Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Suasana Mencekam di Desa Pendem


__ADS_3

Desa Pendem adalah sebuah desa yang tenteram dan damai, penduduknya ramah kepada siapa saja tanpa terkecuali kepada pendatang sekalipun, mereka pada umumnya sebagai petani, baik di sawah maupun di ladang di bawah Gunung Kemukus, karena di sana tanah begitu subur.


Satu Purnama ini situasi Desa Pendem berubah, tidak seperti biasanya. Malam-malam kini di lalui dengan keadaan yang mencekam, peristiwa tewasnya beberapa penduduk membuat penduduk lain merasa takut untuk keluar rumah.


Di sebuah rumah yang lebih besar dari pada rumah-rumah penduduk lainnya, terlihat beberapa orang sedang melakukan musyawarah mengenai situasi di desa tersebut. "Ki Lurah, sudah Tujuh orang penduduk desa kita yang sudah mati dengan ciri-ciri yang sama, apa yang harus kita lakukan lagi Ki?"


"Aku sendiri tidak tahu, apa yang terjadi dengan kampung kita", terlihat guratan di kening Ki Lurah makin nampak, terlihat dia sedang berpikir keras, "Sumantri, apakah kau bisa membantu kami untuk menyelidiki masalah ini?", terlihat Sumantri memandang Ki Lurah dengan serius, "baik Ki Lurah aku akan menyelidikinya, tetapi aku mohon bantuan warga yang lain untuk bersamaku menyelidiki masalah ini!", warga yang lainpun akhirnya menyepakati untuk menyelidiki masalah kematian warganya di bawah pimpinan Sumantri.

__ADS_1


Perlu di ketahui, Sumantri sebenarnya adalah Rangkayu, yang sebelumnya melarikan diri bersama Arya Permana, tetapi karena kehilangan jejak Junjungannya, akhirnya Rangkayu memutuskan untuk tinggal di Desa Pendem, karena berpikir mungkin saja suatu waktu Arya Permana akan turun ke desa terdekat di bawah Gunung Kemukus, dia merasa yakin bahwa Arya Permana masih berada di punggung atau puncak Gunung Kemukus.


Rangkayu seseorang yang pandai membawa diri, karena itu dengan cepat ia mendapatkan kepercayaan dan izin untuk tinggal di desa Pendem oleh Ki Lurah dan warga sekitarnya.


"Kakang Sumantri, darimana kita akan memulai penyelidikan?", salah satu pemuda di desa itu menanyakan kepada Sumantri, kemudian Sumantripun berdiri, aku memerlukan sedikitnya Empat puluh orang, yang kemudian nanti akan terbagi menjadi Empat kelompok, masing-masing beranggotakan Sepuluh orang, Setiap kelompok nanti mempunyai kewajiban untuk berpatroli di wilayahnya masing-masing, yaitu Wilayah barat, timur, utara dan selatan.


Ketika sekali waktu ada sesuatu yang mencurigakan di wilayahnya, segera laporkan kepada Ki Lurah, kalau memang peristiwa itu sangat penting dan membahayakan, kalian bisa memberikan tanda kentongan bertalu-talu, agar kelompok yang lain ataupun warga akan mengetahui jika ada bahaya yang mengancam kampung kita". Setelah musyawarah di rumah Ki Lurah selesai mereka pun bersiap untuk memulai penjagaan dan penyelidikan.

__ADS_1


Di sudut desa, tampak Arya Permana sedang mendengus kesal, "seharusnya kemarin aku sudah mendapatkan korban untuk menyeleraskan cahaya kehidupan yang ku miliki", malam ini aku harus mendapatkannya!"


Sebenarnya bisa saja Dewi Pramudita memakai tubuh para korban yang telah di hisapnya, tetapi ia ragu, karena selama di Desa Pendem, semua korbannya adalah para petani yang tidak mempunyai olah kanuragan, dan mayat-mayat merekapun sudah di temukan warga.


Kemampuan Dewi Pramudita memang telah menurun setelah tiga hari berada di kehidupan manusia, terkecuali dia sudah menghisap cahaya kehidupan dari 40 manusia, kesaktiannya akan seperti dulu lagi.


Saat ini kemampuan kanuragan, daya ingat, semuanya akan mengikuti tubuh yang dia pakai dan pikirannya sendiri. Sedangkan jika hanya mengandalkan pikirannya sendiri, Dewi Pramudita merasa belum mampu dan tidak percaya diri karena dia berasal dari kehidupan masa yang lampau, karena itulah sementara ia memutuskan masih menggunakan tubuh Arya Permana terlebih dahulu.

__ADS_1


"Hmm...laki-laki yang memimpin di depan itu, menurut daya ingat Arya Permana adalah Rangkayu dan dia salah satu bawahanku, aku harus berusaha mendekatinya tanpa warga yang lain mengetahui", sosok Arya Permana terus berpikir dan mengawasi warga yang sedang melakukan patroli keamanan.


"Akh...kenapa Tiga hari saat kemampuanku masih ada aku terlena, tidak langsung saja aku menghisap 40 warga sekaligus?"...


__ADS_2