
Berderet di tepi Pelabuhan Tanjung Emas beberapa kapal-kapal laut yang sedang bersandar, kapal-kapal itu tidak terlalu besar, karena memang Pelabuhan Tanjung Emas saat itu termasuk Pelabuhan yang kedalamannya tidak terlalu dalam. Tetapi hal itu tidak sampai menjadikan aktifitas angkutan lautnya menjadi sepi, banyak kapal-kapal laut yang lalu lalang sebagai alat untuk pengangkut hasil bumi alam dari wilayah Jawadwipa bagian tengah ini, kapal-kapal penangkap ikan hanya sedikit yang mempergunakan Tanjung Emas ini sebagai tempat sandar.
__ADS_1
Di sanalah usaha Ki Bondan Wiratama bejalan, mengumpulkan hasil-hasil perkebunan dari para petani sekitar untuk di kirim ke daerah lain, kapal-kapal Ki Bondan bisa mencapai pelabuhan Sunda Kelapa di Jayakarta, dan Pelabuhan Trisakti di Banjarmasin.
__ADS_1
Di perairan yang tidak terlalu dekat dengan pantai ada sebuah kapal yang sedang melaksanakan lego jangkar, Kapal itu agak berbeda, tidak termasuk dalam kategori kapal pengangkut barang ataupun kapal penangkap ikan, ada bendera yang terdapat syimbol kerajaan Mataram disana. Di sisi anjungan kapal ada beberapa perempuan sedang melakukan senda gurau, mereka sambil melihat pemandangan laut yang lepas ke perairan bebas. beberapa prajurit berdiri agak jauh, terlihat seperti melakukan pengawasan dan perlindungan kepada mereka. Yaa...mereka para prajurit dari Mataram yang sedang melakukan Pengawalan terhadap Putri Retno Ningsih, Putri dari Panglima Utama Mataram Mandala putra.
__ADS_1
Cahaya matahari sedikit-sedikit mulai tenggelam, cahayanya terlihat makin redup kemerahan, seakan-akan sedih, karena akan tenggelam ke dalam lautan. gelak tawa dari penghuni Kapal itupun mulai hilang, mungkin mereka terlalu lelah bersenda gurau tiada henti, Putri Reto Ningsih, berdiri di sisi kapal, ia berpegangan di tali-tali kapal yang melintang. pandangannya mengawasi kapal-kapal yang melintas di dekat kapal yang di tumpanginya.
__ADS_1
Ada sebuah kapal pengangkut barang yang meluncur lambat di permukaan air laut, lintasan Kapal itu terlalu dekat, sehingga pengawal-pengawal berteriak menghentikan kapal tersebut. Kapal itu akhirnya berhenti, setelah di teriaki beberapa kali oleh para prajurit pengawal, para prajurit itu akhirnya melempar tali sauh, agar dapat merapatkan kapalnya dan langsung meloncat ke dalam kapal pengangkut barang tersebut. "Hai...siapa kalian berani sekali melintas terlalu dekat dengan kapal kami?" beberapa orang yang berada disitu segera menjura memberikan hormat, di tunjukan kepada para prajurit itu. "Mohon maafmu tuan, kami tidak mengetahui kalau ini rombongan dari kerajaan, kapal kami pun tak sengaja keliru mengambil baringan arah, karena Nakhoda kami masih baru, dan belum paham benar dengan kedalaman dan letak karang di perairan sini". Kemudian para prajurit itu memeriksa keadaan kapal, tidak di ketemukannya sesuatu yang mencurigakan. merekapun bermaksud untuk melepaskan kapal itu, tetapi seperti biasanya, di suatu kelompok ada yang mempunyai sikap yang lain, apalagi para prajurit yang di bawah, terkadang ada rasa kesombongan di dalam hati, dan ingin menampakan kelebihannya kepada orang lain, ada seorang prajurit yang dengan kecongkakannya berteriak, "Hei kau Nakhoda, segeralah kau turun dari anjungan!" seseorang yang sedang bertelanjang dada itupun turun, mengikuti perintah prajurit tadi. Badannya tegap rambutnya panjang sebahu dan terikat rapih. wajahnya tampan tetapi kegagahannya lebih tampak dari ketampanannya.
__ADS_1