
Wirayudha mundur ke belakang bersama Nini Sangga geni dan Nyai Gendis yang masih memakai rupa samarannya.
Tombak Wiratama berkelebat berusaha menusuk tubuh Dewi Pramudita, dengan gesit Dewi Pramudita mengelak dan menangkis mata tombak itu sehingga lolos dari serangan.
Tubuh Wiratama berbalik ia meloncat dengan tenaga dalam penuh menyerbu kembali dengan pukulan Badai gunung Ciremai...."Hiaaaath...Blarh...Blarrh..!!!
Dewi Pramudita tersurut mundur "Kakang kau terlalu memaksakan diri, ikutlah denganku atau terpaksa kau akan menungguku di akhirat!"
Tujuh Macan Lodaya menyerang bersama-sama, kaki mereka berserabutan dan berebut untuk mencingcang tubuh Dewi Pramudita..."Graaaaumh....Grrrrh....
Dewi Pramudita mengangkat kedua tangannya mengarah ke langit..."Kraaaakh...!!! dari tubuhnya keluar asap hitam menggumpal dan memendar dengan keras ke sekeliling...Bhummm...Bhummmh...Grrauuumh...Macan Lodaya terpelanting jatuh berdebum ke tanah...
Lesatan bayangan Wiratama menyerang Dewi Pramudita, ujung tombak mengarah kepalanya, "Hiaaaath...Wuuugh....Wuugh..!
Dewi Pramudita meloncat ke atas dengan bersalto, dalam posisi kepala di bawah, tangannya dengan cepat memukul pergelangan Wiratama di lanjutkan mencengkeram batang tombak....Wuuugh....Desssh...Tombak Wiratama terpental kemudian di sambar oleh Dewi Pramudita.
"Hikh...hikh..hikh...apa lagi yang akan kau andalkan Kakang! menyerahlah!"
__ADS_1
"Lebih baik aku mati berkalang tanah!" Wiratama kembali mencoba menyerang dengan "Badai Gunung Ciremai" dengan kekuatan penuh "Hiaaaaath.....Dhuaaaarh!....Dhuaaarh!...kekuatan Wiratama telah sampai batas...tubuhnya terlempar jauh, tertelungkup memuntahkan darah segar..."hooekh..!"
Melihat keadaan Wiratama, Nyai Gendis meloncat dan memeluknya "Kangmas!...
Wirayudha berteriak dengan keras..."Kraaaakh, perubahan terjadi pada seluruh tubuhnya, wajah Wirayudha kini terbungkus sisik-sisik ular, tubuhnya di selimuti cahaya biru, "Dhuaaarh...dhuaaarh....Cakar Naga langit memebelah tanah mengejar tubuh Dewi Pramudita...Blarrrh...Blaaarh...!
Tanah bergetar, pohon-pohon bergoyang kencang, tangan Wirayudha menjulur panjang mengejar tubuh Dewi Pramudita yang terus berkelit.
Nyai Gendis menangis saat melihat Wiratama terlentang sambil terus memuntahkan darah, amarahnya meluap, rupa samarannya telah terlepas. dengan amarah yang membara kedua tangannya telah menghunus kedua pedang.
"Aku tidak akan melepaskan jiwamu ibliss!!!" kakinya menolak tanah dengan keras, kini tubuhnya melesat dengan cepat sambil menusukan kedua pedang..."Sraaaakhh..!!!
Tubuh Nyai Gendis yang sedang meluncur, di sambut dengan tikaman tombak oleh Dewi Pramudita...Sraaakh.....braaaaskh...!!!..."Aaarrrkkkh....
Nyai Gendis tersungkur dengan dada yang masih tertancap oleh mata tombak, berguling-guling dan berhenti setelah membentur tubuh Wiratama.
Begitu pula tubuh Dewi Pramudita, mencelat ke atas terkena sambaran kaki Wirayudha yang kerasss...."Braaaakh.....Aaarkkkh...
__ADS_1
Tubuh Dewi Pramudita di sambar oleh gerombolan Kalong- kalong hitam dan membawanya terbang tinggi menjauhi arena pertempuran. Wajah Wirayudha mengelam membesi, memandangi tubuh Dewi Pramudita yang di bawa menghilang di kegelapan malam.
"Nyai!...Nyaiii!...Wiratama memeluk tubuh Nyai Gendis dengan erat, pandangan Nyai Gendis telah samar suaranya pun hanya terdengar perlahan "Kangmas, kebersamaan kita hanya sampai di sini, jangan sesali!...aku bahagia sampai ujung hayatku masih dalam pelukanmu...Uuukghhh...ukkkgh...kepala Nyai Gendis tergolek dalam pelukan Wiratama.
Wiratama hanya memejamkan matanya, tanpa isak dan tangis, kemudian berusaha berdiri dan membawa Nyai Gendis dalam pelukannya, setelah pandangannya berkeliling menatap satu persatu...kaki Wiratama melangkah perlahan di iringi ke tujuh Harimaunya yang telah pulih.
"Berikan aku sedikit waktu untuk bersamanya!"...
Wirayudha dan yang lain hanya menunduk, berusaha ikut merasakan kesedihan bekas Senopati itu.
Berbeda dengan Nini Sangga geni, ia tidak bisa menahan kesedihan hatinya, air matanya bercucuran menatap kepergian Wiratama.
Ki Wisesa, Raden Gilang dan Raden Sangaji pun tidak berusaha mencegah kepergian Wiratama, hanya dengan sekali melihat, mereka tahu...Wiratama dalam kesedihan yang dalam..sehingga sudah tidak mampu lagi meneteskan air matanya.
Wiratama kemudian berlari menembus kegelapan malam sambil memeluk tubuh Nyai Gendis dengan erat, entah kemana tujuan dia berlari.....
Situasi Kotaraja kembali hening, langit masih tertutup awan hitam. Para prajurit yang tersisa kemudian berusaha mencari dan membawa rekan-rekan seperjuangannya yang telah tewas kembali ke markasnya.
__ADS_1
"Pembaca setia, selamat berlibur...Semoga selalu di berikan kesehatan dan keselamatan oleh Tuhan yang maha Pengasih...."