Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Cinta Sejati


__ADS_3

Setelah sepekan telah berlalu, Wiratama akhirnya telah pulih seperti sedia kala, Senja di Kawasan gantung hari ini terasa indah, seindah senyuman Nyai Gendis yang saat ini sedang mendampingi Wiratama.


"Nyai terimakasih, kau telah merawatku sampai dengan aku sehat kembali", Nyai Gendis menatap Wiratama dengan mesra, "ini tidak seberapa Kangmas, apakah kau ingat? saat aku terluka pun, kau yang merawatku".


Wiratama telah sehat kembali, tetapi ada perubahan di wajahnya, kesedihan yang mendalam tidak bisa di sembunyikannya, "Kangmas, aku tahu kau merasakan beban yang berat di dadamu, berbagilah denganku Kangmas!" Nyai Gendis membelai rambut Wiratama yang terlihat kusut, ia merapihkan rambut itu dengan jari-jarinya.


"Nyai aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang? di Kotaraja saat ini pasti sedang ada teror yang banyak menimbulkan jatuh korban, sedangkan aku tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasinya".


"Kangmas, aku yakin kau mampu mengatasinya, hanya saja kau berniat atau tidak untuk menghentikan teror itu? aku tahu apa yang seharusnya kau lakukan!" Nyai Gendis menatap Wiratama, saat ini wajahnya berada dekat dengan wajah Wiratama, ia berdiri di depan Wiratama yang sedang duduk bersandar di kursi. "Apakah maksudmu Nyai?"


Wiratama berdiri sambil memegang bahu Nyai Gendis, akhirnya Nyai Gendis memeluk Wiratama dan menyandarkan kepalanya di dada Wiratama.


"Kangmas, aku tidak peduli kau menilaiku seperti apa, wanita rendah atau tidak mempunyai sopan santun sekalipun, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu!", "Katakanlah Nyai, aku akan mendengarkan!"


"Aku ingin menjadi pendampingmu sampai aku mati Kangmas!", berapa lamapun aku bersedia, karena aku merasa kebahagiaan terbesarku adalah bersamamu, aku tidak perduli walaupun aku bersamamu hanya sehelaan nafas sekalipun, apalagi bisa sampai Sewindu tahun!"


Wajah Wiratama melengak terkejut, ternyata Nyai Gendis mengetahui permasalahan yang dia hadapi. "Tidak Nyai, kalaupun aku akan memperistrimu, aku tidak akan mengorbankan dirimu, aku akan mencari cara lain!". Setelah Wiratama berkata demikian, Nyai Gendis terdiam tidak berani membantah, karena ia tahu betapa teguhnya jika Wiratama ketika mengambil keputusan.

__ADS_1


Saat melihat kondisi keadaan Wiratama membaik, tanpa di ketahui yang lain, Nini Sangga geni dan Wirayudha pergi dari Parangtritis, pengawal ataupun penjaga yang lainpun tidak menyadari, karena mereka mengira Nini Sangga geni dan Wirayudha seperti biasa hanya pergi ke Bukit Gupit atau ke tepian pantai untuk berlatih.


"Nini, kemana kita akan pergi?" Wirayudha menengok ke arah Nini Sangga geni sambil mereka berlari. "Kita akan berkelana Wira!, sudah terlalu lama kita berada di Parangtritis tanpa berbuat apapun, kali saja kita bisa menumpas seseorang yang telah melukai ayahmu", "Benar Nini, aku juga sudah merasa bosan disana terus!", Mereka berdua pun berlari menuju Kotaraja.


Di Kotaraja yang biasanya ramai, semenjak sering terjadi pembunuhan misteri, kini suasananya mencekam, sesekali beberapa prajurit penjaga terlihat mengadakan patroli keamanan. Mereka bergantian berkeliling untuk menjaga situasi keamanan, seperti malam ini. Tanpa terlihat oleh para penjaga, di atas genting perumahan penduduk, terlihat ada bayangan yang sedang saling mengejar.


"Cepatlah Wanara! kita harus menangkap perempuan itu!" Aswangga sangat bersemangat melakukan pengejaran. "Kakang aku mempunyai firasat yang tidak baik, lebih baik kita menghindarinya saja!" terlihat keraguan dimata Ki Wanara. "ayolah Wanara, kita sudah semakin dekat!".


