Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Kembang Wijaya Kusuma IV


__ADS_3

"Akhh...Pujaan hatiku, siapa namamu?" Wanita cantik itu bergelayut manja kepada Wiratama kemudian mengecup pipinya..Mmmuach...!"


"Namaku Wira!" Wiratama hanya menjawab dengan singkat, karena hatinya berdebar-debar.


"Wiraa...Akhh..Nama yang bagus, cocok sekali dengan parasmu yang rupawan, namaku Aruna, mempunyai arti bersinar kemerah-merahan, apakah namaku sesuai denganku Wira?"


Wajah Wiratama semakin memerah kemudian berkata "namamu sangat sesuai dengan parasmu Nisanak!"


"Jangan panggil aku dengan panggilan itu Wira! panggilan Nisanak padaku akan membuat jarak kepada kita!"


"Arrr...ru...naaaa!..Kau bisa memanggilku dengan nama itu!" tangan Aruna membelai bahu dan dada Wiratama.


Kemudian Aruna duduk di sebuah batu dan mulai memainkan serulingnya kembali, Suara seruling Aruna mengalun dengan syahdu, melengking saat melantunkan nada-nada haru, mendayu-dayu sampai menusuk ke dalam kalbu, Wiratama kembali terlena dengan suara seruling Aruna.


Aruna turun dari batu sambil tetap memainkan serulingnya, kemudian mendekati Wiratama yang masih termangu, Tangannya memeluk, sembari melepaskan pakaian Wiratama dan merebahkannya di bawah pohon yang rindang.


Wiratama melihat Aruna yang sangat rupawan, melepaskan pakaian bagian atasnya...membuat gairah Wiratama berkobar-kobar.


Tubuh elok milik Aruna terpampang jelas di atas tubuhnya, apalagi saat menyatu dengan bagian tubuhnya yang telah terbuka, panas membara, bibir Wiratama di kecupnya dengan lembut, di belainya bagian yang membuat Wiratama melenguh...Aaakh...!..


Kedua mata Wiratama terpejam, menikmati cumbuan Aruna.


Saat semuanya akan terlaksana, kesadaran Wiratama kembali...Kedua tangannya mendorong tubuh Aruna, dan dengan cepat memakai pakaiannya kembali.."Cukup Aruna, aku tidak bisa melakukannya!"


"Aih...Kenapa Wira? apakah kau tidak menyukaiku?


"Mohon maaf Aruna, aku tidak bisa melakukannya jika kita tidak terikat dengan ikatan suci!"

__ADS_1


Aruna pun kembali berdiri dan memakai pakaiannya kembali.


"Wira, namamu sesuai dengan sikapmu, baru kali ini aku menemukan seorang laki-laki yang tidak terpengaruh Seruling Penggetar Sukma!"


"Bawalah aku kemanapun kau pergi Wira!" Suara serulingku bukan hanya bisa menggetarkan sukma, tetapi bisa pula menjadi Seruling Perenggut Sukma!" Setelah tersenyum tubuh Aruna berubah menjadi bayang-bayang tipis dan kemudian bayangan Aruna masuk ke dalam Seruling Penggetar Sukma.


Wiratama memungut seruling itu dan memasukannya ke balik pakaian. Dia tidak menyadari bahwa Seruling Penggetar Sukma bisa menjadi Seruling Perenggut Sukmanya sendiri di kala ada wanita yang menjadi pesaingnya dalam merebut hati Wiratama.


Wiratama merasa senang, ada dua pusaka yang telah di perolehnya dan berniat akan kembali ke goa kediaman Ki Gede Baruna.


Ia pun berbalik arah, melangkah ke arah di saat awal dia datang, tetapi kabut telah membuat dirinya tersesat, akhirnya semakin dalam ke arah lebatnya Hutan di Lembah Nirbaya.


Angin berdesir membuat rambut Wiratama berkibar, beberapa kali pandangannya di palingkan ke beberapa arah, tetapi yang ia lihat hanya pohon-pohon yang semakin ke depan semakin rapat.


