
Hampir Dua purnama Arya Permana tidak kembali ke Kotaraja, akhirnya kedudukan sebagai Panglima Muda wilayah barat di gantikan oleh Raden Gilang Seta.
Raden Gilang Seta seorang prajurit yang mempunyai pengalaman pertempuran yang hebat dan kepandaiannya dalam strategi peperangan sudah tidak di ragukan lagi, ia pun salah satu orang kepercayaan dari Panglima Utama Mandala Putra.
Koordinasi antara pasukan wilayah barat dan timur pun sekarang sudah terjalin dengan baik, karena Panglima Muda wilayah timur Raden Sangaji sebagai pengganti Raden Anggoro Pati yang telah tewas, adalah seorang prajurit yang pilih tanding. dan hal itu juga yang memutus mata rantai dominasi keluarga dari Pangeran Adiraja.
Beberapa hari ini Panglima Utama Mandala putra terlihat sangat gembira dengan situasi tersebut. keadaan pasukan Mataram sangat solid dan siap dalam menghadapi segala gangguan dari pihak pemberontak manapun. Tetapi ada suatu hal yang menjadi ganjalan hatinya sampai saat ini,
__ADS_1
Ada seseorang yang dia harapkan untuk bisa di ajak bicara dalam segala hal, tentang situasi keamanan, pribadi ataupun tentang keilmuan. Mandala Putra mengharapkan kehadiran Wiratama. Keinginannya tak jauh berbeda dengan keinginan putri semata wayangnya, Putri Retno Ningsih yang sedang merindukan Wiratama.
Di pendopo kediamannya terlihat Panglima Mandala Putra sedang berbincang santai dengan Ki Wisesa dan Ki Sampang, "Ki Wisesa dan kau Ki Sampang, menurut penilaianku kalian berdua mempunyai kedekatan secara emosional dengan Wiratama, menurut kalian apa yang harus aku lakukan agar Wiratama mau mengabdi kembali di kerajaan?" aku sebenarnya bisa saja merekomendasikan dia kepada Susuhunan Panembahan Senopati untuk bisa menjadi salah satu pilar di pasukan kita, tetapi sepertinya dia sudah terlanjur kecewa atau mungkin sudah menikmati keadaan di luaran sana". Setelah Panglima Mandala Putra tidak melanjutkan bicaranya, sesaat kemudian Ki Wisesa memberanikan diri menyampaikan saran, "ampun Gusti!, hamba mempunyai saran", "Katakanlah Wisesa!" mungkin saranmu bisa aku terima".
"Menurut pendapat hamba, sepertinya Raden Wiratama tidak dapat di iming-imingi dengan kedudukan atau jabatan apapun, alangkah lebih baik Gusti membiarkan dia untuk menjalani kehidupannya sendiri, jika Gusti Panglima ada sesuatu hajat tentang tugas kepadanya, Gusti tinggal memanggilnya kembali, hamba rasa dia mempunyai loyalitas tinggi dan pasti akan melaksanakan", kemudian Ki Sampang pun menimpali, "benar Gusti, kami lihat sepertinya Wiratama sudah merasakan kebahagiaan di luar tatanan pemerintahan".
Panglima Mandala Putra yang sedang duduk di kursi, menyandarkan punggungnya dan melihat ke sekeliling, pandangannya tidak menatap kedua bawahannya yang sedang berada di depan. "Keinginan pribadiku juga menginginkan seperti saran kalian, tetapi ada sesuatu hal yang tidak bisa aku abaikan".
__ADS_1
Panglima Mandala Putra tersenyum, "aku memaklumi kalau kau kebingungan 'Wiraguna! kau tidak mengetahui kisah tentang putriku dengan Wiratama".
Setelah itu pandangan Panglima Mandala Putra menerawang, teringat kisah putrinya dengan Wiratama saat dulu, mereka adalah pasangan yang serasi, Senopati Wiratama yang gagah perkasa akan bersanding dengan putrinya yang cantik jelita, ada rasa bahagia dan bangga di hatinya. Tetapi semuanya hilang satu pekan saat mereka akan duduk di pelaminan, Wiratama di anggap seseorang yang paling bertanggung jawab terhadap pembunuhan beberapa prajurit Mataram yang sedang melakukan penyamaran di selat Madura, dan ia pun tertuduh sebagai pemberontak.
Saat Wiratama di adili, tidak ada bukti kuat yang mengatakan bahwa dia terlibat secara langsung ataupun tidak langsung, tetapi entah kenapa, semua para pejabat dan bangsawan setuju mendepaknya dari kedudukan Senopati. Betapa hebatnya dominasi keluarga Pangeran Adiraja saat itu.
Kisah lama yang sebenarnya tidak mungkin untuk di kembalikan lagi seperti semula, Panglima Mandala Putra pun menyadarinya. Sebenarnya ia hanya ingin menyembuhkan luka hati yang di derita putrinya, bukan untuk merubah tatanan dalam pasukan atau pemerintahan. Apakah salah jika ia sedikit memberikan tempat kepada Wiratama di Mataram? sehingga kebahagiaan putrinya bisa dapat dia lihat dari dekat.
__ADS_1
Karena melihat Gustinya sedang merenung dan lama tidak memberikan titah apapun, Ki Wisesa akhirnya mengajukan diri "mohon maaf Gusti, perkenankan kami untuk menemui Raden Wiratama, mungkin saat kami memberikan saran kepadanya ia dapat merubah pendiriannya",
"Baiklah Wisesa, karena kau yang mengetahui sejarah kehidupannya yang dulu, aku mempercayaimu untuk bebicara dengan Wiratama", dan kau Wiraguna tetaplah menggunakan namamu sebagai Ki Sampang, carilah informasi tentang keberadaan Arya Permana dan informasi keberadaan para pengawalnya yang dia ambil dari para golongan pendekar, terutama yang mempunyai Aji Rawa rontek yang pernah berhadapan denganmu!", "Baik Gusti, kami akan melaksanakan titahmu!" kemudian keduanya pamit.