Badai Di Gunung Ciremai

Badai Di Gunung Ciremai
Raden Sangaji


__ADS_3

Pasca peristiwa kericuhan yang di timbulkan Dewi Pramudita, situasi Kotaraja telah kondusif dan aman, tetapi situasi tersebut tidak berlaku di kediaman Panglima Utama Mandala Putra.


Sepeninggal Putri Reno Ningsih, Panglima Mandala Putra masih terbebani, Ki Wisesa maupun Ki Sampang sampai dengan saat ini belum mendapatkan informasi tentang keberadaan Putri Retno Ningsih.


Hari ini ada pertemuan antara Panglima Utama dengan kedua Panglima Muda, Raden Sangaji dan Raden Gilang Seta, mereka sedang membahas situasi yang berkembang seputar informasi mengenai Pulau Nusakambangan yang sedang santer.


"Sangaji, informasi apa yang telah kau dapatkan tentang Nusakambangan?"...Panglima Utama Mandala Putra membuka pembicaraan dengan kedua bawahannya.


Raden Sangaji melaporkan situasi terkini yang di dapat "Gusti Panglima, sesuai dengan laporan dari Telik Sandi kita, di Pulau Donan atau Nusakambangan ada konsentrasi terkumpulnya para pendekar di sana, informasi yang beredar di lapangan, saat ini banyak para pendekar dari golongan hitam untuk masuk ke dalam sebuah kelompok perompak yang di pimpin oleh seorang yang Digjaya dalam hal kesaktian.


Tetapi kami juga memperoleh informasi dari telik sandi kita, bahwa terkumpulnya para pendekar dari golongan hitam, bukan hanya semata-mata untuk bergabung dengan para perompak, kepentingan mereka yang lebih utama adalah memperebutkan sebuah tanaman langka yang sangat berkhasiat baik untuk pengobatan maupun untuk meningkatkan kemampuan kanuragan.


"Apa yang mereka cari?" Panglima Mandala Putra mulai tertarik dengan pembahasan dari Raden Sangaji.

__ADS_1


"Kembang Wijaya kusuma, Gusti!, tapi kami tidak mempunyai informasi yang lengkap tentang Kembang Wijaya Kusuma itu".


"Sangaji, kita perlu untuk mengetahui situasi yang berkembang di sana secara lengkap, sekaligus berusaha meredam jika ada yang sekiranya bisa mengganggu stabilitas keamanan Mataram. "Bagaimana menurut kalian berdua?" Mandala Putra meminta pendapat dari Raden Sangaji dan Raden Gilang Seta.


"Mohon Izin Gusti...menurut pendapat kami, benar apa yang di sampaikan oleh Gusti Panglima! salah satu dari kami harus kesana, untuk memastikan keamanan Pulau Donan, Raden Gilang Seta mengemukakan pendapatnya.


"Hmm...kalau begitu, aku perintahkan kau Sangaji untuk kesana bersama beberapa pasukan yang terpilih, jika memang keadaan sangat mendesak, aku berikan kau kewenangan untuk bertindak tegas! sementara itu kau Gilang Seta, tetap bertugas untuk menjaga keamanan Kotaraja!"


Raden Sangaji berangkat bersama Pasukan Bayangan yang di pilih sendiri olehnya dengan arahan dari Panglima Utama Mandala Putra, salah satu yang ikut adalah Jalasena yang memang sudah banyak makan asam garam pertempuran.


Keesokan harinya, Raden Sangaji dan beberapa prajurit dari pasukan bayangan mulai bergerak meninggalkan Kotaraja, penampilan mereka berubah, karena tidak memakai seragam ke prajuritan, pakaian yang di kenakan umum yang di pakai para pendekar di dunia persilatan.


Penampilan mereka di sesuaikan dengan misi yang di emban, pergerakan yang bukan untuk pertempuran terbuka, lagi pula prajurit yang mereka bawapun terbatas, tidak dalam jumlah yang besar.

__ADS_1


Perjalanan mereka tidak di lakukan dengan tergesa, rombongan itu di bagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama yang berada di depan di pimpin oleh Jalasena, sedangkan Raden Sangaji memimpin kelompok yang berada di belakangnya.


Di dalam kelompok yang di pimpin oleh Raden Sangaji, ternyata putranya di ikut sertakan, karena dia bertujuan untuk memberi pengalaman keluar kepada Wisnu Wardhana. Terlihat mereka terlibat dalam perbincangan.


"Wisnu, beberapa hari ini romo perhatikan kau selalu menyendiri, ada apakah gerangan?" Raden Sangaji mengajak berbincang Wisnu Wardhana.


"Tidak ada romo, aku hanya sedang merasa jenuh saja dengan keramaian", kilah Wisnu, "Kau seorang putra Panglima Muda di Mataram, segala tindak tandukmu akan menjadi perhatian orang lain, romo tahu, sikap dan perilakumu sangat baik dan menjadi kebanggaan romo serta keluarga, hanya romo ingin mengingatkan, kau harus memilah dalam pergaulan.


"Romo sengaja mengajakmu turut serta dalam misi ini, agar kau dapat menimba pengalaman di luar, tetapi yang lebih penting agar kau mengetahui segala bentuk tipu daya di luaran ini, karena tidak semua orang mempergunakan cara yang lurus untuk mendapatkan apa yang ingin mereka Citakan!"


Wisnu Wardhana mengangguk pelan, "terimakasih romo, atas segala perhatian dan kepercayaanmu kepadaku! aku akan selalu mengingat segala pesan romo.


Lain di mulut tetapi lain juga di hati, seperti yang saat ini Wisnu Wardhana rasakan, di pikirannya masih terbebani peristiwa sengketa dengan Rengganis, dan yang paling dia takutkan, saat berguru kepada Nyai Ambarukmo, Wisnu Wardhana tidak izin kepada Ayahandanya. Bayangan-bayangan dan prediksi buruk membayang di kelopak matanya saat seorang diri. Dia khawatir dengan efek yang di timbulkan karena sengketa itu.

__ADS_1


__ADS_2