab oleh Sepuluh Prajurit Utama tersebut tanpa jeda sedikitpun.
__ADS_1
"Ki Sampang lakukan tugasmu!" suara Panglima Mandala Putra menggelegar keras, Ki Sampang yang masih berada di depan Prajurit Utama melangkah mendekat, "Harimau Hitam!, Harimau Putih!, dan kau Harimau Merah! maju tiga langkah ke depan!"
Tiga prajurit yang di panggil Ki Sampang bergetar seluruh tubuhnya, lutut-lutut mereka lemas dan tidak kuasa untuk bergerak maju, beberapa Pasukan Bayangan menarik ke belakang dan mendudukan para Prajurit Utama yang tidak terpanggil oleh Ki Sampang.
Ki Sampang bediri dengan tegak, ada suara menggeram pelan dari mulutnya, "Hrrrh...Hiaaaath....craaakh....tangannya mencengkeram leher "Harimau Hitam"... Rrrth....."Aaaargkh.....cengkraman itu semakin kuat...akhirnya memisahkan kepala tersebut dengan pemiliknya, tubuh itu bersimbah darah dan tergeletak di lantai, sedangkan kepala yang masih di tangan Ki Sampang di lemparkan ke arah sekumpulan Prajurit-prajurit Utama yang sedang duduk dan memandangi eksekusi yang di lakukan Ki Sampang kepada rekan mereka. Terlihat wajah mereka pucat pasi dengan perasaan ketakutan yang amat sangat.
"Giliranmu Harimau Putih!" Ki Sampang berpaling menatap kepada Harimau Putih, Harimau Putih berlaku nekad, tak mau dia mati tanpa perlawanan, ia menghunuskan pedang dan meloncat menebaskan ke arah kepala Ki Sampang, "Hiaaath.... wusssh... tebasan tersebut mengenai tempat kosong, karena Ki Sampang dengan cepat menundukan kepalanya sekaligus mengirim sebuah pukulan ke arah perut. "Haiiigh...desh... pukulan itu bersarang di perutnya...."Aaargh....tubuhnya terjajar ke belakang satu tombak, kembali prajurit yang mempunyai panggilan Harimau Putih itu akan bergerak menyerang, tetapi Ki Sampang tidak memberikan kesempatan lagi, ia langsung menerkam "Hiaaaath....craakh....craaakkh....tangannya mencakar wajah dan membeset perutnya, "Aaaaaakh.....huaaakh....lengkingan kesakitan dan darah membanjir di lantai, sebelum dia roboh, Ki Sampang melanjutkan serangan dengan mencabik-cabik wajahnya sehingga tubuh itu terpelanting dan terpental dengan bermandikan darah.
__ADS_1
Semua yang menyaksikan merasa ngeri dengan kekejaman yang di lakukan Ki Sampang, "Harimau merah!, apakah kau sudah siap?" Ki sampang yang masih berlumuran darah lawannya mulai mendekati Harimau Merah yang sekarang berlutut, "ampuniii aku Ki! aku terpaksa melakukan ini!" Jalasena maju ke depan berusaha mengambil alih tugas Ki Sampang, karena dia sendiri merasa mual melihat pemandangan tersebut, "mohon untuk yang ini serahkan kepadaku Ki" Jalasena kemudian meloloskan pedang dan dengan cepat menebaskan ke leher Harimau Merah, "Hiaaath... crash....Harimau Merahpun mati dengan mengenaskan.
"Bawa yang lainnya ke ruang tahanan, bunuh satu persatu setiap hari di depan rekan mereka, sisakan dua orang yang akan kita kirim ke induk pasukannya!" Panglima Mandala putra keluar ruangan di ikuti sebagian pasukan bayangan.