Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Ombak di Parangtritis


__ADS_3

Pohon - pohon Bakau bergoyang di terpa angin pantai, terlihat Nyai Gendis sedang duduk di papan-papan kayu yang di susun menjadi kursi sederhana, di sampingnya duduk Wirayudha yang sedang termangu.


"Wira, apa yang sedang kau pikirkan?" Widayudha berpaling kepada Nyai Gendis, kemudian tersenyum "apa yang kupikirkan sepertinya sama denganmu Nyai!" kata-kata kanak-kanak yang menggoda, "apa maksudmu Wiraaa?", "Aku merindukan romo!", Wirayudha menjawab dengan singkat.

__ADS_1


Nyai Gendis membelai rambut Wirayudha, "sabarlah!, nanti sebentar lagipun ayahmu akan kembali!" saat keduanya berbincang, terlihat dua orang Pasukan Badai mengawal pimpinan kelompok telik sandi yang akan menghadap Ki Sawung Galih, sepertinya mereka terburu-buru untuk segera bisa menghadap.


Di tengah rumah, mereka duduk melingkar, Ki Bondan, Ki Seno Keling , Ki Pandawa dan Ki Sawung Galih, kali ini Ki Sawung Galih sebagai pucuk pimpinan Telik Sandi langsung menanyakan informasi yang akan di berikan anggota mereka, "Kumitir, informasi apa yang kau bawa kepada kami?" Kemudian Kumitir melaporkan situasi yang sedang berjalan di Kotaraja, "Ki, kami mendapatkan informasi mengenai Arya Permana, saat ini Arya Permana mulai menggunakan kekuatan pengawal-pengawalnya yang berasal dari kalangan pendekar, salah satu aksi yang telah di lakukannya adalah menyerang Padepokan milik Eyang Padasukma yang mengakibatkan beliau tewas, sedangkan Nini Sangga geni dapat melarikan diri". Ki Bondan Wiratama terperanjat mendengarnya, "atas dasar apa ia berani menyerang Kakang Padasukma?", "Dari telik sandi kita mengatakan Eyang Padasukma di tuduh sebagai pemberontak, dengan bukti-bukti yang sangat lemah, dia beralasan bahwa ada saksi dari prajurit yang mendampingi Anggoro Pati saat terbunuh, pemberontak tersebut menggunakan ilmu kanuragan milik Eyang Padasukma yang terkenal yaitu Selaksa Gunung". mereka menarik kesimpulan, bahwa eyang Padasukma terlibat dalam penyerangan itu".

__ADS_1


"Hmm...lanjutkan kabar yang lainnya!" Ki Bondan berusaha menahan kemarahannya mendengar kabar jika Eyang Padasukma telah terbunuh.


"Gusti muda Wiratama sepertinya sudah mengetahui hal ini Gusti!" karena Gusti Muda Wiratama terlihat oleh telik sandi kita beberapa hari berada di kediaman Panglima Mandala Putra".

__ADS_1


"Kumitir, apakah kau juga mempunyai informasi mengenai para pendekar yang tergabung di pihak Arya Permana?" Ki Pandawa mengajukan pertanyaan. "Kami mempunyainya Ki!, beberapa kami sudah mencatatnya". "Serahkan kepada Ki Sawung Galih agar Ki Sawung Galih bisa membandingkan dengan informasi yang di berikan Nyai Gendis kepada kita. Kumitir kemudian memberikannya kepada Ki Sawung Galih, "maaf Gusti Sepuh, ada satu lagi yang harus kami laporkan, dari beberapa sumber berita yang kita punyai, pendekar yang terlibat langsung dengan tewasnya Eyang Pada Sukma adalah Ki Danang Seta yang berasal dari tanah Pasundan".


Ki Bondan Wiratama mengakhiri pertemuan itu, "Kumitir tugasmu telah kau laksanakan dengan baik, tetapi masih banyak tugas-tugas yang menantimu, beristirahatlah terlebih dahulu, setelah itu secepatnya kau kembali ke kelompokmu di kotaraja, gali informasi sebanyak-banyaknya, sepertinya kita sudah dekat dengan tujuan kita untuk menjatuhkan Arya Permana", Ki Seno Keling, Ki Pandawa, dan Ki Sawung Galih selagi kita menunggu kedatangan Wiratama, tingkatkan pelatihan pasukan-pasukan kita, terutama Pasukan Badai, agar saat kita butuhkan mereka sudah siap, "Baik Gusti Sepuh, kami akan melaksanakan tugas" serentak mereka menjawab.

__ADS_1


__ADS_2