
Wiratama menundukan kepalanya saat mendengar Panglima Mandala Putra berbicara, terlalu sulit untuk menyanggah apa yang di ucapkannya. "Hamba dapat merasakan apa yang sedang di alami Gusti, tetapi apakah benar, sebegitu berharganya seorang Wiratama untuk Nimas Retno?"
"Wira, kita sudah banyak menghadapi pertempuran, resiko hidup dan mati sering kita hadapi, apakah menurutmu aku melakukan ini tidak cukup untuk meyakinkanmu?, harga diri bagi seorang prajurit adalah segalanya, tetapi demi kebahagiaan putriku, aku telah menggadaikan harga diriku kepadamu".
"Apakah di hatimu masih ada perasaan cinta untuk putriku 'Wira?" Panglima Mandala Putra menatap wajah Wiratama. Wiratama terdiam, mulutnya seperti terkunci tidak dapat menjawab sedikitpun.
"Ha...ha...ha, Wira!....Wira!..., ternyata kau mempunyai sisi kelemahan juga, baru pertama kali aku melihat wajahmu begitu pucat pasi seperti ini", aku tak pernah melihat wajahmu seperti ini di dalam pertempuran manapun Wira!"...apakah begitu sulit menjawab pertanyaanku?"
"Mohon maaf Gusti, jawaban dari pertanyaan Gusti tidak sederhana, Panglima Mandala Putra tersenyum "sesulit apapun, aku menunggu jawabanmu?"
__ADS_1
"Baiklah Gusti, hamba memang mencintai Nimas Retno dengan segenap hati, pun sampai dengan sekarang hamba tetap tidak dapat menghilangkannya, tetapi hamba tidak mungkin mendampinginya kembali".
"Apa alasanmu Wira?" jangan katakan kalau kau sekarang bukan siapa - siapa lagi, dan kau khawatir tidak dapat membahagiakan putriku", Wiratama terhenyak, karena memang alasan itu yang akan dia ungkapkan untuk menyembunyikan alasan yang sebenarnya
"Katakan sesuai dengan hatimu 'Wira!"
Setelah menghirup nafas untuk menenangkan dirinya Wiratamapun berkata "hamba akan mengatakan sejujurnya Gusti, sampai dengan sekarang hamba menaruh kekecewaan kepada Nimas Retno, Kepercayaan dan kesetiaan tidak dapat hamba peroleh darinya, disaat hamba terpuruk dan terhina, Nimas Retno ikut meninggalkanku dan lebih mempercayai orang lain", itu yang menghalangi keinginanku bersamanya kembali". Wiratama kembali menunjukan wajah kesedihannya, saat teringat masa-masa sulit yang dia alami dulu.
"Kau hanya menilai putriku hanya sebagai seorang kekasih, yang merasa di khianati, cobalah kau menilai dia sebagai seorang Senopati!" dia meninggalkan dirimu saat kau di cap sebagai seorang pengkhianat bangsa, putriku lebih memilih setia kepada tanah airnya, walaupun mengorbankan perasaan cintanya padamu!"
__ADS_1
Wiratama duduk termenung, tetapi kemudian ia mencoba melontarkan pertanyaan yang selama ini mengganjal di hatinya, "mohon maafkan hamba Gusti, kenapa Nimas Retno lebih mempercayai kabar yang beredar daripada mempercayaiku?", "Wira, untuk mendapatkan kepercayaan tidak hanya dengan perasaan cinta, tetapi harus dengan memakai logika! Apakah saat itu kau berusaha membuktikan kebenaran posisimu bukan sebagai seorang pengkhianat?" mengapa kau mengalah, dengan tetap membiarkan kabar itu beredar luas?, aku saja sebagai seorang Panglima, mengetahui kebenaran tentangmu setelah waktu yang membuktikan, bukan karena kau yang berjuang untuk membuktikan kebenaranmu! Aku tahu alasanmu pergi untuk menghindari pertumpahan darah, tetapi itu masalah lain, kau mengabaikan Putriku dengan tidak memberikan bukti dan penjelasan agar dia bisa mempercayaimu!"
"Wira, aku harus memberikan penjelasan ini bukan untuk memaksamu, kesetiaan cintanya padamu tidak di ragukan lagi, sampai detik ini dia tidak pernah dapat berpaling darimu". kemudian Panglima Mandala Putra keluar meninggalkan Wiratama sendiri di ruangan itu.
Wiratama terdiam, memikirkan kembali kata-kata yang di sampaikan Panglima Mandala Putra tadi, pemahamannya mulai goyah, dan mulai mempercayai kebenaran apa yang tadi di ucapkan oleh Panglima Mandala Putra. Wiratama menyandarkan punggungnya di kursi, diam dan termenung seorang diri.
Setelah lama kemudian, Panglima Mandala Putra kembali membawa sebuah sebuah bungkusan, "Wira, serahkan ini kepada putriku, katakan kalau ini adalah hadiah darimu!"... ingat kau tadi sudah berjanji menyanggupi permintaanku, aku hanya menginginkan kebahagiannya, dia sekarang berada di taman pendopo depan, temuilah...dan jangan katakan sesuatupun tentang diriku!"
Wiratama dengan segala kebingungannya, menerima bungkusan itu, dan memasukan ke balik pakaiannya, "hamba undur diri Gusti, Wiratama kemudian menjura memberikan penghormatan, dan berjalan menuju taman pendopo depan.
__ADS_1
Sesampainya disana, terlihat Putri Retno yang sedang duduk di taman, Paras ayu itu terlihat kurus, matanya menatap ke arah gerbang pendopo dengan tatapan kosong.
Wiratama perlahan mendekat, saat jarak satu tombak berada di belakangnya, Putri Retno Ningsih tetap tidak menyadari kehadirannya, Nimas!...bagaimanakah kabarmu?...apakah engkau baik-baik saja?".