
Awan hitam yang terkena pukulan Tapak geni oleh Wirayudha menghilang, membuatnya kehilangan arah untuk mencari asal penyerang Teluh Kelabang Hitam.
Tetapi Wirayudha tidak kehilangan akal, ia kembali mencari dengan kekuatan batinnya. Tubuhnya terus melayang mengikuti naluri batinnya menuju asal segala kericuhan selama ini.
Di rumah Dewi Pramudita kini berkumpul beberapa pendekar yang memang selama ini mengabdi kepadanya. Salah satu pendekar tersebut berasal dari Blambangan yang memang sengaja di datangkan oleh Aswangga, kesaktian tokoh ini memang sudah terkenal di daerahnya, Ki Sadewo berasal dari Dusun Ronggo Jampi yang berada di Blambangan dan terkenal dengan ilmu hitamnya.
"Ki Sadewo, siapakah yang kau bawa ini?" Ki Wanara melirik kepada sosok tubuh pemuda tanggung yang di bawa Ki Sadewo. "Hmm...aku tak mengetahuinya Wanara, tetapi aku rasa dia adalah sosok penting yang berada di kediaman Panglima Mandala Putra mereka memanggilnya Wirayudha!"
Kemudian Ki Wanara dan Aswangga meneliti tubuh tersebut. "Tidak ada yang istimewa di tubuh ini Sadewo! aku kira tubuh ini seperti mayat yang masih baru", Aswangga berusaha lebih teliti menyelidiki tubuh Wirayudha. "Tapi Kakang, aku melihat sendiri dari tubuh ini keluar sosok yang sama persis dengan dirinya!" bantah Ki Sadewo.
Aswangga berdiri di depan tubuh Wirayudha, kemudian ia mengambil sebilah pedang dan meloloskan warangkanya "Haiiikh....Trang...trang....pedang tersebut di hunjamkan dan di babatkan ke tubuh Wirayudha, pedang tersebut berbalik seperti menghunjam sebuah logam yang sangat keras.
__ADS_1
"Hik...hik..hikk...percuma saja kalian mencoba menghancurkan tubuh tersebut!" dari balik ruangan, Dewi Pramudita muncul sambil ikut memperhatikan tubuh Wirayudha yang menjadi pusat perhatian semua orang yang berada di situ. "Aaihh...Nyai Dewi, ternyata kau telah pulih! Ki Wanara dan yang lainnya beringsut mundur dan memberikan ruang untuk Dewi Pramudita mendekat.
Setelah ikut meneliti tubuh itu, Dewi Pramudita kemudian memberi perintah "Wanara bawa tubuh ini ke halaman, cobalah kau bakar tubuh ini!", "Baik Nyi Dewi, Wanara dan Aswangga serta beberapa orang membawa tubuh Wirayudha keluar dan menempatkan di halaman petarangan rumah, mereka kemudian menimbunnya dengan beberapa kayu kering.
Tubuh Wirayudha yang kini tertimbun kayu-kayu kering mulai bergerak tanpa yang lain tahu, sukma Wirayudha telah kembali ke raganya dan bersiap untuk membuat kejutan kepada mereka yang berniat membakarnya.
Api dari ranting-ranting kecil mulai merambat ke tengah, mendadak sesuatu terjadi yang membuat semuanya terkejut, "Blarh...blarrh...blarh...Kayu-kayu itu beterbangan semburat ke arah manapun seiring dengan meloncatnya Wiratama ke atas.
Setelah mendarat di permukaan tanah, Wirayudha menatap tajam ke arah orang-orang di sekitarnya, "Kalian pikir begitu mudah untuk membakar tubuhku, rasakan ini!...Hiaaath...wush...wush..., Tapak geni meluncur menyasar sekitarnya...dhuaaarh...dhuaarh!...
Aswangga yang berada di samping Dewi Pramudita kemudian melesat mendekati Wirayudha, "Bocah! lancang sekali kau berani masuk sarang kami!" beberapa tusukan jarinya menuju kedua mata Wirayudha "Slaph...slaph...dengan mudah Wirayudha hanya mengelakkan kepalanya ke samping. Satu tendangan menderu dari arah bawah ke atas menuju dagu Aswangga "Hiaaath...Sraaath....walaupun serangan tersebut dapat di elakkan...tetapi membuat posisi Aswangga menjadi limbung ke belakang karena menghindar.
__ADS_1
Ki Sadewo yang melihat pertarungan, mengambil sesuatu yang mirip boneka jerami dari balik bajunya, mulutnya terlihat merapal mantera Tenung...Hggg...crap...jari-jari tangannya menusukan sebentuk jarum mengarah dada boneka jerami yang berada di telapak tangannya.
"Aaargkhhhh....Wirayudha terdorong ke belakang memegang dadanya tanpa mengetahui asal serangan yang mengenai tubuhnya.
"Hua....ha...ha..rasakan kau sekarang bocah!!!..., tawa Ki Sadewo terdengar mengejek Wirayudha. "Crash...crash...Ki Sadewo melanjutkan tusukan-tusukan jarumnya ke arah boneka jerami beberapa kali, membuat Wirayudha terpelanting kesana kemari sampai dengan berlutut, di bibirnya terlihat lelehan darah.
"Pengecut hinaaa!...rasakan pembalasanku! Brusssh....tubuh Wirayudha tenggelam di dalam tanah, sekejapan kemudian tubuh Ki Sadewo amblassh terhisap ke bawah.
Dewi Pramudita tidak hanya berdiam diri, melihat itu, kakinya di hentakan ke bumi tiga kali....Bhum...bhumm...bhummm...Tubuh Wirayudha yang sedang menenteng Ki Sadewo muncul kembali ke permukaan tanah.
Dengan amarah yang meluap, Wirayudha menendang Ki Sadewo yang dalam posisi terjungkir dengan kakinya yang berada di genggaman tangan Wirayudha "Hiaaath...Desh...desh....!!! tendangan itu mengenai kepala dan dadanya,.membuat Ki Sadewo muntah darah..."Aaarkh...
__ADS_1
"Kraaaakh....Pekikan Naga langit terdengar menggelegar membuat yang lain jatuh terduduk, kecuali Dewi Pramudita dan Aswangga yang hanya terdorong tiga tombak ke belakang.
Aswangga mencoba membongkong dari arah belakang, kepalan tangannya mencoba memukul ke arah belakang Wirayudha, dengan geram Wirayudha berbalik dan melemparkan tubuh Ki Sadewo, "Hiaaath...Desh...pukulan Aswangga mengenai tubuh rekannya sendiri, membuat tubuh Ki Sadewo terpelanting dan menggusur di tanah.