Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Pengembaraan II


__ADS_3

"Duduklah anak muda, mohon maaf atas kekeliruanku!" Kakek tua bersama tiga sosok keluarganya itu kemudian menggelar sebuah tikar yang terbuat dari daun pandan, dan memberikan jarit kepada Wiratama untuk mengeringkan badannya.


"Aki, apa yang sedang terjadi di pedukuhan ini? sepertinya kalian mengalami ke khawatiran yang berlebih?"


"Anak muda, telah sepekan ini penduduk pedukuhan di landa rasa ketakutan, hampir tiap malam wilayah kami di jadikan ajang perkelahian antara pendekar yang sedang menuju pulau Nusakambangan, mereka berlomba-lomba ingin bergabung dengan para perompak yang konon saat ini sedang mencari anggota baru. "Apakah kau pun sedang dalam perjalanan kesana?"


Wiratama manarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan berat "Hmm...aku seorang pengelana tanpa tujuan Ki! tetapi aku tidak berminat menjadi seorang perompak."


Keduanya berbagi cerita, Kakek tua itu lebih mendominasi perbincangan dan Wiratama sebagai pendengar, "Baiklah kalau begitu anak muda, beristirahalah dahulu di gubuk kami!" kemudian Kakek tua bersama istri serta anaknyapun ikut berbaring di tikar pandan.


Suasana dingin makin menggigit tulang, Wiratama belum dapat menutup matanya, perasaan batinnya yang peka, menduga akan terjadi sesuatu.


Hujan telah mereda, menyisakan air yang menggenang di kubangan tanah, lapat-lapat terdengar suara percikan air yang terkena pijakan langkah beberapa orang. Terdengar suara percakapan mereka oleh telinga Wiratama yang memang sudah terlatih untuk mendengar jarak jauh.

__ADS_1


"Kakang, apa yang kau cari di Pulau Nusakambangan itu? apakah kau berniat ingin bergabung dengan para perompak?" terdengar suara dari salah satu mereka mengajukan pertanyaan.


"Soma! jika kau tidak mau ikut, tunggulah kau di perdukuhan, aku tidak memaksamu untuk mengikutiku!" suara agak serak dan berat menegur seseorang yang mengajukan pertanyaan tadi. "Aku akan ikut kemana pun kau pergi Kakang" ujar Soma.


"Soma! konon katanya pemimpin para perompak itu adalah seorang wanita yang sangat cantik dan sakti, aku ingin mengetahui seberapa kekuatannya, jika kemampuannya melebihi kita, tidak ada salahnya kita ikut bergabung...Tetapi jika tidak, akan aku jadikan pendampingku!"


"Ha...ha...ha Kakang Brajanata, kenapa kau tidak katakan kepada kami dari kemarin, kami pasti mendukungmu!" seseorang yang lain bergelak tertawa riang mendengar keterangan dari Brajanata. Kelompok mereka berjumlah empat orang, sebelumnya mereka adalah para perampok di Jambu sari.


Di saat mereka sedang berbincang sambil berjalan, terdengar derap kaki kuda mendekati mereka. "Brash...brash...suara percikan air di kubangan tanah terdengar. Dua pasang Kuda melewati mereka, percikan-percikan air yang bercampur lumpur tanah mengenai pakaian Brajanata dan yang lain.


"Kurang ajar! siapa kalian yang mengganggu perjalanan kami?" penunggang kuda yang roboh itu berteriak marah, setelah melompat dan mendarat di tanah, tangannya bertolak pinggang kemudian menunjuk ke arah Brajanata.


"Ha...ha...ha ternyata kau Camar betina, kemana Camar pejantanmu yang dulu? apakah kau sekarang sudah berganti pasangan?" Somantara yang berada di samping Brajanata tertawa bergelak saat melihat Wanita yang sedang membentak Kakak seperguruannya.

__ADS_1


"Hei Camar betina! kenapa tolak pinggangmu tidak sempurna? luruskan tanganmu yang kau tambal dengan pelepah pisang itu! Ha...ha...ha."


Memang benar, wanita yang kini berada di depan Empat Begal dari Jambu Sari adalah pasangan dari Camar iblis yang masih cidera karena perkelahiannya dengan Wiratama.


Sosok yang berada di belakang Camar Iblis yang masih berada di atas kuda, melesat mengirimkan tendangan beruntun ke arah Somantara "Hiaaath....Desh...desh!" satu tendangan bisa di elakan, sedangkan tendangan yang lain oleh Somantara di tangkis dengan tendangan putar.


"Dher.....Rrrrrgh...benturan kaki di antara mereka membuat Somantara terjajar tiga tombak ke belakang, menandakan tenaga dalamnya kalah tingkat di banding dengan kawan dari Camar Iblis.


Menyusul pukulan-pukulan yang berhawa panas menyerang Somantara yang membuatnya terdesak.


Situasi itu tidak berlangsung lama, karena Brajanata tidak mendiamkan serangan pukulan tersebut melukai adik seperguruannya.


"Hiaaath...Blarh...Blarrh....adu pukulan kembali berlangsung antara Brajanata dan kawan dari Camar Iblis, membuat hawa panas menyebar ke sekitar dan menghilangkan udara dinginnya malam. Akibat benturan pukulan, keduanya terdorong masing-masing dua langkah ke belakang.

__ADS_1


Sebelum serangan-serangan dari kedua belah pihak berlanjut, terdengar suara yang menggema dan memaksa mereka menghentikan pertarungan.


"Kalian telah mengganggu kenyamanan warga pedukuhan ini!" dalam samar gelapnya malam, mereka melihat ke arah sumber suara, seorang laki-laki tegap berambut panjang mendekat dengan sebilah tombak pendek yang tergenggam di tangan kanannya.


__ADS_2