Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kabut Hitam Nusakambangan VII


__ADS_3

Moksa Jumena bejalan mendekati Hulubalang Keling, "Hulubalang Keling Selamat datang dan bergabung bersama kami!"


Hulubalang Keling memperhatikan ke tiga orang yang berada di dekatnya, "Hmm...terimakasih kalian telah membebaskanku, tetapi bukan berarti kalian bisa memerintahku! aku akan melihat, mendengar dan bertindak bukan atas perintah kalian!"


Ki Badra menyahuti ucapan Hulubalang Keling "Hulubalang Keling, mana berani kami memerintahmu, kami hanya berharap kau bergabung dan menetap bersama, itu saja! mari menuju kediaman kami untuk beristirahat dan mengembalikan kondisimu!"


Ki Badra tidak mempermasalahkan ucapan Hulubalang Keling, karena dia pikir Hulubalang Keling saat bersamanya tidak akan mungkin berdiam diri di saat mereka menghadapi situasi yang berbahaya, tanpa di minta atau di perintah, pastinya akan membantu kelompoknya.


Moksa Jumena sengaja berjalan lambat saat mereka menuju Goa Ratu, ia ingin mengetahui dulu bagaimana Hulubalang Keling memandang situasi yang baru di lihatnya.


Hulubalang Keling memandang benteng-benteng dan parit di sekitar pantai yang di laluinya, kemudian ia pun bertanya kepada Moksa Jumena, "Moksa Jumena! apa yang sedang kau hadapi sekarang? aku lihat benteng-benteng ini baru saja kalian buat?"


Sambil terus berjalan, Moksa Jumena kemudian memperkenalkan Ki Badra sebagai Iblis Laut yang mempunyai gagasan untuk membebaskan tawanan-tawanan di sekitar Nusakambangan dengan tujuan membangun kekuasaan kecil di pulau tersebut, dengan tujuan mereka hanya ingin tempat untuk peristirahatan tanpa ada ikatan dengan wilayah kerajaan manapun dan terikat dengan aturan-aturan yang berlaku dengan kerajaan. Tetapi saat ini mereka mendapat ancaman serangan dari pihak Kerajaan Mataram.


"Bagaimana menurut pendapatmu Hulubalang Keling?' Moksa Jumena menghentikan penjelasan singkatnya.


Hulubalang Keling masih memasang wajah datar dan menjawabnya, "Aku tidak mau tahu dengan situasi kalian saat ini! yang aku inginkan saat ini adalah menghirup udara sebebas-bebasnya!"


Kebetulan saat Hulubalang Keling menengadahkan kepalanya ke atas, ia melihat burung camar yang terbang melintas di atasnya.


"Phuuuih!.... tiupan udara dari mulutnya terlihat tidak menimbulkan suara keras atau luncuran apapun, tetapi sesaat kemudian Camar yang sedang terbang di atas, terjatuh dengan tubuh terbakar.."Chiiit...Plikh...!"

__ADS_1


Ki Badra dan Moksa Jumena tersenyum senang melihat demontrasi tenaga dalam yang sederhana dari Hulubalang Keling.


Akhirnya sampailah mereka berempat ke Goa Ratu, segala macam hidangan di siapkan untuk menyambut kehadiran Hulubalang Keling.


Hulubalang Keling duduk menyandar di kursinya sambil memejamkan mata, kemudian mengajak berbicara Ki Badra dan Nyai Seruni, "Badra siapa yang berada di bawah tanah Goa ini?"


Ki Badra terhenyak, baru kali ini dia teringat tahanan yang berada di bawah tanah, hampir saja dia melupakannya. "Di bawah tanah ada seorang tahanan kami, apakah kau mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui Hulubalang Keling?"


"Berarti dia tidak masuk dalam kelompokmu? sayang sekali, dia mempunyai ajian Malih rupa yang sangat bermanfaat untuk kalian!"


