
Setelah semuanya sampai di bukit Gupit, sambil tersenyum Wiratama berkata kepada putranya "Wira, romo lihat selama ini kau sudah rajin berlatih, romo ingin tahu kepandaian yang sudah kau capai", "Nini Sangga geni pun sudah bercerita kepada romo, bahwa saat ini kau sudah menguasai Aji dari ke-3 lembaran yang berasal dari Kitab Candra Surya".
Wirayudha yang melihat senyum ayahnya, menjadi senang, dan bertekad akan mempertunjukan sesuatu yang paling hebat yang dia miliki, "baik romo, lihatlah!" kemudian tubuhnya berputar seperti gasing, "Whesss....sebentar kemudian menghilang, muncul kembali di belakang Wiratama, secara acak Wirayudha hilang dan menampakan diri di beberapa tempat, di belakang Nini Sangga geni, kemudian di depan Ki Bondan, kembali di depan Wiratama, "Nini Sangga geni kemudian menerka bahwa Wirayudha menggunakan Aji Halimun yang sudah mencapai tingkat tinggi, "Wira, Apakah Aji Halimun yang kau pergunakan?", "Benar Nini, aku menggabungkannya dengan Menjangan Kabut".
Nini Sangga geni tersenyum senang, melihat kemampuan Aji Halimun yang di lakukan Wirayudha, "cobalah yang lainnya Wirayudha!", Wirayudha kemudian berdiri di tengah - tengah mereka, ia bersiap mempertontonkan kemampuan yang lainnya.
"Wira, cobalah kau terima serangan dari romo!"..."Hiaaaath, Wiratama memukul secara beruntun ke arah tubuh Wirayudha...Splash...plash...pukulan itu menerpa udara kosong, kemudian Wirayudha memecah menjadi tujuh bagian yang sama persis dengan dirinya, mengelilingi Wiratama, "ilmu apalagi yang kau pergunakan "Wira?" Ki Bondan berteriak dari samping, "Aku mempergunakan Aji Tubuh bayangan Dewa milik Ki Sawung Galih eyang!". Tubuh Wirayudha kemudian menyatu kembali, Dia memasang kuda - kuda yang kokoh dan meloncat di udara berjumpalitan, saat di udara tangannya di kembangkan seperti sayap burung, kemudian tangan itu menguncup ke depan mengarah ke pohon yang paling besar "Hiaaaaath "Bayuu Saketiii!!!....dhuaaarh...dhuaaarh...bergelombang cahaya keluar dari kedua tangannya menabrak pohon besar itu menjadi hancur.
__ADS_1
Ki Bondan Wiratama berdecak kagum melihat Aji Bayu Saketi yang di peragakan Wirayudha, karena dia sendiri yang mengajari Ajian itu kepada Wirayudha belum tentu bisa sedahsyat yang di peragakan Wirayudha "Ngger kau sangat hebat!"....
Wirayudha melangkah Sepuluh langkah ke depan dengan mempergunakan Aji Selaksa Gunung "Dhum...dhum...dhumm, Bukit Gupit seperti terkena gempa, bergetar dan seluruh pepohonan bergoyang keras sampai-sampai burung-burung terbang dan binatang yang lain berlomba berlari menuruni Bukit Gupit.
Wiratama, Ki Bondan beserta Nini Sangga geni hanya terus menerus di buat terperangah dengan apa yang mereka saksikan.
"Wira, bersiaplah kami bertiga akan menguji kedigjayaanmu yang sebenarnya, bertiga tokoh sakti itu mengelilingi Wirayudha dan mulai melancarkan ilmu-ilmu kedigjayaannya masing-masing untuk menyerang Wirayudha.
__ADS_1
Wiratama yang merasa penasaran meloloskan Tombak pendeknya, kemudian di putar dengan tenaga dalam sepenuhnya, tombak itu berubah menjadi sinar gelap dan mengeluarkan dengung seperti ratusan lebah...Gauuungggh...Nggghhhhs...."Hiaaaat, Tombak itu meluncur dengan kecepatan tinggi menerobos cahaya biru yang menyelimuti tubuh Wirayudha, "Bhummm....bhummm, tepat mengenai dada Wirayudha.
Wirayudha berteriak dengan lengkingan panjang, "Graaaakh.....Kraaaaakh......."Dhuaaaarh..tubuh Wiratama terpental berjumpalitan ke belakang, sedangkan Wirayudha hanya tergeser tiga tombak ke belakang.
Tombak pendek dalam genggaman Wiratama terlepas karena terasa panas, seakan tombak itu berubah menjadi besi yang panas membara akibat benturan.
"Eyang, ini adalah Aji lembaran ke-3!, Wirayudha mengentakan kaki kanannya ke bawah, kemudian tubuhnya amblas ke dalam tanah, tanah tempat berpijak tadi berlubang dan berdebu, Ki Bondan merasa terkejut saat kedua kakinya seperti terhisap ke dalam tanah, "Haakhhh...tembus bumi" Ki Bondan berusaha menarik kakinya yang amblas sampai tinggi dadanya, ia pun kemudian menghentakan kedua tangannya ke permukaan tanah, tubuhnya mencelat dan menapak kembali di permukaan tanah.
__ADS_1
Tidak lama kemudian terlihat di depan Wiratama, permukaan tanah itu ambrol dan terlempar ke atas di iringi tubuh Wirayudha yang meloncat dari dalam tanah, melenting dan hinggap di dahan pohon.
"Hua...ha...ha, tak disangka cucuku menjadi pendekar pilih tanding" terdengar teriakan Ki Bondan Wiratama tertawa senang. kedua tangannya mengembang menyambut Wirayudha yang melompat dan kemudian memeluk kakeknya. Wiratama dan Nini Sangga geni masih terpaku di tempatnya dengan pandangan terpukau, Wiratama hanya bergumam "ilmu-ilmu yang menyertainya saja sudah seperti ini!, bagaimana dengan "Naga langit dan Rogo Sukmo", aku tidak bisa membayangkannya".