Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Pasukan Badai


__ADS_3

Ki Pandawa, aku berencana membawa Pasukan Badai untuk keluar memberikan pengalaman pertempuran kepada mereka, misi yang pertama, setelah kita mempunyai informasi dari telik sandi, kita akan berangkat membawa pasukan mendekat ke kotaraja Mataram", "Bawalah olehmu pasukan badai 10 orang, untuk mencari daerah yang bisa di jadikan markas oleh kita", "Baik Raden, mohon petunjuk, kapan aku berangkat?" , "Ki, kau tanyakan dulu kepada Ki Sawung galih, sudah seberapa banyak informasi yang dia dapat?", "Baik raden".


Sore itu semua persiapan telah selesai, semua informasi dari telik sandi sudah di laporkan ke Wiratama, Berangkatlah pasukan Badai yang berjumlah 10 orang di bawah pimpinan Ki Pandawa, tugas mereka mencari tempat yang dekat dengan Kotaraja untuk di jadikan markas, sedangkan Pasukan badai yang 40 orang di pimpin Wiratama menyusul di belakangnya.


Ki Pandawa mendapatkan tempat untuk di jadikan markas, posisinya sangat strategis yaitu di daerah Parangtritis, dengan perhitungan bahwa pasukan bisa melakukan penyerangan dadakan dan bisa melenyapkan diri secara cepat, dan jika keadaan tidak memungkinkan Pasukan Badai bisa melarikan diri lewat jalur pantai dengan menggunakan kapal-kapal milik Ki Bondan yang di pergunakan untuk usaha perdagangan.


Pada masa itu banyak para adipati yang mulai membangkang kepada pemerintahan pusat Mataram, Adipati Kediri, Adipati kertosono dan Adipati Madiun. pasukan yang mempunyai misi untuk pengamanan di daerah itu pasukan yang di pimpin Arya permana, selaku panglima muda wilayah barat, karena Anggoro Pati selaku Panglima Muda wilayah timur sibuk dengan misi pengamanan di wilayah Surabaya dan Pasuruan.

__ADS_1


Beberapa kali pasukan dari Arya Permana di tengah perjalanan di serang pasukan tidak kenal, sehingga misinya berantakan. Pasukan penyerang ini melakukan gerakan - gerakan pertempuran yang cepat, dan melakukan sistem pertempuran kilat, mereka menyerang tanpa di duga, dan pergi tanpa bisa di kejar.


Selain itu pasukan ini pun menyerang gudang-gudang dukungan logistik, membakar dan membumihanguskan persediaan-persediaan makanan.


Keadaan ini membuat pasukan Arya permana hilang kendali, mereka mencari makanan dengan cara merampas dan memaksa penduduk-penduduk yang daerahnya di lewati.


Situasi seperti ini di kerahui oleh Panglima utama Mataram, Arya Permana di copot dari jabatannya, dia tidak di beri kepercayaan lagi.

__ADS_1


"Ha...ha...ha.....rasakan kau Arya Permana!"... bagaimana rasanya menjadi orang terbuang", Wiratama tersenyum kecil sambil mengepalkan jari-jarinya". dihadapannya Ki Pandawa duduk tersenyum pula. ternyata selama ini pasukan badai yang melakukan penyerangan-penyerangan terhadap pasukan yang di pimpin Arya Permana.


"Aku tak habis pikir, pasukanku kocar kacir dengan serangan-serangan pasukan musuh yang jumlahnya hanya sedikit, dan setiap pasukan yang kuhadapi mulai dari Kediri, Kertosono dan Madiun adalah pasukan yang sama". Arya Permana terlihat marah-marah di depan Ayahnya yaitu pangeran Adiraja.


"Apakah kau sudah menyelidiki dan mendapat informasi tentang pasukan itu Permana?" Pangeran Adiraja berdiri dan menatap tajam putranya. "aku tak mendapatkan informasi apapun romo". Arya Permana menghempaskan badannya di kursi, sambil menghela nafas, mencoba menghilangkan kekesalan hatinya.


"Memang kemampuanmu sebenarnya belum bisa di andalkan Permana, kau terlalu banyak mencari kesenangan dari pada mengurus pasukan" Pangeran Adiraja meninggalkan Arya Permana sendiri. Pangeran Adirajapun sebenarnya kesal dengan ketidak mampuan putranya menangani masalah keamanan itu, karena masalah putranya juga, ia pun mendapat teguran dari beberapa koleganya di Istana, yang membuatnya tersudut tak bisa membela diri.

__ADS_1


__ADS_2