Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Perintah Arya Permana


__ADS_3

Entah sudah berapa kali Arya Permana melakukannya, memukulkan kepalan tangannya ke telapak tangan, berdiri, duduk, kemudian berjalan berputar dan mengulanginya, semuanya hening tidak ada yang berani berbicara.


"Percuma saja aku membayar kalian dengan upah yang besar, setiap pertarungan ataupun konflik dengan pihak Mandala Putra, kita selalu saja dapat di kalahkan". "Kalian hanya sekumpulan pendekar kelas teri!', cobalah kalian ikut memikirkan apa yang sedang aku pikirkan, jangan hanya sekedar diam dan diam!"


Setelah lama semuanya terdiam, Rangkayu mencoba menenangkan Arya Permana, "mohon maaf raden!.. aku rasa tidak semua yang kita lakukan mengalami kegagalan, ada beberapa yang berhasil kita laksanakan", Arya Permana melirik ke arah Rangkayu dengan pandangan yang merendahkan, "Sebutkan tugas besar yang berhasil kalian lakukan!" Rangkayu tidak langsung menjawab, karena tidak siap dengan pertanyaan dari Arya Permana, dia tadi hanya berniat meredakan amarah Arya Permana, akhirnya dengan penuh keraguan ia pun menjawab, "Kita berhasil melakukan penyerangan ke lereng Merapi dan menewaskan Padasukma 'Raden!"


"Kau sebut itu suatu keberhasilan?" Kau bodoh sekali Rangkayu!", Delapan puluh prajuritku tewas! kau sebut itu keberhasilan?" lalu dimana kalian yang katanya para pendekar tersohor?" kalian tidak becus melakukan apapun, kecuali Danang Seta yang sekarang entah raib kemana?" "Bagaimana aku akan memenangkan persaingan ini, dan dapat menduduki jabatan Panglima Utama? di markas sendiri saja kita kecolongan!"


Setelah melepaskan semua kekesalannya, Arya Permana duduk kembali di kursinya. Ki Wanara pun mencoba memberanikan diri untuk mengajukan saran, "Raden, jika engkau berkenan, aku akan memanggil saudara angkatku berasal dari Blambangan, kebetulan ia sedang berada di rumahku saat ini, aku belum pernah menemukan kesaktian seseorang yang menyamainya, tetapi aku belum mengetahui apakah dia bersedia mengabdi disini atau tidak".


"Ki Wanara, cobalah kau jemput dia sekarang juga! aku ingin melihat kemampuannya!" "Mohon maaf raden, apakah tidak sebaiknya besok pagi saja aku membawanya kesini, karena belum ada pembicaraan di antara kami sebelumnya".

__ADS_1


Arya Permana mendengus kesal, "Huh...kau tadi memberikan saran, kemudian kau membantah!" Apa yang kau inginkan Wanara?" Ki Wanara terkejut melihat kemarahan Arya Permana yang di tunjukan kepadanya, "baiklah raden, aku akan menjemputnya sekarang", Ki Wanarapun beranjak pergi dengan terburu-buru.


Para pendekar yang berada di depan Arya Permana tidak ada yang meninggalkan pertemuan itu, mereka sebenarnya merasa kesal dengan kemarahan Arya Permana, mereka tidak mempunyai loyalitas yang tinggi seperti para prajurit, apalagi kebanyakan dari golongan hitam, yang terbiasa dengan kehidupan yang bebas, hanya karena mereka di berikan berbagai fasilitas dan uang, akhirnya tetap bertahan. Beberapa yang mempunyai kanuragan yang tinggi tanpa ada kesepakatan dengan yang lain, berencana akan memberikan pelajaran yang keras kepada siapapun nanti yang di bawa Ki Wanara, jika perlu mereka akan membunuhnya untuk menunjukan kepada Arya Permana, agar tidak terlalu meremehkan kemampuan mereka.


Waktu terus berjalan, Arya Permana mulai marah kembali, karena lama menunggu dan akan meninggalkan ruang pertemuan tersebut. Tetapi setelah pandangannya menangkap sesosok Ki Wanara dan pria lain, Arya Permana duduk kembali.


