
Ki Sawung Galih dengan tergesa mendekati Wirayudha, "Apa yang kau lakukan tadi Wira?" terlihat ada kecemasan di wajahnya. Ki Sawung Galih hapal dengan kondisi Wirayudha, semenjak Aji Naga Langit di kuasai, terkadang Wirayudha lepas kontrol karena di pengaruhi oleh ilmunya tersebut.
Wirayudha mengatur nafas dan berusaha menenangkan diri, perubahanpun terjadi pada tubuhnya, sinar matanya sudah normal lagi, seluruh sisik yang memenuhi wajah dan tubuhnya menghilang seketika.
"Guru, aku mendapatkan informasi tentang romo darinya!" wajahnya sambil menatap Candrasih yang terlihat masih takut.
"Masuklah ke dalam Wira! kau sepertinya membutuhkan istirahat, biar aku yang berbicara kepadanya!" Ki Sawung Galih kemudian mendekati Candrasih dan Ki Respati yang masih duduk di geladak kapal.
"Nisanak, siapakah dirimu?" Ki Sawung Galih ikut duduk di tepian geladak kapal mendekati mereka.
Percakapanpun kemudian berlanjut di antara mereka, Candrasih menceritakan semua kejadian yang menimpa dirinya dan ayahnya, tidak ada yang di sembunyikan Candrasih sedikitpun kepada Ki Sawung Galih, termasuk peristiwa yang menimpa Wiratama.
"Hmm...beruntung kalian masih selamat Nisanak, beristirahatlah kalian berdua ke dalam, setelah itu aku ingin mengetahui seberapa besar kekuatan yang berada di Pulau Nusakambangan. Kita nanti akan berbincang kembali!"
Ki Sawung Galih merupakan ahli dari telik sandi yang di percayai oleh Ki Bondan Wiratama di Alas Roban, seluruh tindakan dan keputusannya pasti dia pikirkan dengan matang, apalagi jika menghadapi sesuatu yang di perkirakan berbahaya, analisanya cermat perhitungannyapun tepat.
"Putar haluan,.kita kembali ke dermaga!" terdengar suaranya memerintah para anak buah kapal. Kapalpun memutar haluan untuk kembali.
__ADS_1
** Sepasang Iblis Laut **
3 Hari telah berlalu, Kapal-kapal perompak yang berlayar mencari mangsa di lautan belum kembali, membuat Adiraja di dalam hati bertanya "Kenapa Gurita hitam dan merah belum kembali?" pertanyaan itu muncul di saat dirinya merasa was-was khawatir di tanyakan Sepasang Iblis Laut yang menjadi Ketua Perompak pada saat ini.
Adiraja sedang berdiri di dermaga, pandangannya mengawasi ke arah laut, berharap ke dua kapal akan segera tiba.
"Suuuuiiith...wreeessh....suara lengkingan dan siulan terdengar memekan telinga oleh Adiraja, ia kemudian melihat Ki Badra dan Nyai Seruni sedang melatih kanuragan bersama di atas bukit.
Kedua tubuh Sepasang Iblis Laut melayang di antara dua bukit yang berdiri kokoh, tubuh tua mereka ternyata tidak menghalangi kegesitan gerakan pasangan itu, saling menyerang dan bertahan dalam posisi melayang di udara.
Nyai Seruni bersenjatakan pedang yang bersinar merah, bayangan kiblatan pedang bergulung-gulung membentuk sinar-sinar merah yang berputar menyerang Ki Badra.
Keduanya bediri sejajar menatap laut, masing-masing di tangan kanan menggenggam pedang dan tongkat, secara bersamaan keduanya meloncat dari puncak bukit ke tepian pantai sambil mengayunkan senjatanya ke arah permukaan laut
"Hiaat...Hiaaath...suara teriakan keduanya terdengar...bersamaan dengan ayunan senjata mereka...."Blaaarh...Blarrrh....
Sinar dari senjata mereka membelah permukaan air laut, memanjang sampai ke tengah. Air lautpun tersibak sampai dasar, menandakan kekuatan mereka yang sangat besar.
__ADS_1
Adiraja tercengang melihaf kelihaian pasangan Iblis Laut, tubuh mereka kemudian meluncur ke dasar laut yang tersibak, menembus karang-karang tajam yang mencuat...Bruuush!...Bruuush!...tubuh keduanya lenyap tanpa bekas, sampai Karang-karang itu tidak terlihat, kembali tertutup air laut.
Adiraja meleletkan lidahnya "Pantas saja Kakang Respati tidak berani mencoba kanuragan yang di miliki kedua tokoh ini, kekuatannya sebanding denga seratus prajurit tempur!"
"Apa yang kau lihat Adiraja?" tiba-tiba suara Nyai Seruni berada di belakang tubuhnya, membuatnya hampir terjerambab ke depan. "Akkh..Nyai, kau hampir mencopot jantungku!" dengan segera Adiraja berbalik dan menghadapkan tubuhnya ke arah Nyai Seruni, di sampingnya pun terlihat Ki Badra sedang tegak berdiri.
Dengan memasang wajah seorang penjilat, Adiraja kemudian menyanjung mereka setinggi langit, "Kalian berdua bukan hanya pantas menjadi penguasa Pulau Nusakambangan, seluruh pulau jawa ini sudah seharusnya tunduk di bawah kaki sepasang Iblis Laut yang maha sakti!"
"Hik..Hik..Hik...dengar Kangmas, mulut busuknya terdengar merdu untuk kita!" Nyai Seruni melirik ke arah Ki Badra yang diam tanpa ekspresi...
"Hmm...hanya gumaman pendek yang terdengar dari mulut Ki Badra. "Kemarilah kau Adiraja!" Telapak tangannya terlihat menyapu wajah Adiraja sebanyak tiga kali.
"Aaaakh...Adiraja merasa pembuluh darah di sekitar tubuhnya terhisap ke atas menuju kulit muka, darah merembes keluar lewat celah mata dan lubang hidungnya, menimbulkan rasa sakit yang tidak terkira.
"Adiraja!...bisa ular bumi yang berada di tubuhmu sekarang telah keluar tanpa sisa, kau sekarang bisa mempergunakan kanuraganmu lagi secara normal!" kemudian tanpa berkata apapun lagi, Ki Badra dan Nyai Seruni meninggalkan Adiraja yang sedang jatuh berlutut.
"Te...te..terimakasih Ki!... timbul rasa gembira di hati Adiraja.
__ADS_1
Dengan masih menahan nyeri kemudian dia membasahi mukanya dengan air laut.