"Anak Manusia, apa yang kau cari di lembah ini?" terdengar suara teguran dari arah belakang, membuat Wiratama membalikan tubuhnya,


"Maafkan aku Ki, aku tersesat dan ingin kembali!" Wiratama membungkukan badannya memberikan penghormatan.


"Hmm...Tersesat?.. aku lihat kau sengaja menuruni dasar lembah ini! apa yang kau cari?"


"Akkh...Aku..Aku...Tidak mencari apa-apa Ki, aku hanya jenuh dan mencari udara di luar!" Wiratama menjawab dengan gagap, karena sosok yang di depannya mengerahui apa yang telah dia lakukan.


"Dari awal aku sudah melihat sepak terjangmu di sini, Hmm....Wiratama! betulkah itu namamu?"


"Be..Be...Benar Ki! mohon maaf aku tidak mempunyai tujuan tertentu di dalam dasar lembah ini Ki!"


"Aku tahu Wira, ikutlah denganku Wira!"

__ADS_1


Kemudian mereka berjalan beriringan, sosok sepuh itu memperkenalkan diri dengan nama Resi Bambang Ekalaya.


Setelah mereka berjalan agak jauh, akhirnya tibalah di depan sebuah pondok sederhana yang terbuat dari susunan kayu yang sangat rapih.


Suasana di sana berbeda jauh denga suasana di dasar lembah yang di temui Wiratama sebelumnya, halamannya terlihat Asri, cahaya mataharipun dengan jelas menerangi, membuat udara menjadi hangat dan tidak lembab.


"Duduklah Wira!...Resi Bambang Ekalaya menyuruh Wiratama duduk di depannya, di dipan kayu yang mirip balai-balai.


Setelah mereka berdua berhadapan, Resi Bambang Ekalaya menggerakan tangannya ke atas, seakan mengambil sesuatu dan meletakannya di depan Wiratama.


"Lihat Wira! di depanmu kini ada beberapa pusaka yang di buru oleh semua pendekar baik dari kalangan putih maupun hitam."


Kemudian sang Resi, menunjuk sebuah lembaran kulit Harimau, "ini adalah Kantong Macan! bisa membuat ragamu berpindah kemanapun kau mau!, ini adalah Wesi Kuning bisa membuatmu kebal dari berbagai macam senjata!, dan ini adalah kain Ontokusumo, kemudian Resi Bambang Ekalaya Menjelaskan semua Pusaka-pusaka yang berada di depannya serta kegunaannya. "Pusaka mana yang akan kau pilih Wira?"


"Mohon maaf Resi, aku tidak mempunyai kenginan memiliki sesuatu yang bukan menjadi Hak ku, terimakasih atas kepercayaanmu kepadaku!"


"He..He..He..Kau bukan seorang yang ambisius Wira!", kemudian Resi Bambang Ekalaya menghilangkan semua Pusaka yang berada di depannya.


"Kau telah menolak apa yang aku tawarkan Wira, tetapi aku akan menjelaskan kepadamu suatu peristiwa yang akan kau hadapi di depan, Tokoh-tokoh hitam yang di belenggu di Pulau ini, sekarang sudah di bebaskan dengan bantuan Ki Badra dan istrinya Nyai Seruni, mereka akan membuat suatu kekacauan dan huru hara."


"Kau harus tahu Wira!.. tokoh-tokoh hitam yang kini telah bebas, mempunyai kemampuan yang sangat tinggi setara dengan salah satu gurumu yaitu Ki Gede Baruna!"..


Wiratama terperangah dengan semua keterangan yang di jelaskan oleh Resi Bambang Ekalaya, "Resi, bagaimanakah kau tahu tentang diriku? dan darimana kau tahu peristiwa-peristiwa yang akan terjadi?"


"Hmm...Wira, aku mempunyai Cupu Manik Astagina, yang dapat melihat sesuatu yang berada jauh dariku!" dan menurutku itu tidaklah penting, yang paling terpenting saat ini adalah Kau Wira!"..."Apakah kemampuanmu sudah cukup untuk menghentikan Huru-hara yang akan terjadi?"


Wiratama merasa resah, karena menyadari dengan kemampuannya saat ini, dia merasa belum mampu berbuat banyak.

__ADS_1


__ADS_2