Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Pertarungan Dua Sukma


__ADS_3

Tidak lama setelah Ki Badra dan Nyai Seruni pergi, Adiraja pun berniat kembali ke Goa Ratu. Langkah kakinya terasa ringan dan senyum di wajahnyapun semakin mengembang.


Dengan kemampuan kanuragannya yang telah kembali dan kepandaiannya berdiplomasi, Adiraja merasa yakin masih bisa menjadi orang yang berkuasa di Pulau Nusakambangan walaupun hanya menjadi orang yang ke tiga.


Perkumpulan apapun itu, jika di di kelola dengan baik akan semakin maju dan berkembang, begitupun sekumpulan Perompak-perompak yang berada di Nusakambangan, jumlah mereka meningkat secara signifikan.


Pengelolaan barang-barang hasil jarahan, dan pembentukan kelompok-kelompok kecil sesuai dengan fungsi di lakukan dengan cermat oleh Adiraja, membuat ia semakin di percaya oleh Ki Badra dan Nyai Seruni.


Ki Badra dan Nyai Seruni sendiri, mereka hanya berdiri di belakang layar dan menikmati kedudukannya sebagai seorang raja dan ratu kecil.


Pemukiman warga di bangun sedemikian rupa, di bagi menjadi wilayah-wilayah kecil. sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya.


Terjadi perubahan besar di pemukiman para perompak, kini mereka tidak bisa bertindak dengan cara-cara perompak-perompak sebelumnya, ada pimpinan-pimpinan kecil yang mengatur pergerakan mereka.


Oleh Adiraja, ada kelompok kecil yang di fungsikan sebagai telik sandi di sekitar perairan luar dan daratan luar, merekalah yang memberikan informasi tentang hal-hal yang sekiranya menjadi ancaman ke Pulau Nusakambangan, sekaligus memberikan informasi target-target yang mana yang harus di rompak oleh kawanannya yang berada di lautan. Adiraja memberikan tekanan-tekanan kepada anggotanya untuk menghindari konflik dengan pihak kerajaan Mataram, karena ia menyadari kekuatan yang di miliki mereka belum mampu jika menghadapi pasukan kerajaan Mataram.


Kamuflase di lakukan untuk menyembunyikan aksi-aksi perompakan mereka, penggalangan kepada warga sekitar luar pulaupun di lakukan, agar warga-warga sekitar lebih condong memihak dan menyembunyikan aksi perompakan mereka. dengan dalih bahwa yang mereka rompak adalah Saudagar-saudagar yang kaya tetapi tidak mempunyai nurani kepada warga.


Itulah sekilas perubahan yang terjadi di Pulau Nusakambangan.

__ADS_1


Pagi hari ini udara sangat cerah, lalu lalang warga sekitar terlihat normal. terlihat dua wanita berjalan beriringan di antara kesibukan yang lain. Yah...mereka adalah Dewi Pramudita dan muridnya Rengganis yang telah lolos dan bisa menyusup ke dalam pulau.


"Liat Rengganis, Pulau ini tidak seperti yang kita bayangkan, terlihat aman dan menyenangkan!"


"Benar guru! tetapi mengapa saat kita kesini terasa sangat begitu sulit untuk hanya sekedar berkunjung, malah kita sampai harus memakai Aji malih rupa untuk bisa sampai ke pulau ini?"


"Tidak jadi masalah buat kita Rengganis, sekarang secepatnya kita harus menyembunyikan diri, karena aku merasa mulai ada yang mengamati kita saat ini!"


Setelah berjalan sampai ke tempat yang sepi, cepat-cepat Dewi Pramudita menarik lengan Rengganis untuk bersembunyi.


Tidak lama kemudian, empat orang lelaki yang bersenjatakan pedang datang dan berhenti di tempat Dewi Pramudita tadi bercakap dengan Rengganis.


"Kakang! kemana mereka pergi? aku yakin tadi melihat mereka berjalan ke arah sini!"


Tiba-tiba dari balik pohon, terlihat Dewi Pramudita muncul, "Kakang! kenapa kalian terburu-buru, apakah tidak berniatan berkunjung ke rumah kami terlebih dahulu?" suara dan senyum manja Dewi Pramudita mengejutkan mereka.


Rengganis pun mengikuti dari belakang "Aiish...pemuda-pemuda tampan! kami mau menawarkan sekedar minuman kopi atau jahe untuk penghilang dahaga kalian, apakah kalian mau menemani?"


Ke empat pengawal tadi saling berpandangan dan memberikan tanda, semburat merah terlihat di wajah mereka karena menahan gairah.

__ADS_1


"Ayolah Kakang! tak perlu banyak berfikir, apakah kami tidak cukup cantik untuk menemani kalian minum? ada sesuatu yang bisa menghangatkan kalian, tapi tidak di sini! bagaimana?" suara Dewi Pramudita terdengar merajuk.


"Ha...Ha..Ha, kalau kami menolak ajakan kalian! kami akan menjadi laki-laki bodoh di dunia ini!, ayolah...kemana kalian akan mengajak kami pergi?"


Salah satu dari mereka yang tidak sabar menahan diri, langsung menggandeng Dewi Pramudita dan beranjak pergi, kepergian merekapun akhirnya di ikuti yang lain.


Jalan setapak di dalam kerimbunan hutanpun akhirnya menjadi saksi, bagaimana ke empat pengawal ini berubah menjadi tubuh yang kering dan kehabisan darah.


Rengganis masih memandang gurunya dengan penuh ketakutan, karena ini adalah pengalaman pertama baginya membunuh seseorang dengan cara yang berbeda.


"Hikkk...Hikk...Hikk..Kenapa kau menatapku dengan pandangan seperti itu Rengganis?"


"Ti..ti..dak Guru, kemudian wajahnya di palingkan menghindari tatapan dari gurunya.


"Kita harus menuju pusat markas mereka dan mempelajari situasi yang ada! aku merasakan kekuatan yang tidak biasa di Pulau ini!" kemudian Dewi Pramudita mengajak Rengganis masuk lebih dalam lagi ke sarang para perompak itu.


Di depan Goa Ratu terlihat Gempar Bumi dengan kaki sebelah sedang duduk bertalakan kursi kayu, di sampingnya berdiri para pengawal yang lain sedang melakukan penjagaan.


Adiraja masuk ke dalam Goa Ratu sambil menyapa Gempar Bumi, "bagaimana perkembangan kesehatanmu Gempar Bumi?"

__ADS_1


"Aku baik-baik saja Adiraja!...Semenjak sebelah kakinya remuk dan hancur akibat pertarungannya dengan Ki Respati, sosok Gempar Bumi menjadi pendiam.


Adiraja masuk ke dalam goa, untuk melaporkan situasi pulau kepada Ki Badra dan Nyai Seruni di dalam.


__ADS_2