
Rangkayu membalikan posisi tubuh dua orang yang tergeleletak di lantai, ia mengenal wajah mereka, keduanya adalah telik sandi yang ia susupkan ke kediaman Panglima Mandala Putra.
"Buka ikatan tangan dan kaki mereka!", beberapa prajurit kemudian membuka ikatan tersebut, Rangkayu melepaskan totokan kesadaran keduanya, Rangkayu dan prajurit yang berada di sekitarnya terkejut, dua orang itu menjerit-jerit seperti kerasukan setan, "Aaarkh...aaarkh, jangan bunuh kami tuan!...jangan siksa kami!"... kami hanya terpaksa melakukan tugas ini!"... "kau iblisss yang menyamar menjadi manusia!... jangan bunuh kami!" kedua orang tersebut berteriak dan berlari kesana kemari.
Beberapa prajurit akhirnya menangkap mereka, Rangkayu melihat tatapan mereka kosong dan melihat wajah mereka dalam keadaan ketakutan, "Hmm...sepertinya mereka mengalami penyiksaan yang sangat berat, membuat meraka trauma dan menjadi gila", percuma saja mencari informasi dari mereka".
Akhirnya Rangkayu memanggil Ki Sampang yang berada di dalam, "Ki Sampang, yang perlu kau rawat sekarang bertambah menjadi tiga orang, bawalah mereka ke tempatmu!", "Baik Denmas!" Ki Sampang mendekati keduanya, "Haaa....kau iblis itu!.., tolong tuan!" jangan serahkan kami kepadanya!" keduanya meronta-ronta berusaha melepaskan diri.
Rangkayu melirik ke arah Ki Sampang, karena ia melihat ekspresi kedua telik sandi itu seperti melihat Malaikat pencabut nyawa saat menatap Ki Sampang, tetapi wajah Ki Sampang terlihat normal dan terlihat tidak ada perubahan sama sekali, diam dan tanpa ekspresi.
__ADS_1
Akhirnya Rangkayu membuang perasaan curiganya, karena saat pertama kali ia melihat kedua orang itupun sudah terlihat seperti kerasukan, walaupun pandangan ke arah Ki Sampang ada sedikit perbedaan dari mereka.
"Prajurit bawa mereka ke belakang untuk di rawat Ki Sampang!" kemudian beberapa prajurit membawanya ke belakang dan mengunci mereka di ruangan dalam dan menyerahkannya ke Ki Sampang, Rangkayupun pergi melanjutkan penyelidikannya.
Setelah memastikan tidak ada orang lain, Ki Sampang mendekati mereka, "He...he..he, kalian orang yang beruntung, masih di beri kesempatan untuk hidup, pilihan ada pada diri kalian masing-masing, melanjutkan hidup atau mati sekarang juga!", kedua orang telik sandi itu masih mengenali Ki Sampang dengan jelas, tubuh mereka bergetar dan tidak bertenaga saat mengingat rekan-rekan mereka yang di bunuh oleh Ki Sampang, mulut merekapun akhirnya terkunci.
Rangkayu melihat barak para prajurit di ruangan lainnya, mereka terlihat sedang beristirahat kelelahan. akhirnya ia pun bermaksud untuk pergi ke tempat lain, tetapi sebelum kakinya beranjak, terdengar suara desisan ular yang terdengar berasal bukan hanya satu atau dua ekor, "zssssh...zzsssh...."Aaakh...."argh..."akh, beberapa prajurit yang sedang beristirahat itu bergelimpangan dengan mulut berbusa dan tubuh menghitam.
Mata Rangkayu dan yang lainnya terbelalak kaget, Ular-ular yang sudah tewas itu kembali hidup dan menjadi semakin ganas, serangan mereka bertambah gesit, gerakan mereka merayap dan menyerang semakin cepat, beberapa prajurit yang melarikan diri lewat pintu terhenti, karena melihat ular-ular itu menghadang di depan dan menerjang mematuk mereka.
__ADS_1
"Arrrgk....arrrghhh......berpuluh prajurit roboh dalam waktu singkat, banyak di antara mereka yang bergelimpangan, kejang-kejang dengan tubuh yang menghitam karena racun bisa ular.
"Zzzsh....zzzsssh....desisan keras terdengar menggema di ruangan, dan membuat ular - ular itu menghentikan serangannya, mereka pun merayap keluar dan segera hilang di balik sela tembok dan semak.
Arya Permana bersama beberapa pengawalnya terlihat berlari mendekat, "Rangkayu, apa yang terjadi?" "Hamba tidak tahu raden!, Ular-ular itu menyerang dengan tiba-tiba!" Rangkayu menjawab dengan kebingungan.
Belum juga habis rasa khawatir dan keheranan mereka, terdengar suara teriakan kesakitan dari prajurit-prajurit yang melakukan penjagaan di pintu gerbang depan, merekapun cepat berlari ke arah penjagaan pintu gerbang depan, terlihat beberapa ekor ular sedang merayap menjauh, beberapa pengawal Arya Permana meloncat untuk mengejar, tetapi lari mereka terhenti saat melihat enam orang prajurit yang berjaga tergeletak dengan tubuh yang gosong.
Arya Permana dan yang lainnya hanya berdiri mematung, akhirnya Ki Wanara maju kedepan dan berbisik kepada Arya Permana "raden, ini bukan serangan ular biasa, mereka di kendalikan oleh seseorang!" Arya Permana menarik nafas dan segera memerintahkan kepada yang lainnya untuk mengurusi prajurit-prajurit yang tewas terkena racun bisa ular.
__ADS_1
"Ki Wanara, menurutmu siapa yang melakukan serangan Ular ini?" Ki Wanara mengerenyitkan keningnya pertanda sedang mengingat sesuatu. "Raden di tempat kelahiran kami tanah Pasundan, tepatnya di puncak Gunung Ciremai di sana banyak beredar kabar, bahwa ada seorang wanita penguasa kerajaan ular, baik yang berada di dunia nyata, ataupun dunia ghaib!", "Kau carilah cara menanggulanginya Ki!, jika kau membutuhkan sesuatu, kau langsung menghadapku!", Arya Permana memberikan perintah kemudian beranjak pergi dengan membawa kekhawatiran di hatinya.