Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Misi Rahasia II


__ADS_3

Setelah semuanya pergi dari hadapannya, Panglima Mandala Putra pun berseru "anakku keluarlah! untuk apa kau menguping pembicaraan kami?", Putri Retno Ningsih akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya, "maafkan aku romo!, aku tidak sengaja mendengarkan pembicaraan kalian",


"Romo, bolehkah aku mengatakan sesuatu?", "Apa yang akan kau sampaikan anakku?" Panglima Mandala Putra memandang putrinya. "Romo, kenapa kau libatkan Kangmas Wiratama dalam masalah ini? terus terang aku khawatir kepadanya romo". "Jika misi ini gagal, apa yang akan terjadi kepadanya?", Panglima Mandala Putra mencoba menghibur kegundahan hati putrinya, "percayalah anakku, Wiratama bisa menjaga dirinya dengan baik, ini adalah perjuangan melawan ke dzaliman bukan hanya masalah dendam pribadi, Pasukan Bayangan hanya dapat di pimpin olehnya untuk melaksanakan tugas dengan baik, aku harap engkau dapat memahaminya anakku!", Putri Retno Ningsih akhirnya hanya pasrah dengan keputusan ayahnya, kemudian pergi ke kamarnya untuk berdo'a demi keselamatan ayahnya dan Wiratama.


Setelah mendapatkan kabar dari telik sandi, Wiratama dan Ki Seno Keling segera berangkat menemui Ki Sampang dan Ki Wisesa, sebelumnya ia sudah mengatur strategi apa yang akan di gunakan oleh Pasukan Badai, topan dan Guntur untuk menghadapi Pasukan Arya Permana, Parangtristis sudah siap sedia hanya tinggal menunggu perintah dari Wiratama.

__ADS_1


"Dimas Wira, sesuai perintah dari Panglima Mandala Putra, untuk menyusun strategi penyerangan secara detail beliau mempercayakan kepadamu, Panglima Mandala Putra kemarinpun sudah memberikan arahan kepada kami secara garis besar, untuk pucuk pimpinan kami akan mengikuti semua arahanmu!", "Kakang Wisesa, apakah di antara Pasukan Bayangan ada yang ahli dalam persenjataan jarak jauh?", Ki Wisesa dan Ki Sampang saling berpandangan, "ada Dimas, apa yang akan kau rencanakan?", "Hmm...Kakang, misi kita hanya mengarah kepada satu orang yaitu Arya Permana, kita ketahui bersama, pastinya Arya Permana akan di kelilingi pasukannya, kita memerlukan beberapa orang yang lihai dalam menggunakan senjata rahasia atau memanah, untuk mencerai beraikan pasukan yang melindunginya".


"Ada beberapa orang di antara kita yang mempunyai keahlian itu Dimas" Ki Wisesa menyahut, kemudian Wiratama melanjutkan rencananya, "Kakang, kekuatan kita di bagi menjadi tiga, beberapa berusaha membuat pasukan mereka menjadi cerai berai, kelompok ke dua memancing pendekar-pendekar yang mendampingi Arya Permana lalai dalam mengawal Arya Permana, dan kelompok ke tiga nanti sebagai kelompok eksekusi untuk berusaha membunuh Arya Permana, setelah kelompok ke tiga berhasil, semua kelompok segera memencar untuk mengelabui arah pelarian kita".


Sesaat setelah Wiratama selesai menjelaskan posisi kelompok, Ki Sampangpun akhirnya menanyakan perihal pembagian tugas untuk perorangan, "Wira, apa yang menjadi tugasku?", Kakang Wiraguna kau nanti memimpin untuk memporak porandakan pasukan, Kakang Wisesa mengawasi jalannya pertempuran, karena nanti di khawatirkan ada pasukan yang tidak di perkirakan kita akan datang membantu, sedangkan aku dan Ki Seno Keling fokus kepada pergerakan Arya Permana. semua kelompok akan menunggu aba-aba dariku kapan akan mulai menyerang, dan kapan meninggalkan area pertempuran, titik kumpul pelarian kita nanti akan di tentukan setelah kita meninjau lokasi.

__ADS_1


Hari "H" pun tiba, dari Kotaraja pasukan yang di pimpin Arya Permana bergerak menuju Kertosono, sedangkan Pasukan Bayangan sudah tiba di Sragen untuk mengamati kekuatan jumlah Pasukan yang akan berangkat.


Sebelumnya Pasukan Topan dan Guntur sudah di siagakan oleh Ki Pandawa dan Ki Sawung Galih di daerah yang sama tetapi di tempat yang tersembunyi, sedangkan Pasukan Badai bersiap di daerah Wilangan mereka mendahului pergerakan Pasukan dari Arya Permana, mereka bertugas untuk mengikuti alur pergerakan Pasukan yang akan kembali dari Kertosono.


"Kakang Wiraguna, siapa nanti yang bertugas untuk menjadi penyerang jarak jauh?", Ki Sampang atau Tubagus Wiraguna kemudian menunjuk seseorang yang sedang mempersiapkan busur panah pada punggungnya, "Jalasena beserta lima orang yang akan melaksanakannya 'Wira!", "Bagaimana dengan kemampuan Jalasena memanah Kakang?", Wiratama mengamati Jalasena.

__ADS_1


"Jalasena kemarilah sebentar!", Ki Sampang berteriak memanggil Jalasena, "Jalasena perkenalkan ini adalah Raden Wiratama, ia adalah saudara seperguruanku". Jalasena membungkuk memperkenalkan diri kepada Wiratama, sebelumnya ia pun sudah pernah mendengar dari Ki Wisesa tentang sesosok Wiratama bekas Senopati di Mataram, "aku Jalasena raden!, suatu kebanggaan bisa berada di tengah pasukan yang di bawah naunganmu!".


__ADS_2