Ki Wanara langsung menghadap kedepan bersama saudaranya "Raden ini lah saudara angkatku, namanya Kakang Aswangga berasal dari Blambangan".


"Hmm...apakah kau mempunyai ilmu kanuragan?" pandangan Arya Permana dan yang lainnya merendahkan kepada pria yang di bawa Ki Wanara, karena melihat dari penampilan saja tidak meyakinkan, hanya terlihat wajah tuanya begitu angkuh.


"Ha...ha..ha, Kanuraganku raden? aku sepertinyan sudah lupa!ntapi aku akan ingat saat ada orang yang menyerangku", "he..he..he",... Suaranya sangat terdengar tak enak di telinga siapapun.

__ADS_1


"Aku suka dengan caramu bicara Pak tua..plok...plok...plok...Para pendekar yang berada di situ kemudian membentuk lingkaran, dan mengelilingi Aswangga, karena Ki Wanara sendiri telah mundur setelah melihat seluruhnya membentuk kalangan untuk uji kanuragan.


"Srattth....srath....Arya Permana melemparkan dua pisau kecil sebagai senjata rahasia mengarah ke kepala Aswangga, pisau itu meluncur cepat, terlihat Aswangga tidak melakukan gerakan apapun, membuat yang lain menahan nafas, karena pasti dua pisau itu akan menancap dengan tepat, "Kakang!", terdengar teriakan Ki Wanara memperingatkan kepadanya, tetapi Aswangga tetap tenang, "trang..trang...pisau kecil itu dengan tepat mengenai kening dan lehernya, pisau'pisau itu terpental seperti mengenai benda keras dan terjatuh ke bawah, "he..he..he, ini mainan saat aku bayi masih merangkak 'raden!" ucapan tawanya penuh ejekan.


"Ha..ha..ha, ternyata kau mempunyai kemampuan Pak tua!" yang lain silahkan yang akan mencoba Aswangga ini!", Aswangga menatap sekelilingnya "tunggu jangan menyerangku dulu!...apa yang kalian inginkan dariku?" kalian menginginkan Jantungku?" tunggu sebentar!" semua yang telah bersiap menyerang akhirnya menahan diri, dan memperhatikan apa yang di lakukan Aswangga.


Aswangga mengambil pedang Ki Wanara dari punggungnya, hanya dengan menarik telapak tangannya dari jauh "Haiik...srapph...pedang itu terbang, seolah ada besi berani yang menariknya, kemudian di genggam oleh Aswangga.


"Raden, pisau yang kau gunakan tadi tidak terlalu tajam, lihat! pedang Wanara ini bagus, dan sepertinya lebih tajam". "Haiiikh.....bresh....,Arya Permana kaget sampai dia terjengkang dari kursinya, pedang itu menusuk antara dada dan pusar Aswangga, darahnya mengalir membasahi baju dan menetes ke bawah, ..tetapi posisi Aswangga masih berdiri dan wajahnya menyeringgai mengerikan "Apa yang kau inginkan?" aku akan mengambilnya sendiri!" tangannya masuk ke dalam luka akibat tusukan pedang tadi. gumpalan daging yang berlumuran darah ia keluarkan dan menyodorkan ke wajah Arya Permana, "Aaaarkkkh....Arya Permana melompat mundur ke belakang ketakutan.


"Ha...ha...ha, siapa yang menginginkan jantungku?" Para pendekar yang tadi bersiap akan menyerang, beringsut mundur seluruhnya, mereka merasa ngeri dan ngilu,

__ADS_1


dengan pemandangan yang ada di depannya.


Aswangga kemudian memasukan kembali gumpalan daging yang berlumuran darah itu kembali ke dalam rongga perutnya, "cuuh...ia meludahi telapak tangannya dan mengusapkannya di bekas luka tersebut, luka itu menutup kembali tidak meninggalkan bekas.


__ADS_2