Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Pertarungan Pendekar


__ADS_3

Eyang Padasukma melanjutkan serangan-serangan ke arah Wiratama, jari-jarinya mengarah ke seluruh tubuh untuk bermaksud melumpuhkan. sementara itu Wiratama melakukan pergeseran-pergeseran kaki guna menghindari seluruh serangan gurunya, ia hanya berusaha mengelak tanpa melakukan serangan balasan sekalipun.


"langkah-langkah apa yang dia gunakan? langkah itu tak pernah aku ajarkan padanya" sambil menyerang, eyang Padasukma membatin dalam hatinya.

__ADS_1


"Percuma saja jika aku mengunakan jurus-jurus yang biasa, kemampuannya mengalami kemajuan yang pesat" . "Hiaaath....eyang Padasukma meningkatkan kecepatan dan menambah tenaganya, kedua tangannya berkelebat susul menyusul silih berganti.


Semakin lama, eyang Padasukma semakin penasaran dengan kemampuan muridnya, tanpa dia sadari jurus-jurus dan aji-aji dahsyat mulai di lakukan, pukulan dan tendangan sudah terisi dengan aji selaksa gunung, setiap gerakannya menghasil kan tenaga yang besar, Wiratamapun semakin lama ia tak mampu hanya bertahan, sesekali melakukan serangan, walaupun serangan itu hanya di maksudkan untuk mengurangi gerakan-gerakan serangan eyang Padasukma.

__ADS_1


Ada sedikit kelemahan dari eyang Padasukma, dia adalah seseorang yang menyukai olah kanuragan, dengan sendirinya saat kemampuannya di imbangi oleh Wiratama, dia semakin senang dan akhirnya mengeluarkan seluruh segala kemampuannya. dia pun semakin lupa jika yang sedang di hadapinya adalah muridnya dan melupakan tujuan awal.


Selaksa geni mulai di keluarkan Eyang Padasukma, angin-angin serangannya terasa panas, daun-daun di pepohonan menjadi kering, dahan dan rantingnya ikut terbakar, Wiratamapun dengan terpaksa mengeluarkan Badai gunung ciremainya, panas melawan panas, setiap benturan yang mereka lakukan bukan hanya mengakibatkan suara ledakan yang besar, arena pertempuaran mereka rusak total, seperti telah terjadi pertempuran dua pasukan yang berjumlah banyak. Semua hewan - hewan yang ada di sekitarnya berlarian menyelamatkan diri, "Wiratama tak perlu kau sungkan padaku, keluarkan seluruh kemampuanmu!" setelah selesai memperingatkan Wiratama, eyang Padasukma mengatupkan kedua tangan di dada, mukanya semakin lama semakin merah kakinya pun amblas setengah depa ke tanah....Hiaaaat......blarh...blarh....."Amarah Merapi", sinar merah meluncur menuju tubuh Wiratama yang sedang mengawasi, "Argh...eyang kenapa harus seperti ini" Wiratama tahu, Aji ini adalah salah satu aji pamungkas gurunya, maka dari itu, ia pun kemudian mengeluarkan Macan lodaya, matanya berubah, kedua lengan dan wajahnya di tumbuhi bulu-bulu halus dan belang, "Graaaaumh.....graaaumh.....kedua tangan nya di angkat kedepan menyongsong sinar merah dari eyang Padasukma, kedua tangan itu melakukan gerakan kibasan ke kanan dan kiri, Eyang Padasukma terkejut, belum pernah selama ini lawannya berani menyongsong sinar aji "amarah merapi" dengan tangan telanjang. keterkejutan itu berubah menjadi kekaguman, karena tangan Wiratama berhasil memecah sinar yang menuju dirinya, "Blarh.....blarh....dhuaaarh....sinar itu beralih menghantam pepohonan, membuat pohon-pohon itu hangus terbakar dari bawah sampai ujungnya, "krakh...krakkh...dherrrh...suara tumbangnya puluhan pohon membuat eyang Padasukma semakin bersemangat menyerang.

__ADS_1


__ADS_2