Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Membaca Situasi


__ADS_3

Pasukan Bayangan telah menempuh perjalanan selama dua hari, akhirnya mereka beristirahat di sebuah kedai yang lumayan besar, yang dapat menampung Dua kelompok mereka.


Raden Sangaji, Jalasena dan Raden Wisnu Wardhana duduk dalam satu meja untuk menikmati hidangan mereka, "Ayolah Wisnu kau harus makan banyak! perjalanan kita masih panjang dan kita tidak tahu apakah nanti menemukan makanan enak kembali!" Raden Sangaji mengambil beberapa makanan di wadahnya sambil tetap memperhatikan putranya.


"Pelayan! sediakan kami tempat dan makanan yang paling enak!" terdengar teriakan suara wanita dari pintu masuk, Dua sosok wanitapun masuk, yang satu terlihat separuh baya dengan penampilan layaknya wanita perkasa, dan yang satu lagi adalah wanita muda cantik dengan rambut di kepang panjang, terlihat keangkuhan dari wanita yang lebih muda.


Raden Wisnu Wardhana tercengang dengan kedatangan mereka, ternyata yang datang adalah Nyai Ambarukmo dan Rengganis, ia pun kini terlihat gelisah dan tidak tahu apa yang akan di lakukannya, apakah menyapa ataukah berdiam diri bersama Ayahnya.


"Nisanak berdua, silahkan duduk di meja ini! kami akan menyediakan hidangan yang terbaik untuk kalian!" ucapan ramah dari pelayan kedai terdengar sedang melayani mereka.


"Wisnu, wajahmu terlihat sangat pucat dan gelisah! apakah kau mengenal mereka?" dengan suara yang pelan Raden Sangaji menegur putranya, "Ti...tidak Romo!" dengan suara gagap Raden Wisnu menjawab. Jalasena mempunyai firasat yang kurang baik, tetapi ia hanya berdiam diri sambil matanya mengawasi kedua wanita yang sudah mulai makan tersebut, Kebetulan posisi tubuh ke tiganya menghadap meja yang di tempati Nyai Ambarukmo dan Rengganis.


Suara bisikan Raden Sangaji terdengar oleh Nyai Ambarukmo "Rengganis! ternyata mereka adalah Ayah bersama putranya, mungkin akan melakukan perjalanan jauh, apakah kau tidak di ajaknya? atau kau memang belum pernah di perkenalkan dengan calon mertuamu?" Suara Nyai Ambarukmo terdengar keras dan sengaja agar membuat di sekitarnya mendengar.


Raden Sangaji dan Jalasena paham, pembicaraan kedua wanita itu sengaja keras agar terdengar kepada se isi kedai, tetapi mereka belum dapat menerka, percakapan itu di tujukan kepada siapa."

__ADS_1


"Aku tidak perduli guru!.. dia kira hanya dirinya yang pantas mendampingiku!" suara Rengganis dengan ketus menjawab pertanyaan gurunya.


"Hik...Hik..Hik.., apakah memang kau melupakannya Rengganis?" sebuah cangkir air minum yang terbuat dari tanah liat yang di bakar terlihat berada di tangan Nyai Ambarukmo, di permainkan dengan jari-jarinya, kemudian di tuangkannya tuak ke dalam cangkir tersebut, "Bughh!..telapak Nyai Ambarukmo memukul meja, membuat cangkir terpental dan mulai berputar di atas nya.."Hupph...wussh! melesat ke arah meja Raden Sangaji, dan tiba-tiba berhenti di atas mejanya, tidak ada isinya yang tertumpah sedikitpun.


"Hik...Hik..Hik..lihat Rengganis! apa mereka mau menerima tuak yang aku kirimkan!" Rengganis hanya diam membisu melihat apa yang telah di perbuat gurunya.


"Hmm...peragaan tingkat tenaga dalam yang tinggi! wanita ini bukan orang sembarangan," Raden Sangaji membatin dalam hati.


"Haiikh..Taphh!"..Cangkir yang berada di atas meja kembali terpental ke atas, kemudian berputar dan mendarat di meja yang di tempati oleh Nyai Ambarukmo, tuak yang berada dalam cangkirpun sama sekali tidak berkurang dan menetes, tetapi saat terlihat oleh Nyai Ambarukmo dan Rengganis, tuak yang berada di dalamnya dalam keadaan mendidih panas.


"He..He..He..ternyata calon ayah mertuamu bukan orang sembarangan Rengganis!"


Rengganis berdiri dan menghardik Raden Sangaji "Phuiiih...orang rendahan seperti mereka, tidak pantas untuk duduk bersama kita!"


Raden Wisnu ikut berdiri dan mendekat "Tutup mulutmu Nimas! kami bukan orang rendahan, kau terlalu tinggi menilai dirimu sendiri dan sangat senang merendahkan orang lain!"

__ADS_1


Raden Sangaji bukanlah orang sembarangan, selain kemampuan kanuragannya tinggi dia adalah seorang ahli siasat pertempuran, melihat situasi seperti itu, dia sudah dapat memperkirakan apa yang telah terjadi.


Dengan tersenyum ia memandang Rengganis "Ha...Ha..Ha..Nisanak, ternyata putraku mengenal dirimu, tidak ada salahnya kami yang rendah mengundang kalian untuk duduk bersama!"


Akhirnya Nyai Ambarukmo merasa tak enak hati, "Tuan aku memenuhi undanganmu!" "Braaakh...! Tidak guruu! aku tidak mau duduk bersama mereka!" Rengganis menggebrak meja yang berada di depannya.


"Hik..Hik..Hik, maafkan muridku yang tidak tahu tatakrama ini tuan!" kemudian Nyai Ambarukmo berpindah tempat duduk di tempat yang sebelumnya Raden Sangaji bersama rombongan menikmati jamuan makan.


Raden Wisnu langsung mendekati dan kemudian menjura dalam-dalam, "Maafkan aku guru!"....


"Ahaa...ternyata kau adalah guru dari putraku, terimakasih Nisanak telah berkenan mengangkat putraku menjadi muridmu!" Raden Sangaji ikut menjura di depan Nyai Ambarukmo.


"Hik..hik..aku kira kau sudah melupakanku Wisnu!" Nyai Ambarukmo tertawa sambil menepuk bahu Raden Wisnu.


Nyai Ambarukmo dan yang lain tidak mengira ternyata Rengganis mengirimkan sebuah tendangan ke arah Raden Wisnu "Hiaaath...desh...desh...brukh...membuatnya terjengkang ke belakang.

__ADS_1


__ADS_2