
Semua mata memandang kedatangan Wiratama, baik dari pihak Camar Iblis maupun Empat Begal dari Jambusari, "Keparat! siapa kau yang mencampuri urusan kami?" kawan pria dari Camar iblis mendekat ke arah Wiratama.
"Kakang, dia yang telah membunuh Kakang Camar Merah!.. Wanita pasangan Camar Iblis yang masih mengenali Wiratama kemudian ikut mendekat.
Brajanata, Somantara dan dua rekannya tidak ikut bergerak mendekat, mereka membaca situasi yang sedang berlangsung.
Wiratama tidak mengatakan apapun, tetapi tubuhnya sudah bersiaga untuk melakukan pertempuran.
"Hei bisu! kau tidak mau mengatakan apapun? baiklah akan ku paksa mulutmu berteriak!" kekesalan dirinya di limpahkan kepada Wiratama, karena sebelumnya dia belum mampu menjatuhkan Brajanata maupun Somantara.
"Hiaaaat.....wush...wush...telapak tangan yang membara meluruk mengejar tubuh Wiratama, beberapa kali pukulan dengan mudah di hindari Wiratama. Kecepatan Menjangan Kabut miliknya masih belum tertandingi, tubuh Wiratama dengan mudah berpindah tempat. Desingan pukulan dan tendangan susul menyusul di lakukan untuk merobohkan Wiratama.
"Cukup Kisanak! aku sudah memberikan kesempatan kepadamu terlalu lama! ternyata aku tidak membutuhkan Tombak ini."
Wiratama memasukan tombak pendeknya ke balik punggung, "Grrrrh!"....kedua tangan bersilang di dada, kuku jari-jari tangannya mencuat tajam melengkung. "Kraaaagh
....suara geraman dan auman terdengar menggetarkan sekitar. "Wukkkh...wukh....kedua tangannya berkelebat mencabik...Crash...crash! membeset lengan dan tubuh lawannya, darah kemudian bercucuran, "Aaaakh ...erangan kesakitan terdengar dari lawan Wiratama
__ADS_1
Sebelum roboh, tubuhnya di sambar oleh Wiratama dan di angkat ke atas, di cengkeramnya leher itu sampai terputus, kepalanya mengelinding ke tanah, sisa tubuh itu bersimbah darah dari bekas leher yang terpotong.
"Siapa di antara kalian yang ingin menyusul?" tatapan tajam mata Wiratama membuat nyali yang lain menjadi ciut dan jatuh.
Setelah melempar tubuh rekan dari Camar iblis, satu tangan kanannya di angkat ke atas..."Hiaaat...dhuaarh...dhuarrh...tepat mengenai dada wanita Camar iblis...membuat tubuhnya terlempar dan berdebum ke tanah dalam keadaan gosong dan terbakar.
Brajanata, Somantara dan yang lain telah hilang sama sekali keberaniannya. "Pendekar! kami bukan dari golongan mereka, berikanlah kami ampunanmu!" Brajanata selaku yang tertua langsung mendekat dan menjura kepada Wiratama.
"Apa yang kalian perbincangkan sebelum perkelahian, aku sudah mendengarkan! Kalian tunggu sampai pagi, setelah itu kita berangkat bersama menuju Nusa kambangan!"
Di saat badannya tegak kembali, Brajanata terkejut, tanpa dia dengar sedikitpun suara, kini Wiratama telah berada sangat dekat dengan dirinya..."Srrrph..sekali bergerak leher Brajanata telah terkunci oleh cengkraman Wiratama, ke lima kukunya menancap agak dalam. "Kisanak aku mendengar kata hatimu! sampai kau memghianatiku! akan ku cincang tubuhmu dan ku jadikan makanan anjing-anjing hutan!"
"Dheg...betapa terkejutnya Brajanata dan yang lain mendengar perkataan Wiratama, ternyata apa yang di dalam pikiran mereka di ketahui olehnya.
Dengan suara bergetar, mereka menghiba dengan penuh ketakutan "Akkh...Tuan Pendekar ampuni kami! kami tidak melihat ada gunung di depan mata! kami akan tunduk dengan segala perintahmu!"
Wiratama melepas cengkeramannya kemudian berbalik dan kembali masuk ke gubuk warga pedukuhan.
__ADS_1
Brajanata dan yang lain hanya memandanginya dengan tidak berkesip, kemudian merekapun mencari tempat peristirahatan untuk menunggu fajar tiba.
Ada banyak perubahan dari Wiratama yang sekarang, tutur katanya singkat, wajahnya memancarkan kesenduan dan kebengisan, cenderung malas untuk berbicara.
Empat begal dari Jambusari beristirahat di bawah pohon, mereka membuat api unggun untuk menghangatkan diri, setelah lama saling berdiam, akhirnya Somantara kembali mengajak kakak seperguruannya berbicara.
"Kakang, apakah kita tidak keliru mengikuti manusia siluman itu?"
Brajanata melirik Somantara, "apakah kau mempunyai saran yang lain Soma? apakah kita mempunyai cukup kepandaian untuk melarikan diri darinya?"
Somantara terdiam mendengar pertanyaan dari Brajanata.
"Apakah kalian berdua mempunyai saran?" pandangan Brajanata beralih kepada Bayunata dan Suryanata. Bayunata hanya menjawab pendek "Tidak Kakang!"
Sambil menggores goreskan ranting di tanah, Brajanata berbisik kepada adik-adik seperguruannya "aku merasakan kekuatan yang tersembunyi dari dirinya! kepandaiannya jauh dari yang kita lihat sekarang ini, tidak ada salahnya kita mengikuti langkahnya, siapa tahu dia mau mengajarkan kemampuannya kepada kita!"
Sementara itu Wiratama telah merebahkan kembali tubuhnya di tikar pandan, tatapan matanya menerawang, melihat atap gubuk dengan pandangan kosong.
__ADS_1