Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Pertemuan III


__ADS_3

Belum juga Nini Sangga mengatakan sesuatu, pohon-pohon Bakau bergoyang seperti tertiup angin kencang, burung-burung kecil yang sedang hinggap beterbangan, seperti menghindari sesuatu, "Huaha...ha...ha...ha, terdengar suara tawa, suara itu berbeda dengan suara-suara yang lainnya, karena di aliri tenaga dalam yang dahsyat, terdengar sepeti gaung dan menggema, membuat semua yang berdiri menjadi gontai bergetar.


Tidak lama kemudian sesosok pria telah berdiri di dekat Ki seno Keling, tidak terlihat bayangannya sedikitpun saat dia mendekat, rambutnya panjang memakai ikatan kuda ke belakang, dan sudah bercampur warna hitam dan putih, "izinkan aku Bondan Wiratama bergabung dengan kalian", Eyang Padasukma melirik ke arah Ki Bondan Wiratama dengan tatapan kekaguman, karena ia melihat sosok Ki Bondan masih terlihat tegap dan gagah, "he...he...he, Adimas Bondan kau tiada berubah sama sekali, masih gagah seperti dahulu, berbeda denganku yang sudah bungkuk dengan tulang yang renta" eyang Padasukma menghampiri Ki Bondan dan menepuk bahunya. "He...he..he.. Kakang Padasukma, kau pun tiada berubah suaramu dan kata-katamu selalu menyenangkan yang mendengarnya.

__ADS_1


Wirayudha yang masih berada di teras rumah, memandang orang-orang di panggung lingkaran itu tidak berkedip, baru terbuka mata dan pikirannya, ternyata dunia di penuhi begitu banyak orang-orang yang mempunyai kekuatan yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Lebih dari pada itu, dari ayahnya ia pernah mendengar nama yang begitu penting di kehidupan ayahnya, orang yang berdiri di depan adalah nama yang termasuk di sebutkan, "Bondan Wiratama". Wirayudha tidak langsung turun menemui, ia masih membaca perkembangan situasi yang akan terjadi.


Nini Sangga geni tersenyum menatap Eyang Padasukma, "Kakang aku tak mengira, kita dapat berjumpa disini". Eyang Padasukma pun menimpali "Aku sengaja mengikuti kau dan muridmu dari mulai pertarungan kalian dengan Pralaya di Kotaraja, dan aku mengkhawatirkanmu, aku berniat menjemput kalian Pandanwangi!",

__ADS_1


Ki Bondan Wiratama dan Ki Seno keling memang sudah hilang rasa simpati kepada eyang Padasukma, apalagi Ki Bondan, ia mengetahui peristiwa pertarungan Eyang Padasukma dengan putranya. Pertarungan itu membuat Wiratama terluka dan membutuhkan pemulihan hingga sepekan di Alas roban.


Adimas Bondan, kata-katamu tidak ramah padaku, apakah kau melupakan jalinan persaudaraan kita?" Ki Bondan menghampiri eyang Padasukma, "akh...Kakang, mana mungkin aku melupakan jasa - jasamu dalam membimbing dan membina putraku Wiratama hingga menjadi seorang Ksatria pilih tanding, tapi hal itu bukan berarti aku membiarkan dan mengizinkanmu memperlakukan dia seperti Anjing yang harus menggonggong di belakangmu! kebenaran bukan hanya milikmu Kakang!.. Sadarlah, secara hakekat kebenaran hanya milik Sang Pencipta, jadi sadarlah, jangan kau paksakan orang lain untuk meyakini semua yang kau anggap benar!" wajah Ki Bondan merah saga tangan kanannya mendorong dada eyang Padasukma, dorongan itu bukan dorongan biasa, tetapi di aliri Ajian Bayu Saketi, eyang Padasukma yang memang tidak mengira akan di serang, terdorong lima tombak ke belakang, dia beruntung karena daya dorong itu bisa di tahan dan di redam oleh Nini Sangga geni yang sekarang berdiri di belakangnya.

__ADS_1


__ADS_2