Aswangga mempercepat larinya, dan meninggalkan Ki Wanara yang berlari agak lambat di belakangnya, dua kali hentakan ia telah mencapai jarak yang sangat dekat dengan seseorang yang di kejarnya.


Bayangan yang di kejar oleh Aswangga berhenti di Perkebunan Bambu yang gelap, karena rapatnya bambu-bambu yang tumbuh membuat tempat itu semakin gelap pekat.


"He...he...he, Cah ayu...aku mencurigaimu! aku melihat kau bergerak cepat, keluar masuk di beberapa rumah penduduk, sangat mencurigakan sekali, apa yang telah kau lakukan?"


"Hmm...orang tua ini yang sebelumnya pernah berhadapan denganku saat aku malih rupa menjadi Arya Permana, mungkin dia masih mengira aku lemah", Dewi Pramudita tertawa dalam hati.


"Cah ayu, hayo ikut denganku menghadap petugas keamanan, apa yang telah kau perbuat tadi harus kau pertanggung jawabkan!" Tubuh Aswangga melesat ke depan, tangannya berusaha meraih tangan Dewi Pramudita, "Hiaaath...wush...wush...tetapi raihan tangan itu mendapati tempat kosong, karena Dewi Pramudita mengelak dengan cara bergeser ke samping, setelah bergeser kaki kanannya melanjutkan dengan tendangan ringan ke arah pinggang Aswangga, "Haiikh....desh...desh..."Arrrgkh!" Aswangga yang tidak mengira akan mendapat serangan, mundur terhuyung setelah mendapatkan tendangan di pinggangnya.

__ADS_1


"Kurang ajar kau Iblis betina!, "Hiaaath....wush...wush...wush, berkali-kali tangannya memukul ke arah kepala, tetapi dengan tenang Dewi Pramudita hanya menggerakan kepalanya ke sisi kiri maupun kanan untuk menghindari tanpa menggeser posisi tubuhnya.


Dengan penasaran, tubuh Aswangga melompat tinggi, saat di ketinggian mengirimkan tendangan beruntun, "Hiaath....degh...degh...kali ini beberapa tendangan itu tidak di hindari oleh Dewi Pramudita, tendangan itu di sambutnya dengan pukulan-pukulan keras.


"Ugkh....ugkh...saat turun Aswangga merasakan sakit di pergelangan kaki-kakinya yang tadi beradu dengan pukulan-pukulan Dewi Pramudita.


"Hik...hik..hik kau lemah sekali Kisanak!, keangkuhanmu saja yang sepertinya sangat tinggi", sebenarnya seranganmu tidak berarti apa-apa untukku Kisanak! aku tadi hanya bermaksud melancarkan darahku saja".


Dengan kemarahan yang tinggi, Aswangga kembali memberikan serangan dengan kombinasi tendangan dan pukulan, "Hiaath...plash...plash...betapa terkejutnya Aswangga, kali ini Dewi Pramudita tidak menghindari serangannya, tetapi pukulan dan tendangannya tidak dapat menyentuhnya, serangannya seperti menerobos asap saja.


"Kisanak, aku bosan dengan permainan ini, lihat serangan!" Hiaaath....dakh...dakh....dengan cepat pukulan Dewi Pramudita mengenai kepala Aswangga yang mengakibatkan tulang kepala itu rengkah, tubuh Aswangga roboh terkapar.


"Cuiih...ternyata kemampuannya tidak seberapa", Dewi Pramudita meludahi tubuh Aswangga yang terkapar, tidak berapa lama kemudian, tubuh Aswangga terbangun kembali, "Ha...ha...ha...kau pikir sangat mudah menumbangkanku?"


Dewi Pramudita mundur dua langkah ke belakang, "hmm...ternyata kau memiliki Rawa rontek!", "Hek...he...he, betul Cah ayu!, Aswangga tertawa dengan senyuman yang mengejek.


Tanpa di perkirakan oleh Aswangga, tubuh Dewi Pramudita melesat mendekatinya, kedua tangan Dewi Pramudita mencengkeram leher Aswangga, kemudian tubuh Aswangga di bawa meloncat ke atas dan menggantung di pohon bambu yang tinggi, "Hik...hik...hik kau pikir aku tidak tahu kelemahan ilmu ini?"

__ADS_1


"Arrrkh....aaakh.....terlihat Aswangga meronta-ronta dengan tubuh tergantung.


__ADS_2