"Maafkan kami, kami tidak mengetahuinya!" Ki Badra dan Nyai Seruni serempak menjawab.


Moksa Jumena kemudian meminta Ki Badra dan Nyai Seruni untuk membawa tawanan yang di maksudkan Hulubalang Keling.


Tidak lama kemudian sosok tubuh perempuan terguling di lemparkan Ki Badra di tempat mereka tadi berkumpul, ternyata sosok itu adalah Dewi Pramudita, Tali Seragih di lepas oleh Ki Badra, "Iblis betina! kami akan menawarkan sesuatu yang menguntungkanmu, tetapi jawab semua apa yang di tanyakan oleh kami!"


Dewi Pramudita yang masih berlutut hanya mendengus kesal, tidak ada pilihan yang terbaik selain mengikuti mereka, melihat Ki Badra saja dia sudah merasa miris, karena mengingat kekalahannya oleh Candramawa, apalagi saat ini orang-orang yang berdiri di sampingnya terlihat mempunyai kanuragan yang lebih tinggi.


"Siapa namamu Nisanak? apa tujuanmu ke pulau ini?" kali ini Rakyanlah yang bertanya.


Tatapan mata Dewi Pramudita beralih kepada Rakyan, sebelumnya ia melihat Hulubalang Keling dan Moksa Jumena. Dua orang yang tadi sempat di perhatikannya mempunyai sorot mata yang dalam dan mengerikan, Dewi Pramudita mencoba menjajagi dengan kekuatan bathinnya, tapi dia tidak menemukan apapun kecuali lorong-lorong yang gelap dan hitam, membuatnya berniat akan berhati-hati dalam menjawab semua pertanyaan mereka.

__ADS_1


Moksa Jumena menegur Dewi Pramudita yang tak kunjung menjawab pertanyaan dari Rakyan, "Mudah bagiku untuk membinasakanmu saat ini! aku memberikan waktu hanya sedikit kepadamu untuk menjawab!"


Dengan tergesa kemudian Dewi Pramudita menjawab "namaku Dewi Pramudita, aku datang bersama muridku untuk mencari suamiku yang bernama Wiratama, kabarnya ia singgah ke pulau ini!"


"Kenapa kau membunuh orang-orang kami iblis betina! Ki Badra menyahut dengan membentak.


"Aku hanya membela diri, anak buahmu yang berusaha menangkapku! apakah kau memberikan waktu kepadaku untuk menjelaskan semuanya? datang langsung mengeroyokku, dan menjebloskanku ke dalam penjara!"


Rakyan kemudian menengahi "Siapa yang kau maksud suamimu Nisanak? apakah kau menemukannya?"


Dewi Pramudita kemudian memutar otaknya untuk mencoba mencari celah keberuntungan "suamiku Raden Wiratama, sebelumnya adalah seorang Senopati Mataram, yang kemudian di singkirkan oleh pihak kerajaan, dan aku mendapat informasi kalau dia menetap di sini, tapi pencarianku terhalang karena aku di jebloskan ke dalam penjara!"


"Hei...berarti kau musuh pihak kerajaan, bagaimana kalau kau menjadi sekutu kami? kami memerlukan keahlianmu dengan ilmu malih rupa untuk menyusup dan menghadapi para prajurit Mataram!"


"Kau tidak dalam posisi memilih Nisanak! karena kepandaian dia mengolah kata saja terdengar seperti menawarkan beberapa pilihan!" Moksa Jumena tertawa sambil tangannya menunjuk Rakyan.


Suara tawa Moksa Jumena membuat yang lain tersenyum, tetapi tidak untuk Dewi Pramudita, karena suara tawa itu adalah peringatan ancaman buat dirinya.


"Aku sepakat, aku akan menjadi sekutu kalian yang baik!" akhirnya Dewi Pramudita menyetujui untuk bergabung bersama mereka.


Hulubalang Keling duduk di kursinya dengan pandangan tidak peduli dengan sekitar.

__ADS_1


__ADS_2